"Kau pikir itu lucu?" Pipi Viella memerah, bukan karena tersipu malu melainkan Viella marah karena ucapan Agra barusan.
Bagi Viella kejadian saat itu bukanlah hal yang perlu dijadikan lelucon, dia juga tak berpikir harus merasa senang karena berhasil mendapatkan ciuman dari lelaki serupawan Agra. Saat itu Viella tak mengenal Agra, dan setelah ini pun jika dia mendapatkan ciuman yang sama dari lelaki yang sama pula. Viella akan tetap merasa kesal karenanya.
"Marah banget ya, karena aku cium?"
"Kau pikir? Kita bahkan belum kenal, dan itu gak sopan. Terus, kau mau aku laporin pake tuduhan pelecehan?" Nada suara Viella saat mengucapkan dua kalimat itu biasa saja, tidak meninggi sedikit pun.
Sayangnya di mata Agra, dia melihat rona kemerahan pada wajah Viella dan itu sedikit banyak membuat Agra merasa kelimpungan. Dan saat ini juga, ketika angin berembus menerpa wajahnya. Agra baru sadar jika perbuatannya mencium Viella di depan banyak orang adalah hal yang tak bisa dibenarkan.
Agra mendengus pelan. "Sorry, aku gak ada ide lain saat itu."
"Memangnya cewek itu siapa? Pacarmu, kan?" Pertanyaan ini tak pernah dijawab oleh Agra.
Lebih tepatnya adalah sumber duitku, tapi kayanya hal itu emang salah. Agra membatin dengan kepala miring ke kanan sambil sedikit melirik Viella di sampingnya.
~•☆▪︎~`
"Mereka masih tidur," ujar Viella seraya melongok Avan dan Yaya yang tidur di ruang tengah.
Viella tersenyum tipis, betapa lucunya dua anak kecil itu. Mereka berdua terlelap di satu sofa yang sama. Yaya memeluk boneka mini the pooh milik Avan, sedangkan Avan memeluk sudut selimutnya yang bertumpuk.
"Kalo lagi tidur mereka keliatan kaya anak baik," balas Agra dengan nada suara datar. Wajah Agra nampak sedikit kesal, terlihat dari kerutan halus di kedua alisnya yang hitam.
"Ck! Kau emang—" Viella tidak melanjutkan ucapannya, kepala gadis itu menggeleng-geleng.
Viella memilih beranjak, dia mendekag ke ruang tengah dan duduk di lantai dekat sofa merah tua. Perlahan Viella keluarkan beberapa buku serta kotak pensilnya. Raut wajah Viella berubah mendadak, dia terlihat lebih serius. Membuka lembar-lembar buku tebalnya, dia berpikir untuk belajar karena bolos sekolah hari ini.
Suara kertas dibalik memenuhi ruangan itu saat mereka berdua tak lagi bicara. Lalu Agra menanyakan untuk apa Viella membuka bukunya, padahal mereka sedang bolos sekolah hari ini. Viella tak langsung menjawab, dia nampak berpikir.
"Em ... gak tahu juga, sih. Tapi rasanya gak enak aja kalo gak buka buku sama sekali. Lagi pula, aku takut sampe ketinggalan mapel." Viella menghelakan napasnya pelan.
"Cuma sehari. Aku yakin juga kau gak pernah bolos sebelumnya."