Aiman duduk di kursi rotan dekat jendela ruang tengah, masih mengenakan kaus longgar dan celana training. Sinar matahari pagi menerobos tirai tipis, menciptakan pola-pola keemasan di lantai rumah neneknya. Hari ini ia resmi libur dan untuk pertama kalinya sejak lama, tidak ada suara interkom, tidak ada panggilan darurat, tidak ada bayangan mengerikan yang membuntuti pikirannya.
Sulasi muncul dari dapur dengan sepiring pisang goreng dan secangkir teh manis.
“Kamu hari ini kosong, kan?” tanyanya sambil meletakkan nampan di meja.
“Iya, Nek. Sementara istirahat.” Aiman mengangguk tanpa menoleh.
Sulasi duduk di depannya dengan senyum penuh arti. “Bagus. Libur itu artinya waktunya jalan-jalan. Dan kalau Nenek boleh saran … ajak tuh si Adinda.”
Aiman mengerutkan alis. “Adinda?”
Sulasi terkekeh. “Iya lah. Masa nenek harus ngajarin kamu cara ngajak cewek jalan? Dia tuh datang malam-malam, bawain kue, panik waktu kamu sesak napas … Itu tanda, Man. Tanda!”
Aiman menatap cangkir tehnya, mendadak lebih tertarik mengaduk sendoknya berulang kali. “Nenek, jangan mulai ....”
Sulasi bersedekap, tidak peduli. “Ajak ke taman kek, atau ke pasar jajanan sore di pusat kota. Kalau kamu mau lebih gaya, ke mall juga bisa. Biar kamu belajar senyum, belajar hidup.” Ia berdiri, memandangi Aiman dari atas kepala. “Tapi jangan pakai baju pudar itu. Nih, Nenek udah siapin baju cakep. Yang kamu jarang pakai, yang Nenek beliin waktu kamu ultah tahun lalu.”
“Yang warna biru toska itu?” Aiman menoleh, wajahnya waspada.
Sulasi mengangguk mantap. “Pas banget! Biar mukamu yang dingin itu kelihatan kayak remaja baru puber. Nenek yakin Adinda bakal makin sayang.”
Aiman menghela napas panjang. Namun, di detik berikutnya, ia sudah duduk di tepi ranjang kamar, memandangi baju biru yang kini tergantung di lemari. Entah kenapa, ia tidak menolak saran itu begitu saja. Mungkin karena wajah gadis berusia 18 tahun yang ia lihat malam itu, dalam bayangan kekuatannya, terlalu hangat untuk diabaikan.
Aiman akhirnya mengenakan kemeja tersebut, disisiri rambutnya oleh sang nenek seperti bocah kecil yang hendak ikut lomba menyanyi. “Kalau kamu ngajak dia, jangan kayak interogasi tahanan ya,” pesan Sulasi, “lembut, hangat, kayak kuah bakso.”
Aiman mengangguk pelan. Dalam diamnya, ia mulai mempertimbangkan ... mungkin tidak ada salahnya hari ini mencoba hidup sebagai orang biasa. Meski hanya sebentar.
Aiman berdiri di depan pagar rumah sebelah, mengetuk dua kali sebelum pintu dibuka sedikit. Suara langkah tergesa terdengar dari dalam. Tak lama kemudian, pintu terbuka penuh. Adinda berdiri di sana, mengenakan blus putih polos dan rok panjang bermotif bunga kecil. Rambutnya digerai, sebagian terjepit rapi ke belakang telinga.
“Eh … ada perlu apa, Bang?” Adinda tersenyum, meski ragu.
“Kata Nenek … aku harus ngajak kamu jalan.” Aiman menunduk sebentar, lalu menatap gadis itu dengan wajah datar seperti biasa.
Adinda menaikkan alis. “Oh. Jadi … Nenek yang nyuruh?”
Aiman mengangguk pelan. “Tapi aku setuju juga. Kalau kamu mau.”
“Abang ngajak orang jalan kayak mau ngantar laporan penyelidikan.” Adinda menahan tawa.
Aiman mengangkat bahu. “Aku gak ahli dalam hal ginian.”
Adinda akhirnya tertawa kecil, lalu mengambil tas selempang dari dalam rumah. “Oke. Kita ke mana, Pak Polisi?”