"Tiduri saja semua pria yang kau punya!" Kedua mata perempuan berambut sebahu itu memerah, mencoba menahan air matanya.
Dia tersenyum miring kemudian berujar, "bukankah itu yang selama ini Ibu lakukan?"
Sedetik setelah bibirnya terkatup, tamparan keras melayang ke wajahnya. Perempuan itu sampai menoleh, dengan pipi membekas telapak tangan dan bibir yang ia gigit kuat.
"Kurang ajar! Dari mana kau belajar kata-kata kasar seperti itu, Viella?!" sentak sang ibu dengan kedua mata memelotot tajam.
Viella mendengus, tetapi senyumnya mengembang lebar. Merasa lucu atas apa yang baru saja ibunya katakan.
"Belajar? Memangnya aku perlu belajar untuk hal itu? Sementara ibuku sendiri adalah orang yang pandai dalam hal ini," katanya panjang lebar.
Viella menunduk beberapa saat. Ketika tak ada jawaban dari mulut ibunya, barulah Viella mendongak. Menatap ke sepasang netra wanita itu.
Sementara sang ibu mengakukan rahang. Otot lehernya mencuat dan kedua matanya memerah menahan marah. Hingga kemarahan tak bisa ia bendung lagi. Ibu Viella mengatupkan mata, maju selangkah dan melontarkan sumpah serapah.
"Sialan, kurang ajar kau dengan ibumu sendiri!" Tangan wanita itu menarik baju Viella keras.
Mendekatkan tubuh putrinya sendiri lebih dekat dengan jangkauannya. Hingga kuku-kukunya yang panjang berwarna merah, menggores leher Viella tajam.
"Dari mana kau belajar kasar seperti itu? Siapa yang mengajarimu, anak sialan!"
Satu.
Dua.
Tiga.
Empat.
Tamparan mendarat di wajah Viella. Tangan besar nan kasar milik ibunya menatap bibir Viella, membabi buta. Tanpa ampun.
"Tahu begini aku buang kau jauh-jauh! Seharusnya aku relakan kau sebelum kulahirkan dulu, sialan!"
Sungguh! Viella tahu ibunya bukan ibu yang baik. Namun, ini pertama kali baginya mendengar sang ibu mencaci maki, membabi buta seperti ini.
Hanya demi seorang lelaki!
"Ibu," panggil Viella lirih.
Saat itu juga, sang ibu melemaskan tangannya. Melihat lamat ke wajah Viella yang sudah memerah karena darah dan tamparan darinya.
Viella mundur selangkah, lalu meludahkan cairan berwarna merah dari mulutnya. Lantas dia berbicara, "seperti apa lelaki itu?"
Seolah tak terjadi apa-apa, sang ibu tersenyum. "Dia ... yang jelas tidak seperti ayahmu."
Wanita itu mendekati Viella sekali lagi. Kali ini lebih lembut dari sebelumnya, memegang wajah sang putri seolah penuh kasih.
"Viella ... Ini bukan seperti yang kau pikirkan. Dia lelaki yang baik, Viella. Tidak seperti ayahmu," sambung sang ibu seraya membelai wajah Viella.
Viella hanya terdiam, mendengarkan satu demi satu kata dari ibunya. Sementara hatinya bergejolak menahan amarah, sedih dan kecewa.
"Lalu apa yang akan Ibu lakukan?" Viella meringis, menahan sakitnya.