"Makanlah, udah jelas banget kan?" balas Agra tanpa menatap Viella.
Sementara itu, Nesya justru memaku tatapannya pada Viella. Begitu lekat seolah Nesya ingin menerkam sahabatnya ini. Kepala Nesya miring ke kanan, dia sungguh tak mengerti mengapa bisa Viella mengenal cowok bernama Agra itu.
"Ekhm! Ekhm!" dehem Nesya yang membuat Viella menoleh.
"Kamu kenal sama dia?" Bisikan Nesya diberi anggukan oleh Viella. Saat itu juga, kedua bola mata Nesya mendelik.
"Kok bisa? Sejak kapan, jangan-jangan kalian ada apa-apa—"
Nesya ingin melanjutkan bicara, tetapi bibirnya ditutup oleh talapak tangan Viella. Dengan sigap, Viella bawa makanannya dan menarik tangan Nesya untuk beranjak berdiri. Mereka berdua meninggalkan Agra dan teman Agra saat itu juga.
Di koridor-koridor sekolah menuju kelas mereka, Viella masih menggenggam lengan Nesya. Genggaman yang tidak begitu erat sebenarnya, namun masih cukup untuk membuat Nesya kewalahan.
Nesya berhenti berjalan dan berkata, "Viella! Jangan bilang emang ada apa-apa kamu sama Agra?"
"Huft ... aku gak mau bahas soal ini di depan cowok itu langsung." Viella menggeleng pelan.
☆~•~•~•~☆
Kali ini dua cewek itu berada di tempat duduk kayu, di sebuah taman kecil depan kelas mereka. Di sinilah pertanyaan Nesya terjawab. Viella mengatakan semuanya, tentang bagaimana dirinya bisa mengenal Agra. Tentang bagaimana ciuman singkat di depan sekolah kala itu.
"Aku bersyukur hal itu gak jadi perbincangan anak-anak lain," kata Viella mengakhiri ceritanya.
"Se–serius Vi?" Nesya menelan ludah. "Kenapa kamu gak cerita sama aku, sih?"
"Menurutku, ini bukan hal yang sepatutnya diceritain. Untung aja gak jadi perbincangan anak-anak, itu yang aku syukurin." Viella menaruh kedua tangannya ke belakang, dan dia mendongakkan kepalanya.
"Aku juga gak bakal terlibat sama seseorang kaya Agra," desis Viella diam-diam.
Nesya mendengus, dia memikirkan banyak hal. Beberapa hari lalu, memang dirinya sempat mendengar seorang cowok yang mencium cewek tiba-tiba, tepat setelah cowok itu dimaki-maki oleh mantan kekasihnya. Rupanya itu Agra dan Viella, pikir Nesya.
Lantas, Nesya menoleh ke arah Viella. "Agra emang salah satu cowok yang sering dijadiin inceran anak sini, tapi bukan berarti dia cowok baik-baik."
"Viella, kalo sampai Agra macem-macem sama kamu. Aku gak akan diem aja! Aku harap kamu gak akan terlibat terlalu jauh sama cowok itu. Kamu sendiri tahu, gimana mantan pacar Agra. Dia perempuan dewasa, kan?"
"Aku tahu soal itu." Viella bungkam beberapa saat, lalu dengan suara yang lebih rendah dia berkata, "tapi aku udah terlibat secara gak sengaja, Nes."
Tubuh Nesya bereaksi lebih kaget dari sebelumnya. Dia menoleh begitu dalam, sayangnya sebelum Nesya sempat bertanya lebih jauh. Bel istirahat berakhir berbunyi nyaring.
Terpaksa gadis berambut panjang yang selalu ia gerai itu membungkam mulutnya. Nesya dan Viella kembali ke kelas. Mengikuti pembelajaran yang menurut mereka seperti biasanya, tidak begitu ramai pun tak begitu hening di dalam kelas.
Pada akhirnya, ketika kelas benar-benar selesai. Viella berjalan keluat kelas bersama Nesya dan saat itu Nesya berani membuka suara. Namun bukan pertanyaan mengenai rasa penasarannya terhadap Viella dan Agra, tetapi sebuah permintaan.
Permintaan yang seringnya terucap dari mulut seorang sahabat. "Viella, kalo kamu ada apa-apa. Bisa cerita sama aku, saat ini ambil waktu yang leluasa buatmu."
Tak ada ucapan, hanya senyum yang Viella berikan.