A Little Light, Butterfly

lilinreiin
Chapter #2

Garis Merah

Tetesan air yang jatuh dari kran wastafel ke dalam mangkuk dengan bekas mie dan beberapa tahu itu, menghasilkan suara yang berhasil membangunkan seorang gadis. Kedua matanya mengerjap, dan dalam beberapa saat ia hanya diam terbaring.

Viella menatap langit-langit kamar. Kedua matanya yang terasa sepat ia kucek beberapa kali. Lantas, Viella menoleh ke kanan. Menatap lekat sang adik yang terlelap di atas kasur tipis tanpa dipan.

Sambil meregangkan tubuhnya, tangan gadis itu menghempaskan selimut tipis yang semula menutupi tubuh rampingnya ini. Viella bangkit duduk, merapikan rambutnya yang berantakan dan berusaha berdiri.

"Ehm, jam lima? Sebentar lagi harus mandi dan masak sarapan, apa aku juga harus ke sekolah?" Raut wajahnya datar, tetapi kedua manik matanya menyiratkan keengganan.

"Yaya, ayo bangun! Kakak mau masak, kamu mau makan sama apa?" tanya gadis itu seraya menggoyangkan tubuh ringkih Yaya.

"Yaya mau telur ceplok," bisik Yaya.

Tangan dan kaki gadis kecil itu melebar, merentang hingga selimutnya tersingkap. Lantas, dengan mata setengah terbuka ia duduk di kasur tipisnya. Yaya mengucek matanya beberapa kali, lalu ia menguap lebar. Melihat kelakuan lucu adiknya, tentu saja Viella sontak tertawa.

"Cepat mandi dan gosok gigi! Kalo enggak, aku gigit telingamu!" Viella memicingkan manik matanya.

Tidak butuh banyak waktu, akhirnya dua orang yang saling mengisi kekosongan itu duduk di kursi meja makan. Di atas meja tua nan lapuk, hanya ada dua gelas air putih dan dua piring telur ceplok dengan sedikit nasi. Suara tetesan kran wastafel juga masih terdengar, menjadi alunan sarapan mereka.

Yaya menelan sesuap nasinya. Kemudian ia berbicara, "Kakak mau sekolah?"

"Iya, kamu di rumah sendirian lagi, ya? Nanti sepulangnya dari sekolah, kakak janji bakal cepet-cepet!" Viella mencondongkan tubuhnya.

Tangan kuning langsatnya membelai rambut halus Yaya yang tergerai. Ada senyum tipis di wajah Viella, tetapi menyiratkan kesedihan.

Pagi adalah awal hari yang justru membuat Viella merasa kecewa pada diri sendiri. Masuk ke sekolah, rasanya Viella enggan. Bukan tanpa sebab, pasalnya ia harus meninggalan Yaya sendirian.

Meninggalkan anak 6 tahun di rumah tanpa penjagaan orang dewasa hingga langit menguning, dan ada kalanya Viella harus meninggalkan Yaya sampai malam tiba. 

"Maafin kakak, ya. Nanti kalo kakak ada sisa uang, Yaya akan kakak beliin makanan, oke?" Jari lentik gadis ini mencubit pipi adiknya pelan.

Anggukan girang menjadi reaksi Yaya setelah mendnegar ucapan sang kakak. Lantas, setelah sarapan mereka selesai. Viella dengan berat hati harus meninggalkan adiknya sendirian.

Lagi, dan lagi.

Mau sampai kapan terus seperti ini? Kalopun aku mutusin keluar sekolah, aku bakal jadi apa ke depannya? Tapi, aku juga harus ninggalin Yaya sendirian.

Batin Viella tak berhenti berbicara di tiap langkah yang ia ambil. Cahaya matahari perlahan jatuh di tubuh semampainya. Menghasilkan kilatan cahaya di tiap helai rambut perempuan itu.

Tak elak cahaya sang surya menyinari jalanan dan menghangatkan pagi orang-orang. Sampai tak terasa, gerbang utama sekolah sudah ada di depan mata Viella.

"Viella!"

Ketika kedua kaki Viella akan memasuki lingkungan sekolah, tiba-tiba ia mendengar seseorang memanggilnya. Sontak, Viella menoleh ke belakang. Dia mendapati seorang gadis dengan rambut tergerai indah, tengah berlari menghampirinya.

"Tumben banget kamu dateng pagi," ucapnya sesaat setelah menggandeng lengan Viella.

Viella tersenyum samar. "Gak apa, sih. Tadi adekku bangunnya gak sesusah biasanya."

"Ah ... gitu, pantesan." Kepala gadis ini mengangguk-angguk. Kemudian dia membuka suara sekali lagi. "Yaya sendirian lagi, Vi?"

"Em, mau gimana lagi, Nes. Aku cuma berdoa aja kalo hari ini pulang cepat."

Lihat selengkapnya