(a)NN

Luckie
Chapter #2

Part 2

Pagi-pagi sekali Nadya sudah datang ke lapangan kampung untuk mengikuti lomba tujuh belasan. Meski Nadya sempat ragu akan menjadi pemenang utama karena ada begitu banyak peserta yang lebih unggul, dia tetap semangat, memantapkan hati kalau dia bisa melakukannya dengan baik agar bisa membelikan sepatu baru untuk Kinan.

"Jadi hadiah utama uang lima juta untuk satu tim? Bukan untuk satu orang? Gimana, sih, panitianya. Kurang jelas informasinya," salah seorang rekan satu tim Nadya protes saat panitia acara kembali menjelaskan persyaratan dan ketentuan untuk mendapatkan hadiah utama.

Di sesi lomba pertama, Nadya dan tim harus berhasil memasukkan paku ke kayu utuh dengan sekali pukulan, lalu bergantian dengan rekan satu tim masing-masing satu kali. Lomba yang kedua, mereka harus bermain lempar air dengan membelakangi rekan satu tim dengan wadah air di kepala. Sementara permainan yang ketiga, mereka harus berhasil memenangkan permainan tarik tambang. Dan barang siapa yang mengumpulkan poin paling banyak, maka akan keluar sebagai pemenang.

"3, 2, 1!"

Begitu peluit ditiup dan sorakan penonton terdengar riuh, setiap tim langsung bersaing dengan sengit, menunjukkan penampilan terbaik mereka, termasuk Nadya yang langsung berlari menghampiri meja bundar dengan kayu berbentuk silinder di atasnya. Dia dengan cepat memukul paku di atas kayu itu. Meski pukulannya tidak terlalu kuat, paku berhasil menancap di kayu dengan sempurna, kemudian dia berlari kembali ke tempatnya di urutan paling belakang. Awalnya orang-orang di tim Nadya bisa melakukan dengan baik, hingga satu orang terakhir gagal melakukan tugasnya. Walaupun Nadya menanggapi dengan santai saat satu timnya gagal memenangkan permainan itu, tapi jauh di lubuk hatinya dia merasa kesal karena kesempatannya untuk membelikan Kinan sepatu berkurang.

"Kali ini kita pasti berhasil," orang yang membuat gagal di babak pertama itu berkata yakin saat permainan kedua akan dimainkan. Wajahnya sangat serius seolah omongannya tidak pernah salah. Namun sayang, meski dia berhasil melakukannya dengan baik, rekan timnya yang lain justru bermasalah. Alhasil, tim mereka kembali gagal di babak kedua.

Nadya sangat kesal, sementara rekan-rekan yang lain tertawa. Mungkin karena mereka menganggap lomba ini hanya untuk seru-seruan jadi mereka merasa biasa saja saat kalah, berbeda dengan Nadya yang menggantungkan harapannya untuk memenangkan permainan ini.

Di babak ketiga pun sama, Nadya harus menelan kekecewaan karena kembali mengalami kekalahan. Harapannya untuk membelikan Kinan sepatu kini pupus sudah. Uang lima juta, tidak, uang satu juta yang menanti dia di depan mata kini pun lenyap, bahkan sebelum dirinya melihat dengan mata kepalanya sendiri.

"Kinan, maafin Kak Nadya ya, karena kalah kamu nggak jadi beli sepatu baru," kata Nadya saat mereka dalam perjalanan pulang.

"Iya, nggak papa. Nanti saja kalau Kak Nadya sudah punya uang," Kinan menjawab.

Meski Kinan tampak biasa saja tapi Nadya tetap merasa bersalah. Dia berjanji dengan dirinya sendiri akan mengumpulkan uang secepat mungkin supaya adiknya bisa memakai sepatu baru dengan ukuran yang tepat.

Namun, keinginan sederhana Nadya itu sepertinya sedikit sulit diwujudkan. Pasalnya, ketika sampai di minimarket tempat dia bekerja, Nadya harus mendengar kabar kalau minimarketnya kembali kecurian. Atasannya bahkan sampai datang dengan raut bersungut-sungut.

"Kemana saja kamu, Nadya? Bukannya sudah jelas kalau ada rekan yang nggak bisa masuk kerja itu kamu harus back-up? Kenapa diteleponin nggak bisa? Kamu tahu kan kalau tanggal merah kayak hari ini, toko nggak boleh kosong? Lihat sekarang, kalian kehilangan barang. Yang rugi kan kalian juga. Kehilangan barang bulan lalu saja ganti rugi kalian belum lunas, ini malah nambah lagi."

"Maaf, tapi telepon apa, ya?" Nadya masih tidak mengerti. Dia bingung mengapa atasannya menyalahkan dirinya.

Mendengar toko mereka kehilangan barang saja sudah hampir membuat Nadya pusing, ini malah dia salahkan, "Bukannya jadwal yang jaga sudah ada? Kenapa malah jadi saya? Mana saya tahu kalau ada rekan saya yang nggak masuk kerja?"

"Gimana kamu tahu kalau ada yang nggak masuk kerja, orang diteleponin saja nggak bisa," kali ini rekan satu shift Nadya yang menjawab. Seolah dia tidak ikut bertanggung jawab.

"Terus gimana kamu? Kenapa nggak kamu saja yang gantiin?" Nadya balik bertanya. Tidak ingin dirinya disalahkan sendirian.

"Aku ada urusan keluarga. Kalau aku nggak ada acara, pasti aku back-up, kok," katanya membela diri.

Semua mata kini tertuju pada Nadya. Meski dia masuk kerja sesuai shift tanpa pemberitahuan apapun, semua kesalahan kini dilemparkan padanya, membuat gadis itu kesal bukan main.

"Kamu saya SP satu ya. Kalau nggak kayak gitu, masalah ini bakal keulang terus," atasan Nadya memutuskan, setelah berkata seperti itu dia melenggang dari hadapan para bawahannya.

Lihat selengkapnya