A Little Light, Butterfly

lilinreiin
Chapter #5

Satu Kapal

Beberapa menit setelah informasi mengejutkan itu. Viella dan Yaya malah berakhir di rumah Agra. Saat ini dua saudara kandung itu tengah duduk di sofa merah tua.


"Mau minum?" Agra menaruh tasnya di sembarang tempat.


Dia menoleh, melihat ke arah Viella dengan sorot mata yang sulit dijelaskan. Setelah Viella menjawab dengan segelas air putih, barulah Agra melanjutkan langkahnya menuju dapur.


Viella bersandar di sandaran sofa. Kedua manik matanya mengedarkan pandangan. Dia sudah salah mengira tentang Agra.


Nyatanya, cowok yang ia anggap berandal itu termasuk pandai mengatur rumah. Setiap barang-barang di rumah ini tertata dengan rapi. Bahkan, tirai bunga-bunga yang tergerai dan bergoyang itu nampak baru saja diganti.


Rasanya, rumah ini begitu ... hangat.


"Kakak Viella, nama aku Avan. Temannya Yaya, besok kami akan main-main bersama," ujar Avan dengan suaranya yang khas.


Mendengar itu, Viella mengayunkan tangannya. Dia memanggil Avan supaya mendekat. Saat anak bernama Avan itu berada di dekatnya, Viella mengusap rambut Avan lembut.


"Oke, besok main sama Yaya. Jangan bertengkar, ya? Setelah Avan pulang sekolah, temui Yaya. Kamu juga boleh main ke rumah kita, kok."


"Beneran? Aku gak sekolah, kok. Jadi aku bisa main-main sama Yaya." Jawab Avan membuat Viella hampir tertawa.


Akan tetapi, setelahnya dia menatap sendu. Viella mendengus samar dan pandangannya menunduk dalam. Mengingat jika Yaya juga sudah memasuki usia yang cukup untuk sekolah.


Apa lagi selama ini Yaya tak pernah menginjakkan kakinya di sekolah kanak-kanak. Gadis kecil itu tidak disekolahkan oleh sang ibu.


Yaya yang kini berusia 6 tahun dan seharusnya sudah bisa masuk sekolah dasar, tetapi hal itu tidak terjadi. Yaya bukan hanya tidak bisa masuk sekolah dasar di tahun ini, tetapi gadis kecil itu juga tidak pernah merasakan apa yang namanya sekolah. Syukurlah, Viella terus mengajari adiknya setiap saat. Sepulang dirinya sekolah, pun sepulang Viella dari kerja sambilannya.


Aku harap, saat usia Yaya 7 tahun. Aku bisa nyekolahin Yaya. Batin Viella dengan sorot mata sendu.


Tak lama setelahnya, Agra kembali dengan membawa segelas air putih dan segelas susu untuk Yaya. Dia duduk di salah satu sofa samping Viella dan menatap gadis itu cukup lama.


"Sejak kapan kau sekolah di sana? Kenapa aku gak pernah liat batang hidungmu?" Agra memiringkan kepala ke kanan.


"Ya sejak dulu, orang aku udah kelas 2. Lagian, kenapa bisa kau tahu namaku?"


Pertanyaan itu tak dijawab oleh Agra dengan cepat, dia justru memejamkan matanya beberapa saat. "Entah, mungkin karena aku bisa ngendus setiap cewek cakep kali."


"Hah ...! Kau emang udah gila! Dan hentikan ucapan kotormu itu di depan mereka, ngerti?!" Telunjuk Viella menuding wajah Agra.


Dia tak menyangka, selain Agra adalah cowok paling aneh yang tiba-tiba menciumnya itu. Rupanya Agra adalah cowok dengan mulut paling tak bisa dijaga.


《~~★~~》


Langit semakin menguning, menandakan sore akan datang tidak lama lagi. Akan tetapi, Viella dan Yaya masih betah berada di rumah Agra dan Avan. Keempat anak manusia itu tengah sibuk dengan tanah liat yang mengotori tangan mereka.


Agra, Yaya, Avan dan Viella berjongkok di taman kecil halaman depan rumah laki-laki bersaudara itu. Gelak tawa Avan dan Yaya serjng terdengar, sedangkan Viella gemas dengan tingkah mereka berdua.

Lihat selengkapnya