A Little Light, Butterfly

lilinreiin
Chapter #3

Garis Merah 2

Kepulan asap putih menyatu dengan dinginnya udara saat cowok itu mengeluarkan napas panjang. Punggungnya bersandar pada dinding bangunan, sedangkan tangan kanannya memegang rokok yang menyala. Sesekali ia mendongak, menatap langit yang kemerahan. Lantas, senyuman kecil tersungging di bibirnya.


"Sekarang aku gak punya barang buat kumintai duit. Kalo cewek itu gak kaya setan gila, mungkin aku masih betah sama dia. Sayangnya, kelakuan stresnya ngeharusin aku ngerelain sumber duitku, sial!"


Cowok dengan rambut acak-acakan dan sedikit panjang hingga menyentuh tengkuknya ini, membanting putung rokok ke tanah yang ia pijak. Kemudian dia berdecak kesal sambil mulai mengambil langkah. Rumah sederhana dengan halaman depan yang ditanami beberapa bunga serta buah adalah tujuannya. Jika dilihat dari depan, orang-orang pasti tak akan mengira jika ada rumah di belakang tingginya bangunan ruko-ruko. Satu-satunya rumah yang berdiri kokoh di balik bangunan-bangunan lain.


Dia sudah lelah dengan hari ini. Rasanya ingin merebahkan tubuh sesegera mungkin di kasur empuknya. Akan tetapi, semua harapannya sirna ketika ia lihat apa yang ada di depan pintu rumahnya.


Kedua mata cowok itu mengerling. "Apa yang kau lakuin di sini?" tanyanya judes.


"Gak tau!" Seorang anak kecil duduk di lantai kayu dengan kedua kaki yang selonjor.


Dia bersandar pada daun pintu. Kedua tangannya bersedekap dan pipinya menggembung kesal. "Aga sialan! Mana mainanku! Katanya aku mau dibeliin mainan!"


Dia mulai menendang kedua kakinya. Menatap tajam cowok yang jauh lebih tinggi dari tubuh kecilnya ini. Menatap sang kakak yang bernama Agra dengan tatapan penuh kebencian.


"Ck! Sampai kapan kau bahas mobil-mobilan itu, Avan?" Agra mengusak rambutnya frustrasi. Tak peduli dengan sang adik yang sedang tantrum. Dia berjalan dan menarik tubuh kecil Avan untuk menjauh.


"Kau aja gak mau sekolah, mana bisa aku turutin kemauanmu ini bocah tengik!" ujar Agra seraya menjitak kepala adiknya.


Avan mengernyit, dia ingin menangis. Akan tetapi, rasa marahnya terlalu kuat hingga ia mau tak mau harus mengabaikan rasa sakit di kepalanya. Ketika tubuh Avan sudah jauh dari daun pintu. Agra segera membuka pintu rumahnya, dan dia menoleh. Memastikan jika adik satu-satunya itu mau ikut masuk.


"Ayo, masuk! Ini udah sore dan aku liat kau belum mandi. Cepet masuk!" titah Agra.


Avan mendengus. Kedua tangannya masih bersedekap. Dalam posisi berdiri di hadapan kakaknya, Avan meludah. "Beliin aku mobilan dulu, baru aku mau mandi!" selorohnya.


"Enggak, ya enggak! Terserahmu mau mandi atau kagak, aku mau masuk dan kalo sampai maghrib kau gak masuk. Tidur sendiri sono di luar!" Telunjuk Agra menuding adiknya yang kini memerah semu.


Napas Avan ngos-ngosan dan dadanya naik turun. Secara cepat penglihatan anak lelaki berambut hitam itu buram. Wajahnya memerah dan terasa panas. Maka, seiringan dengan angin dingin yang berembus. Avan jatuh ke lantai kayu rumahnya. Dia terbaring di atas lantai kayu yang berdecit.


"Argh ... pokoknya beliin aku mobilan! Aku mau mobilan, gak mau tahu!"


Teriakan berdengung di telinga Agra. Cowok itu hanya bisa mendengus pasrah sambil melihat kedua kaki adiknya menendang-nendang, dengan kedua tangan yang memukul lantai kayu.


Sementara itu, pada sebuah bangunan rumah kontrakan yang berada di antara rumah-rumah lain. Rumah kecil di lantai dua dengan warna cat putih yang hampir pudar. Seorang gadis berambut sebahu tengah menggandeng seorang anak kecil yang kini rambutnya dikepang dua. Tas sekolah masih menggantung di punggung gadis itu, sedangkan wajah si gadis kecil nampak bersinar melihat kedatangan kakaknya.

Lihat selengkapnya