A Hollow Gift

R.J. Agathias
Chapter #2

Bab 02 - Adaptasi

Barak Pelatihan, Langkarsa - Sepuluh Tahun Lalu

 

Aiman terbangun dengan mata merah dan tubuh basah keringat. Langit-langit ruangan berlapis seng itu dingin dan memantulkan bayangannya sendiri yang gemetar. Setiap malam di barak ini, mimpi buruk menjadi rutinitas yang tak pernah terlambat datang.

Dia meremas sudut kasur kasar tempat ia tidur. Bukan karena kerasnya pelatihan, bukan pula teriakan para pelatih berseragam yang selalu meninggikan nada suara. Namun, karena benda-benda mati di barak ini bicara padanya, bukan dengan suara, melainkan dengan gambaran. Bayangan. Fragmen masa lalu.

Aiman pernah menyentuh gagang pintu ruang persenjataan dan seketika tubuhnya bergetar menyaksikan seseorang mengendap masuk lalu mencuri peluru tajam. Pernah juga duduk di bangku kayu dekat lapangan dan tiba-tiba matanya menyaksikan potongan masa lalu: dua taruna berkelahi dan salah satu terjatuh hingga tulang rusuknya patah. Semua itu tidak pernah terjadi di hadapannya langsung, tetapi terus menghantuinya seolah-olah ia saksi nyata.

Dia mulai menghindari menyentuh benda apapun. Namun, itu tidak menghentikan penglihatan-penglihatan itu. Terkadang cukup satu dorongan dari bahu temannya saat latihan dan ia akan melihat kenangan masa lalu sang teman, kenangan yang bahkan mungkin ingin dilupakan si pemiliknya.

Aiman mencuci wajahnya dengan air dingin dari kran besi. Wajahnya pucat. Matanya seperti tak pernah benar-benar tidur. Setiap malam di barak ini, rasa kantuk hanya digantikan rasa takut.

"Apa ini bagian dari hukuman?" bisiknya sendiri. "Atau aku memang dikutuk sejak awal?"

Dia mendongak ke cermin buram di atas wastafel. Bayangannya sendiri tidak lagi tampak sebagai remaja 18 tahun. Ia tampak lebih tua, lebih letih, lebih kosong.

 

***

 

Markas Kepolisian Ragantara - Ruang Briefing Unit Khusus 07

 

Aiman berdiri di ambang pintu, memandang ruangan yang remang dengan cat dinding kusam. Sebuah layar proyektor menggantung setengah miring di ujung ruangan dan meja panjang penuh bekas gelas kopi tampak tidak terlalu ramah. Namun, tidak ada yang lebih canggung dari perasaan menjadi orang asing di tengah kelompok yang sudah terbentuk belum lama ini.

Letnan Adnan berdiri di tengah, bersandar ringan pada papan tulis. "Akhirnya datang juga," ujar sang Letnan, menyambut Aiman dengan anggukan. "Selamat bergabung di Unit Khusus Tujuh. Mereka semua sudah menunggu."

Aiman menatap ke empat pria lain yang duduk di sekitar meja.

Abian bangkit lebih dulu. Tubuh kekarnya tegak dan rapi, topi dinas tetap menempel meski di dalam ruangan. "Abian. Senang kamu bergabung," katanya tanpa senyum, suaranya datar tapi tidak terdengar kasar.

Lihat selengkapnya