Nadya ketiduran saat bel apartemen berbunyi, dia pun membuka bola matanya mendengar suara itu yang tak kunjung berhenti.
"Nanti sore ada tutor yang akan mengajari kamu, namanya Aini. Jangan lupa."
Begitu mengingat perkataan Haris, Nadya sontak bangun dari sofa, bergegas ke depan untuk membukakan pintu. Nadya langsung memamerkan senyum terbaiknya begitu melihat seorang perempuan tengah berdiri di depan pintu apartemen.
"Selamat sore, Nadya. Saya hari ini ditugaskan oleh manajemen,"
Belum sempat perempuan itu menyelesaikan ucapannya, Nadya buru-buru menyela.
"Iya, silahkan masuk. Pak Haris sudah cerita," kata Nadya, dia bergeser beberapa senti untuk memberi ruang pada perempuan bernama Aini itu untuk masuk ke dalam, "maaf, tadi saya ketiduran."
Aini tersenyum, "Iya, nggak apa-apa."
Mereka tidak banyak berbasa-basi. Perempuan yang usianya tak jauh dari Nadya itu langsung memberi tahu apa saja yang harus Nadya lakukan untuk berperan menjadi Naomi.
"Naomi orangnya sangat pendiam, bahkan di depan ibunya sekali pun. Jadi kamu nggak perlu banyak bicara untuk terlihat lebih dekat."
Nadya menganggukkan kepala, menyimak dengan saksama apa yang dikatakan perempuan itu.
"Naomi alergi kacang-kacangan, jadi pastikan kamu tidak mendekati makanan itu saat berada di hadapan orang lain."
Setelah memberi tahu semua hal tentang Naomi, perempuan itu kemudian mengajari bagaimana Nadya bersikap di depan umum, terutama di depan kamera. Bagaimana cara berjalan di red carpet, berpose saat pemotretan, juga duduk saat diwawancara media. Perempuan itu tidak hanya memberi materi, tapi juga menyuruh Nadya untuk mempraktikkan.
Meski awalnya sangat kaku dan banyak salah, Nadya akhirnya bisa melakukan tugasnya sedikit lebih baik.
"Sekarang kita belajar akting," kata perempuan itu.
"Akting?" Nadya mengerutkan alisnya, menatap perempuan itu tak mengerti. Setahu dia, Haris tidak menyuruhnya berakting karena tidak ada proyek film dalam waktu dekat. Lalu untuk apa dia latihan akting? Nadya hendak protes, tapi Aini lebih dulu memberi penjelasan.
"Walaupun kamu nggak punya agenda main film dalam waktu dekat, bukan berarti kamu nggak perlu latihan akting, Nadya. Kamu ada jadwal jadi model video klip penyanyi lain, kan?" Nadya menganggukkan kepala.
"Iya, itu artinya kamu harus berakting. Dari proposal yang manajemen terima, lagu itu bergenre ballad, jadi kemungkinan besar kamu harus berakting menangis."
"Saya belum pernah berakting," kata Nadya lagi.
"Itulah gunanya saya di sini," Aini menimpali, "menurut kamu untuk menjadi Naomi, apa namanya kalau bukan berakting."
Nadya meringis, menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Kamu pernah nonton video klip penyanyi yang bergenre ballad?"
"Belum," Nadya menjawab. Itulah kelemahan dirinya, dia tidak mengikuti perkembangan dunia selebriti. Tidak satu pun sampai orang-orang mengatakan bahwa dirinya mirip artis terkenal, Naomi Salim. Setelah itu barulah Nadya mencari tahu siapa Naomi Salim itu dan menyetujui pendapat orang-orang tentang kemiripan mereka. Yang membedakan hanyalah nasib mereka. Keingintahuan Nadya tentang dunia selebriti hanya sampai di situ, tidak kurang dan tidak lebih.
"Kalau begitu saya akan memainkan video klip penyanyi lain untuk menjadi bahan referensi kamu." Aini kemudian memutar satu video klip melalui monitor kemudian menyuruh Nadya untuk menyimak. Setelah itu barulah Nadya mempraktikkan.
Belajar banyak hal dalam waktu singkat memang bukan pekara mudah. Nadya kerap kali melakukan kesalahan, melupakan, kemudian mengulang kembali apa yang dia pelajari. Hingga tak terasa waktu bergulir begitu cepat, pertemuan pertama mereka selesai hingga larut malam.
"Kita masih punya dua kali pertemuan, Nadya. Setelah itu kamu harus tampil di hadapan publik. Melakukan konferensi pers untuk film terbaru kamu," Aini mengemasi barang bawaannya, kemudian mengeluarkan selembaran kertas yang sudah dijilid rapi. "hafalkan! Ini jawaban untuk konferensi pers nanti."
Nadya meraih buku panduan yang disodorkan Aini, "Saya harus menghafalnya?"
"Iya. Apa gunanya saya kasih buku panduan itu kalau nggak kamu hafal?" setelah berkata seperti itu Aini lantas pamit undur diri dan keluar dari apartemen.
Nadya kira malam ini dia bisa tidur nyenyak di kasur empuk milik Naomi, tapi nyatanya dia harus begadang di sofa sambil menghafal jawaban apa saja yang harus dia jawab di konferensi pers nanti.
Malam berlalu begitu cepat. Nadya bangun saat hari menjelang siang. Perempuan itu langsung menuju dapur untuk mengambil segelas air karena perutnya keroncongan akibat belum makan dari kemarin. Dia lantas mencari makanan di kulkas, tapi saat membuka pintu kulkas, Nadya tidak melihat ada sebiji makanan pun tersisa, yang ada hanyalah setumpuk botol mineral yang sebagian botolnya sudah tidak ada isinya.