Aiman masih ingat bau tanah basah dan keringat di udara saat dirinya berdiri di tengah lapangan barak, berusia 17 tahun, dihukum bersama puluhan remaja bermasalah lainnya. Bagi sebagian orang, barak militer di Langkarsa adalah tempat pendisiplinan, tetapi bagi Aiman, tempat itu menjadi titik awal kebisuan yang mengeras di dalam jiwanya. Selama enam bulan di sana, tubuhnya dibentuk, tetapi pikirannya terus dipatahkan oleh bayangan-bayangan masa lalu yang tidak pernah pergi.
Aiman berulang kali mengalami sesak napas saat tidur di ranjang asrama. Setiap benda yang disentuhnya—senjata, helm, bahkan gagang pintu tua—kadang menyimpan kilasan kekerasan, penderitaan, atau kehilangan.
Kejadian-kejadian yang tidak ia kenal, tetapi tertinggal pada benda, masuk ke pikirannya seperti mimpi buruk yang hidup. Ia mencoba untuk menjadi biasa, tetapi selalu merasa seperti makhluk asing di antara manusia lainnya. Para pelatih mengira Aiman hanya sedang trauma masa lalu, tidak pernah tahu bahwa Aiman menyaksikan peristiwa yang bahkan tidak ia alami sendiri.
Aiman mulai sadar, jika ia terus bersembunyi dari kekuatannya, ia akan terjebak selamanya. Maka, pada usia 20 tahun, ia diam-diam mendaftar ke sekolah kepolisian di Sakalima. Awalnya bukan karena cinta pada hukum atau keadilan. Ia hanya ingin mengerti … mengerti mengapa kekuatannya membawanya melihat hal-hal yang tidak diinginkan dan apakah ada alasan ia dilahirkan dengan kutukan semacam itu.
Aiman menyelesaikan akademi dalam tiga tahun. Tidak pernah menjadi yang paling cemerlang, tetapi selalu mencatat detail lebih dari siapapun. Ia tahu cara membaca diam-diam luka pada seseorang hanya dari bekas yang tertinggal di meja. Ia tahu siapa yang pernah menangis di pojok ruangan, hanya dengan menyentuh dinding. Semua itu membuatnya berbeda, menyendiri, tertutup, dan pelan-pelan tenggelam dalam caranya sendiri mengartikan dunia.
Aiman kini berdiri sebagai penyelidik usia 27 tahun, bukan karena ambisi, tetapi karena pencarian. Bukan untuk menangkap penjahat, tetapi untuk menemukan sesuatu yang lebih dalam dari sekadar kebenaran. Alasan di balik mimpi buruk yang tidak kunjung selesai.
Sebagai manusia, ia pernah bersimpuh dan berdoa dalam kegelapan, “Tuhan … cabutlah ‘hadiah’ ini, aku tak sanggup menyimpannya lebih lama lagi.”
Aiman melangkah pelan di lorong pabrik gelas tua yang kini nyaris tidak beroperasi. Dindingnya yang kusam dan berjamur seolah-olah menyimpan bisikan masa lalu. Cahaya dari celah atap bocor jatuh membentuk garis samar di lantai berdebu, mengiringi langkah mereka yang hati-hati.
Sang Letnan berdiri tak jauh dari pintu masuk, matanya menelusuri setiap sudut ruangan kosong.
“Kita tak punya surat geledah penuh. Ini hanya pengamatan lapangan. Jangan terlalu dalam,” katanya sambil melirik jam tangannya.
Leo menendang ringan kaleng kosong yang terguling. “Tempat ini lebih suram dari bekas hubungan mantanku. Serius, kita yakin Doni Mahendra masih pakai tempat ini buat hal ilegal?”
“Fokus. Ini bukan tur nostalgia dan jaga suaramu.” Abian melirik tajam.
Darius memegang catatan kecil, menandai peta kasar pabrik yang mereka dapat dari catatan registrasi lama. “Ada satu gudang di belakang yang tidak tercatat dalam denah tahun ini. Mungkin sudah dimodifikasi.”
Rayhan sudah berada di depan komputer usang di ruang pengawas. Jari-jarinya cepat membuka sistem log lama. “Ada aktivitas masuk malam hari, dua minggu lalu. Tidak terekam siapa pun keluar. Setelah itu, sistem mati.”
Aiman mendekati meja kayu tua yang hampir lapuk. Tangannya, walau sudah tertutup sarung tangan hitam baru, menyentuh permukaannya dengan pelan. Namun ... tidak ada yang muncul. Kosong.
Aiman menarik napas panjang. “Seperti sudah dibersihkan.”
Leo mengangkat kotak kecil berkarat dari balik meja. Di dalamnya terdapat sisa sobekan kertas plastik transparan, kemungkinan label barcode pengiriman. Separuh sudah hangus. “Hey, ini bukti atau cuma sampah?”
Letnan Adnan mengambilnya hati-hati dan memeriksa. “Kirim ke lab. Kita butuh segala yang bisa dipecah.”