A Hollow Gift

R.J. Agathias
Chapter #5

Bab 05 - Sindikat Penculikan Anak-Anak

Satu Tahun Lalu – Kota Sakalima

 

Aiman menunduk di balik mobil tua yang terparkir di gang sempit. Keringat dingin menetes dari pelipis ke dagunya, meskipun malam Sakalima begitu beku. Jemari tangan kirinya menggenggam pistol, tangan kanan meraih headset di telinga.

“Posisi aman. Target sedang memindahkan anak-anak ke kendaraan kedua. Enam orang bersenjata ringan. Permintaan perintah,” bisik Aiman, suaranya nyaris tak terdengar.

“Eksekusi dalam hitungan tiga. Tim Selatan sudah siap di belakang gudang,” sahut suara komandan tim lamanya, Inspektur Rafka, dari radio.

Aiman menarik napas panjang. Tiga ... dua ... satu.

Dentuman senjata pecah seketika, menghancurkan sunyi malam. Tim barat menyerbu dari kanan, sementara Aiman melompat dari persembunyian dan melepaskan dua tembakan cepat ke arah kaki penjaga yang berusaha kabur. Lelaki itu tumbang dengan teriakan parau.

Jeritan anak-anak menggema dari dalam kontainer tua. Rantai logam menghantam dinding ketika mereka panik mendengar tembakan.

Aiman berlari menerobos pintu samping gudang. Dua penculik menyerangnya dengan tembakan brutal. Ia menyelinap ke belakang rak baja, membalas tembakan secara presisi. Satu peluru mengenai bahu musuh, satu lagi membuat senjata di tangan mereka terlepas.

“Kontainer A sudah kami kuasai!” suara anggota lain terdengar.

Aiman melompat ke atas palet kayu dan menghantamkan punggung senjatanya ke wajah salah satu penculik yang mencoba bangkit. Darah memercik, pria itu roboh tak sadarkan diri.

“Semua anak-anak berhasil diamankan! Ulangi, anak-anak aman!” teriak Rafka.

Aiman menoleh cepat. Di lorong sebelah, satu pelaku utama, Ridwan Kusuma, si dalang penculikan, mencoba kabur melalui tangga besi.

Aiman berlari. “Berhenti!” teriaknya. Akan tetapi, Ridwan terus memanjat.

Aiman mengangkat senjatanya. Tangannya bergetar, tetapi matanya fokus.

Letusan peluru terakhir menggema dan Ridwan jatuh terguling ke bawah, mengenai karung semen.

Semua hening.

Sirene polisi mulai meraung dari kejauhan. Langit malam Sakalima terasa lebih lapang … tapi dada Aiman terasa penuh. Di hadapannya, sepuluh anak kecil dipeluk oleh tim medis dan relawan. Mata mereka masih memancarkan trauma, bekas dari kegelapan yang belum hilang.

Aiman menghela napas berat. Di tengah keberhasilan itu, pikirannya melayang pada satu anak—versi kecil dirinya sendiri—yang pernah ditinggalkan oleh dunia.

Lihat selengkapnya