A Hollow Gift

R.J. Agathias
Chapter #10

Bab 10 - Jejak Kejahatan di Tempat Baru

Aiman berdiri di depan kaca jendela markas kecil sementara mereka, mengenakan jaket gelap dan masker yang menggantung di bawah dagu. Sudah dua minggu sejak luka tembak itu. Bahunya masih kadang terasa nyeri saat bergerak terlalu cepat, tapi secara keseluruhan, tubuhnya sudah pulih. Hanya pikirannya yang belum.

Kirana meletakkan berkas laporan di atas meja. “Kau yakin sudah siap turun ke lapangan lagi?”

Aiman tak menoleh. “Kau tak akan tanya kalau tak tahu jawabannya.”

“Tuh, kan. Aiman kembali sok dingin.” Zeno menyeringai dari kursinya, menggoyangkan kursi dua kakinya seperti biasa.

Kirana hanya mendengkus. “Lebih baik sok dingin daripada ceroboh.”

Pintu terbuka. Seorang pria tinggi dengan tubuh tegap masuk. Wajahnya bersih, rambutnya dipangkas pendek, dan sorot matanya tenang namun awas. Ia membawa sebuah map kecil dan memperkenalkan dirinya dengan nada tegas namun sopan.

“Gani. Aku ditugaskan langsung dari unit wilayah utara. Perintah langsung Letnan Adnan, katanya aku akan bantu tim kalian untuk misi ini.”

Zeno berdiri dan mengulurkan tangan. “Zeno. Sini kita sama-sama jadi korban kerja berbahaya.”

“Saya lebih senang jadi pelakunya.” Gani tersenyum tipis, menjabat tangannya.

Kirana tertawa pelan, lalu menunjuk ke arah Aiman. “Itu Aiman. Jangan terlalu berharap banyak respons.”

Aiman hanya mengangguk ringan ke arah Gani. “Kalau kau bisa menjaga punggung kami, kau teman baik.”

Gani menjawab, “Itu tujuan saya ada di sini.”

Setelah perkenalan singkat, keempatnya menghadap peta besar yang terpajang di dinding. Kirana mulai menjelaskan informasi terbaru yang mereka dapat dari intel.

“Tempat baru ini ... semacam gudang logistik tua, letaknya jauh dari kawasan industri aktif. Tapi ada jejak aktivitas digital dan sinyal komunikasi gelap yang terekam beberapa kali.”

Zeno menyela, “Dan katanya, tempat itu sering dimasuki truk besar tanpa plat nomor jelas. Kamera jalanan mencatat pola yang berulang setiap dua malam.”

Gani menambahkan, “Saya sudah meninjau perimeternya dari jauh kemarin. Ada tiga titik buta yang bisa kita manfaatkan. Tapi itu berarti kita harus bergerak cepat. Sekali terlihat, semua rencana bisa hancur.”

Kirana mengangguk. “Yang membuat ini mendesak … adalah dugaan perdagangan wanita. Intel menyebut ada beberapa perempuan muda yang sempat terlihat masuk, tapi tidak pernah keluar lagi.”

Ruangan hening sejenak.

Aiman menunduk. Tangannya mengepal di saku jaket. “Kita tak bisa gagal lagi.”

Zeno menepuk bahu Aiman. “Kita nggak akan gagal. Tapi gue nggak janji nggak kena peluru nyasar.”

“Kau kena peluru nyasar, kubiarkan kau berdarah dulu dua jam.” Kirana menyipitkan mata.

Gani hanya tersenyum kecil menyaksikan dinamika mereka, tetapi raut wajahnya serius saat kembali memandang peta. “Kapan kita mulai?”

Aiman menatap lurus ke arah titik merah di peta. Gudang logistik tua yang kini menjadi medan perburuan. “Malam ini.”

Lihat selengkapnya