(a)NN

Luckie
Chapter #4

Part 4

Setelah mendapatkan uang, Nadya segera membayar utang yang dipinjam adiknya. Dia tidak ingin berlama-lama berurusan dengan lintah darat yang memeras adiknya dengan bunga yang tidak masuk akal.

"Kalau kamu terlibat lagi dengan yang namanya utang-piutang, aku nggak bakalan bantu kamu lagi! Mengerti!" Nadya berteriak pada Riko tepat setelah dia menyelesaikan masalah yang dilakukan adiknya. Melihat Riko menganggukkan kepala sambil terisak, membuat Nadya merasa iba. Tapi dia berusaha menyembunyikan perasaannya supaya Riko jera dan tak mengulangi kesalahannya lagi.

"Nadya, bisa kita bicara sebentar?" ibu Nadya bertanya hati-hati. Begitu putrinya menganggukkan kepala, mereka lantas masuk ke kamar Nadya, "maaf, kalau Ibu terlalu banyak tanya. Tapi, boleh nggak Ibu tahu dari mana kamu mendapatkan uang itu? Bagaimana bisa kamu dapat uang sebanyak itu dalam waktu singkat? Kamu nggak melakukan hal-hal aneh, kan?"

Nadya paham akan kekhawatiran ibunya. Mendapatkan uang sebanyak itu dalam waktu singkat memang tidak masuk akal. Dia mengerti kalau ibunya mempertanyakan, karena itu Nadya sudah menyiapkan jawaban yang sesuai untuk menanggapi pertanyaan tersebut supaya ibunya bisa mengerti dan mempercayai ucapannya.

"Sebenernya Nadya juga utang ke salah satu kenalan Nadya, Bu. Tapi Nadya harus menggantinya dengan tenaga. Kalau tenaga Nadya belum cukup membayar hutang itu, senggaknya hutang kita nggak berbunga.”

Dahi ibu Nadya mengerut, masih belum mengerti apa maksud perkataan anaknya, "menggantinya dengan tenaga? Maksudnya kerja? Terus gimana dengan pekerjaan kamu di minimarket?"

Nadya menarik napas panjang kemudian menghembuskan secara perlahan, "kerja di minimarket tetap berjalan, tapi sepulang kerja dari sana, Nadya langsung kerja di kenalan Nadya sebagai asisten. Jadi Nadya mungkin nggak bisa sering-sering mampir ke rumah. Untuk sementara waktu, Bu. Setidaknya sampai utangnya lunas, Nadya harus tinggal di sana. Nadya janji akan terus menelepon Ibu.”

"Kamu nggak papa harus kerja di dua tempat? Gimana kalau kamu kecapean?"

Nadya tersenyum tipis melihat raut khawatir ibunya, "Untuk sementara, Bu. Setelah lunas Nadya kembali masuk kerja kayak biasa.”

Ibu Nadya menggenggam erat tangan putrinya, "maafkan Ibu ya, Nak. Seharusnya yang menanggung utang itu adalah Ayah dan Ibu."

"Ibu," Nadya lantas memeluk ibunya saat perempuan tua itu mulai terisak, mencoba menenangkan dan meyakinkan bahwa semua akan baik-baik saja.

***


Keesokannya, Nadya benar-benar datang ke kafe yang kemarin dia datangi bersama Haris untuk menunggu laki-laki itu menjemputnya. Setelah beberapa saat waktu berlalu, Haris akhirnya menampakkan batang hidungnya dengan mengendarai mobil berwarna hitam.

"Ayo naik," katanya setelah menurunkan kaca mobil.

Nadya yang membawa koper di tangannya itu tampak canggung, "Bagasi."

Haris yang baru menyadari akan barang bawaan Nadya itu langsung sigap keluar dari mobil dan membuka bagasinya, "Nadya, sebenarnya kamu nggak perlu bawa barang-barang begini, tapi karena terlanjur, ya sudah," katanya sambil membantu Nadya mengangkat koper ke bagasi mobil.

Nadya tersenyum tipis, "Maaf, tapi saya nggak enak hati kalau sampai harus pakai pakaian Naomi."

"Nggak, kamu harus pakai. Kamu harus kenakan pakaian Naomi. Itu sudah tertulis di dalam kontrak. Kamu nggak baca kontraknya?"

"Maaf, hanya belum sempat."

Obrolan mereka berlanjut di dalam mobil, dalam perjalanan menuju rumah Naomi.

"Saya harus menghadapi keluarga Naomi kayak gimana?" pertanyaan itu baru terlintas di kepala Nadya. Selama ini yang dia pikirkan hanyalah uang, tanpa tahu kalau ada banyak hal yang harus dia hadapi selain dari pandangan publik.

"Naomi tinggal sendiri, jadi kamu nggak perlu khawatir," perkataan Haris membuat Nadya bernapas lega.

"Tapi,"

Perempuan itu harap-harap cemas mendengar Haris menggantung ucapannya, "Tapi, apa?"

"Ibu Naomi nggak tahu rencana ini."

Nadya menelan ludah mendengar perkataan Haris, menatap laki-laki itu penuh tanda tanya.

"Karena itu kamu harus belajar bersikap di depan beliau. Saya yakin kamu pasti bisa."

Nadya hendak protes mendengar pengakuan Haris, tapi kata-katanya hanya sampai tenggorokan mengingat surat kontrak yang sudah dia tanda tangani, juga uang yang sudah dia pakai untuk melunasi hutang adiknya.

Lihat selengkapnya