Udara sejuk menerpa tubuh mungil gadis itu, sedangkan kedua kaki pendeknya berjalan lihai. Melewati lubang-lubang jalanan. Tangan kanan gadis kecil berambut panjang ini memegang sebuah botol plastik.
"Satu seperti tiang, dua seperti bebek ...." Sejauh kakinya melangkah, bibirnya terus berdendang.
Yaya tengah menyanyikan lagu yang sering Viella ajarkan padanya. Lantas, Yaya berhenti beberapa saat. Dia menoleh ke belakang, tepatnya pada bangunan putih pudar di mana rumah kontraknya berada.
Setelah ia yakin jika sudah dikunci rapat, Yaya kembali berjalan. Ini adalah hari-hari gadis kecil itu saat sang kakak meninggalkannya di rumah. Gadis 6 tahun ini sering menghabiskan waktunya di taman kecil tak jauh dari tempatnya tinggal. Sampai setidaknya tiga jam, atau dirasa dirinya sudah lama berada jauh dari rumah. Yaya akan pulang dan menunggu Viella pulang sekolah.
"Ah! Kupu-kupu!" sorai Yaya ketika manik mata cokelatnya menangkap hewan lucu itu.
Dengan kaki terangkat pelan, Yaya menghampiri bunga liar yang tumbuh tak jauh dari tempatnya berdiri. Sambil membuka tutup botol, dia terus mendekat dan mendekat. Botol ditaruhnya di atas tanah dan kedua tangan gadis ini bergerak menepuk. Namun, sayang seribu sayang. Kupu-kupu putih itu terbang jauh sebelum berhasil ia tangkap.
"Hah ... lagi-lagi aku gak bisa ambil. Nanti kalo kakak libur sekolah, aku ajak kakak ambil kupu-kupu." Dia berjongkok. Berkata panjang lebar dengan suara imutnya dan logatnya yang khas.
Sorot mata Yaya berubah sendu. Dia menatap lekat botol plastik di sebelahnya. Sudah beberapa hari ini, botol yang seharusnya berisi hewan-hewan tangkapannya—tak ada hasil.
Kosong dan berembun.
Syukurlah, bunga liar berwarna merah muda di hadapannya cukup sebagai penghibur Yaya. Yaya kecil berjongkok di depan bunga itu. Kedua tangannya berada di atas lututnya dan kepala Yaya miring ke kanan.
"Apa kau sendirian? Aku juga sendiri, kakakku masih sekolah." Yaya bersuara.
Lanjutnya, "aku harus nunggu kakak Viella sampai pulang. Dan kami banyak melakukan hal bersama. Tapi ... kau cuma sendiri, apa kau bersenang-senang?"
Binar di mata gadis ini nampak redup, ketika dadanya tiba-tiba terasa berdenyut. Akan tetapi, Yaya tak tahu dengan perasaan aneh ini. Sampai suara seseorang berhasil membuat Yaya terperanjat. Sontak, dia menoleh ke belakang.
"Apa itu?" tanya suara di belakangnya.
"Ah! Ini bunga," jawab Yaya.
Manik mata Yaya jatuh pada seorang anak kecil seusianya. Dia kini membungkukkan badannya, dengan kedua tangan penuh dengan tongkat berjaring.
"Apa kau mau mengambilnya?" tanya anak kecil itu sekali lagi.
Yaya menggeleng. "Tidak. Aku mau tanya kakak dulu, kalo bolen. Aku akan bawa pulang," jawabnya.
Mendengar perkataan Yaya. Si bocah lelaki refleks mendengus kesal. Dia berdiri tegap dan berpaling wajah.