(a)NN

Luckie
Chapter #3

Part 3

"Nak, bisa nggak kalau kamu bulan ini bantuin Ayah bayar kontrakan? Uang Ibu habis buat biaya sehari-hari, sementara uang ayah belum cukup. Orderan lagi sepi."

Nasi yang ada di tenggorokan Nadya seketika susah ditelan setelah mendengar perkataan ibunya. Nadya yang awalnya ingin berkata jujur bahwa dia telah diberhentikan dari pekerjaannya pun urung memberitahu begitu mengetahui kondisi keuangan keluarganya yang menyusut.

"Maaf ya, Ibu selalu ngerepotin kamu," ibunya berkata lagi, membuat Nadya kehilangan selera makan. Meski begitu, di depan ibunya dia tetap melahap habis makanannya, seolah semuanya baik-baik saja.

"Iya, Ibu," Nadya menjawab sambil tersenyum getir.

Ibunya kemudian berterima kasih.

Di dalam kamarnya yang remang-remang, Nadya menatap jarum jam yang menunjukkan pukul sepuluh malam. Dia lalu melirik adiknya yang sudah tertidur lelap di sampingnya. Biasanya jam segini dia juga sudah tertidur lelap supaya besok pagi bisa berangkat pagi-pagi atau justru dia baru pulang kerja karena shift siang, tapi kali ini berbeda, Nadya begadang karena tidak tahu besok harus melakukan apa.

Malam semakin larut. Jarum jam sudah menunjukkan pukul satu malam, tapi Nadya masih terjaga, otaknya berputar-putar memikirkan apa yang harus dia lakukan untuk mendapatkan uang agar bisa membantu ayahnya membayar kontrakan. Kalau pun seandainya menunggu uang dari tempat dia bekerja sebelumnya, maka Nadya harus menunggu paling tidak satu hingga tiga bulan sampai semua prosedur dilakukan. Itu juga tidak seberapa kalau gajinya dipotong untuk mengganti barang yang hilang.

Nadya menghela napas berat, kemudian dia teringat dengan tawaran yang pernah menghampirinya.

"Gimana? Kamu mau, nggak?" pertanyaan laki-laki berambut klimis itu seketika melintas di kepala Nadya, membuat gadis itu kembali tergiur untuk menerimanya, tapi dia buru-buru menyingkirkan pikiran itu mengingat betapa besar risiko yang harus ditanggung jika dirinya ketahuan. Selain itu, Nadya juga tidak ingin menipu orang lain dengan berpura-pura menjadi Naomi Salim.

Namun, pikiran Nadya berubah keesokannya, ketika beberapa laki-laki berbadan besar datang ke rumahnya dengan raut masam.

"Kami datang untuk menagih hutang yang telah dipinjam oleh saudara Riko Septian, sejumlah..."

Nadya terkejut bukan main mendengar apa yang dikatakan orang-orang itu padanya. Sudah jatuh tertimpa tangga pula, adiknya yang kedua membuat ulah dengan meminjam uang berjumlah besar secara ilegal dengan menggunakan namanya sebagai wali.

"Kamu gunain uang itu buat apa, Riko!" Nadya berteriak frustrasi. Usia adiknya bahkan belum cukup tujuh belas tahun, tapi dia sudah melakukan transaksi uang dengan jumlah besar, yang bahkan dirinya sendiri pun belum pernah melakukannya.

"A-awalnya aku minjamnya kecil supaya bisa beliin Kinan sepatu kayak yang dipakai teman-temannya, tapi ternyata sepatunya lebih mahal dari yang aku kira. Terus temanku bilang aku bisa dapat banyak uang kalau ngikutin cara dia. Setelah aku ikutin caranya, ternyata benar aku bisa dapat banyak uang. Terus aku ikutin caranya lagi, tapi uangnya nggak bisa dikembalikan. Katanya kalau mau dikembalikan harus ikuti caranya lagi. Begitu seterusnya. Sampai aku pinjam berkali-kali. Sampai sebulan yang lalu dia nggak ada kabar. Awalnya hutangnya nggak sebanyak itu, tapi karena aku nggak segera melunasi, bunganya terus bertambah." Riko berusaha menjelaskan meski dengan kata-kata yang kurang bisa dimengerti. Meski begitu Nadya tetap bisa memahami apa yang dimaksud adiknya.

Melihat adiknya yang gemetar menjawab pertanyaannya, Nadya semakin marah, tapi juga merasa kasihan. Sebagai kakak tertua dia merasa gagal karena tidak bisa mengajari adiknya tentang uang dengan benar. Meski Nadya juga tidak terlalu pandai dalam hal ini, tapi dia tahu dasarnya.

Di sudut ruang tamu, ibu Nadya menangis tersedu-sedu, sementara ayahnya hanya diam meratap di meja makan.

Dengan perasaan tak karuan Nadya masuk kamar, dia memilah jaket yang tergantung di belakang pintu dengan buru-buru untuk mencari sesuatu. Setelah beberapa saat barang yang dia cari akhirnya ketemu. Sebuah kartu nama dari orang yang pernah menawarinya untuk menjadi Naomi Salim.

Lihat selengkapnya