Kedua kaki Viella terhenti tepat di depan daun pintu sebuah ruangan. Pintu itu tertutup rapat, dan karenanya membuat Viella sempat memiringkan kepala. Hari ini dia berangkat ke sekolah jauh lebih pagi dari biasanya. Alhasil, kondisi sekolah masih sepi bahkan kelasnya belum terbuka sepenuhnya dan tak ada satu orang pun dari kelasnya.
"Ternyata sepagi ini aku berangkat, huft." Viella meraih gagang pintu dan membukanya lebar-lebar. Ketika kedua daun pintu kelasnya terbuka secara bersamaan, papan penanda kelas bergoyang. Di papan itu tertulis 12 Bahasa III.
Tahu gini aku bakal nemenin Yaya lebih lama. Viella terdiam, tangannya urung menarik kursi duduknya.
Memikirkan sang adik yang sendirian di rumah membuah dadanya berdenyut nyeri. Akan sampai kapan? Akan sampai kapan hidupnya seperti ini? Sampai kapan Yaya terus berada di rumah dan tanpa sosok orang tua.
Tanpa ia sadar, kedua tangannya mengepal erat. Kuku-kuku Viella menancap pada kursi kayu itu, membuatnya berwarna keputihan. Rahang Viella kaku dan dadanya yang semula berdenyut nyeri, kini berubah menjadi degup cepat yang menyesakkan.
"Viella!" Suara seseorang membuyarkan lamun Viella.
Viella tersentak, dadanya masih begitu panas. Akan tetapi, setelah ia melihat wajah orang yang memanggil namanya. Viella nampak lebih tenang. Senyumnya terukir samar, dan kedua mata Viella mengekori sahabatnya yang berjalan mendekat.
"Kenapa sih, Vi? Kamu udah bengong aja pagi-pagi gini."
"Hehe ... gak apa-apa, kok. Aku cuma mikir bukuku tadi kebawa atau masih di meja," jawab Viella penuh kebohongan.
"Tumben banget kamu sampe lupa bawa buku," gumam Nesya.