Tiba-tiba saja Jinan merasa ada tangan besar yang menarik kepalanya keras hingga membuat kedua matanya terbuka. Dia mendongak dengan matanya yang sudah memerah sementara tangannya refleks memegang dada. Dia merasa seperti baru saja terhempas dari ketinggian. Jinan melenguh, rupanya dia tersentak dari tidurnya.
“Mimpi itu lagi,” gumamnya bersamaan dengan helaan napas yang berat.
Mimpi itu tadinya menjadi nyata, tapi kini dia lega, tidak ada lagi Yoora yang mendorongnya dari atas gedung. Entah bagaimana, mimpi itu kembali setelah sekian lama. Mimpi yang sama ketika dia mendengar Yoora pindah ke Osaka. Mimpi itu tidak pernah hadir selama ini. Tapi Jinan tidak bodoh untuk memaknai mengapa mimpi itu hadir. Itu bentuk dari rasa takutnya akan kehilangan. Hanya saja kali ini, mimpi itu kembali ketika dia sudah kehilangan.
Jinan masih sulit menerima kenyataan, namun dia bukan pungguk yang akan terus merindukan bulan. Dia ingin… setidaknya, saat ini, menjauh dulu. Dia sedang mencari cara untuk menghadapinya. Untuk itu dia membuka ponsel-nya kembali.
Saat itu juga tenggorokannya yang kering ingin disiram sesuatu yang segar. Dia membutuhkan air untuk membuatnya merasa enak, maka ia melongok pada botol kosong di atas meja. Dia mendongak dan mencari pelayan saat itu. Tak butuh waktu lama bagi Jinan untuk memutuskan bangkit dari tempat duduk yang mengekang tubuhnya–karena belum mendapat kamar kosong, menuju kasir. Dia memesan satu botol besar air mineral dan menunggu sambil memunggungi kasir. Di sanalah dia melihat Kayra dan tanpa sadar ujung bibirnya tertarik.
Sayangnya, tak berselang lama dia ingat dosa berat yang dilakukannya pada gadis itu. Menyapa bukanlah tindakan bijak. Maka dia hanya merapatkan bibir dan menurunkan tangan kanannya yang sempat terangkat. Dia tidak ingin mengganggu Kayra yang terlihat sedang mencorat-coret jurnalnya dengan cepat.
“Kurasa dia masih kesal. Ya baiklah. Aku memang pantas mendapatkannya.”
“Okyaku-sama no onomimono desu–” Ini minuman anda, silakan.
Suara pelayan membuat Jinan berbalik. Setelah memberikan beberapa uang kertas dia kembali ke tempat duduknya. Masih belum berhenti memandangi Kayra di kejauhan, Jinan meneguk air di dalam botol hingga habis seperempatnya. Seusai mengawasi, Jinan berkutat dengan ponselnya. Dia membuka-buka media sosial dan tak lama layarnya bergulir dengan sendirinya, menampilkan nama Yoora di sana.
Tak butuh pertimbangan, dia langsung menggulir layar ponselnya ke arah tanda merah. Lalu dengan cepat mengirim pesan.
“Jangan ganggu aku. Ada waktunya kita bicara tapi tidak sekarang. Kumohon biarkan aku!”
Lalu dia menekan pilihan ‘blokir’ pada kontak Yoora.
Yah, setidaknya jangan sekarang.
Jinan ingin mempersiapkan diri untuk menghadapi kemungkinan terburuk sekalipun. Tapi yang jelas dia tidak ingin kembali. Baginya, tidak ada satu barang pecah yang bisa menyatu kembali bila sudah jatuh. Benda pecah itu serupa dengan kepercayaan baginya.
Dia tiba-tiba tidak bernafsu lagi bermain ponsel. Jinan sedang bingung, rasa kantuknya sudah pergi. Dia melirik arlojinya kembali, dia masih harus 23 jam lagi berada di sana. Di tengah kebosanan yang baru saja terlintas itu, Jinan melihat Ren dan Kaito di ambang pintu. Dua teman barunya itu seolah membawa secerca harapan baginya. Dia tidak berharap akan ditumpangi, setidaknya saat itu dia bisa punya teman mengobrol. Jinan mengangkat tangan, memanggil kedua pemuda yang langsung saja berjalan mendatanginya. Jinan sempat menggeser barangnya untuk Ren dan Kaito duduk.
“Oniisan, kenapa barangmu masih di sini?” tanya Ren yang terlihat keheranan dengan barang-barang Jinan di sebelahnya.
Kaito ikut melirik benda yang mencolok itu dengan kening berkerut.
“Aku belum punya kamar,” jawab Jinan santai. “Tidak ada kamar kosong sampai besok, jadi aku menunggu saja di sini,” tambahnya tanpa ada beban ataupun ingin dikasihani.
Ren dan Kaito saling pandang.
“Lupakan saja. Tidak masalah menunggu sampai besok. Aku senang melihat kalian berdua ke sini, setidaknya aku punya teman mengobrol.”
“Kupikir kau dan pacarmu itu sudah punya kamar.”
“Kenapa kau tidak bilang kalau belum memesan kamar?”
“Jadi dimana pacarmu itu?” tanya Kaito sembari mengedarkan pandangannya. “Aha, di sana? Kenapa kalian berpisah?”
“Apa kalian sedang bertengkar?”
Jinan menganga, ingin menginterupsi dan mengoreksi namun Ren dan Kaito terus bersahutan.