A Hollow Gift

R.J. Agathias
Chapter #3

Bab 03 - Briefing

Letnan Adnan berdiri di ujung meja, tangannya bertaut di depan dada. Di belakangnya, layar monitor besar menampilkan deretan dokumen dan foto hitam putih dari kasus yang belum terpecahkan. Ruangan itu hening, setidaknya selama lima detik pertama.

Leo mengangkat tangan seperti murid yang ingin izin bicara, wajahnya sok serius. “Sebelum mulai, saya mau protes, Pak Letnan. Kenapa kopi di ruangan ini rasanya kayak air keran?”

"Kalau datang buat bercanda, mending keluar aja dulu!" Abian mendengkus tajam.

Leo meliriknya cepat. "Lah, gue cuma nyalurin aspirasi rekan-rekan senasib pecandu kafein, Bang."

Abian mendekap tangan di dada, tatapannya tajam. “Fokus. Ini bukan tempat buat lawak.”

“Udahlah, Bang. Biarin aja Leo. Dia emang gitu.” Darius menyela cepat, mencoba menetralisir suasana.

Leo menyengir, menepuk bahu Darius. “Lihat tuh, ada yang ngerti gue.”

Rayhan tidak mengangkat kepala dari laptopnya. “Lanjut aja, sebelum Abian gampar lo pakai printer.”

Letnan Adnan menghela napas panjang. “Cukup.” Suaranya tidak tinggi, tetapi tegas. Seketika ruangan menjadi hening kembali. “Saya butuh tim ini bersatu, bukan bertengkar soal gaya komunikasi. Kita semua punya caranya masing-masing, tetapi penyelidikan tetap prioritas.”

Aiman duduk diam di sisi kanan meja, memperhatikan interaksi itu dalam diam. Ia mengenakan sarung tangan hitamnya, masih terasa asing di kulit, tapi setidaknya membuatnya lebih tenang.

Letnan Adnan menekan remote kecil, mengganti tampilan di layar. Sebuah foto rumah tua yang tampak usang muncul, diikuti peta wilayah kota Sakalima.

Letnan Adnan mulai menjelaskan. “Ini TKP lama dari salah satu korban hilang dua puluh tahun lalu. Korban terakhir yang dicatat dalam berkas kasus ‘Bayangan Langkarsa’.”

Leo bersuara lirih, kini benar-benar fokus. “Itu yang ... nggak pernah ketemu mayatnya, ya?”

Letnan Adnan mengangguk. “Benar. Nama korban: Tania Winarsih. Usia 16 tahun saat dinyatakan hilang. Ditemukan terakhir kali di sekitar properti ini. Tidak ada saksi, tidak ada bukti, hanya laporan suara-suara aneh dari tetangga sekitar.”

Aiman menajamkan tatapannya. Nama itu tidak asing. Seperti suara samar dari masa lalu.

Letnan Adnan melanjutkan, “Besok pagi kita survei ke TKP. Saya mau semua perlengkapan lengkap. Rayhan, kamu siapkan peta jalur sinyal dan kamera. Darius dan Abian, pastikan pengamanan dan dokumentasi. Leo ....”

Lihat selengkapnya