Nadya membuka matanya ketika mendengar alarmnya berbunyi. Sambil menguap karena masih menahan kantuk, dia menoleh ke arah jarum jam yang sudah menunjukkan pukul sembilan pagi.
Namun, karena ingatannya masih bertumpu pada benda yang tadi malam tanpa sengaja dia temukan, Nadya pun buru-buru turun dari ranjang untuk memastikan bahwa benda itu bukanlah sesuatu yang dia temukan dalam mimpi.
Nadya membuka laci, dia menghela napas lega setelah melihat paspor itu masih berada di tempatnya, tapi setelah Nadya pikir-pikir penemuan itu sebenernya juga sesuatu yang ambigu.
Nadya mengacak-acak rambutnya frustrasi. Dia bahkan belum menemukan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan yang ada di kepalanya, tapi kini dia sudah dihadapkan oleh persoalan baru. Ibunya menelepon dan menyuruhnya pulang ke rumah.
"Kamu di mana? Cepat pulang!" kata Ibu Nadya. Tidak ada obrolan lain selain perintah itu.
Tidak ingin membuat ibunya khawatir, Nadya langsung beranjak dari apartemen. Tidak lupa dia memakai topi dan masker untuk menutupi wajahnya agar orang-orang tidak tahu kalau dirinya bukanlah Naomi yang asli. Selain itu, Nadya tidak ingin fotonya yang tanpa makeup beredar di media sosial, apalagi terkena jepretan kamera wartawan yang kemungkinan akan mengundang huru-hara.
"Kerja sebagai asisten? Sejak kapan kamu bohong sama Ibu, Nak?" ibu Nadya langsung menodongkan ponsel ke arah Nadya begitu dia tiba di rumah. Ponsel itu sedang memutar video Nadya yang sedang melakukan konferensi pers, "meski dirias kayak gimana pun, Ibu tahu kalau itu kamu, Nadya. Kenapa kamu membodohi keluarga kita dan masyarakat? Apa yang kamu pikirkan? Jadi uang sebanyak itu kamu dapatkan dari hasil menipu orang?"
"Ibu, kok ngomongnya begitu?" protes Nadya sambil mengerutkan alisnya. Dia tahu ibunya akan berpikir seperti itu, bahkan dulu pun dia juga berpikir seperti itu, tapi entah mengapa ucapan ibunya benar-benar menusuk ulu hatinya.
"Terus apa Nadya? Kamu dilahirkan menjadi cantik bukan supaya bisa menipu orang lain," ibu berkata penuh penekanan.
Di samping mereka ada Kinan yang menekuk wajahnya. Nadya tahu kalau adiknya lah yang memberi tahu ibunya. Seharusnya Nadya berkompromi dulu dengan adiknya sebelum mengambil tindakan, tapi apa daya, nasi sudah menjadi bubur, Nadya tidak bisa memutar waktu hanya untuk mengatakan pada Kinan kalau mereka harus merahasiakannya dari keluarga, terutama orang tua.
"Bilang sama Ibu kenapa kamu mau menjadi penipu?"
Nadya menghela napas kasar, "Awalnya Nadya juga nggak mau, Bu. Nadya juga pikir kalau kerjaan ini akan menipu banyak orang. Tapi gimana kalau justru membantu orang."
Ibu mengerutkan dahi, tidak mengerti.
"Jadi orang yang bernama Naomi Salim itu melakukan operasi dan karena ada sedikit masalah, dia nggak bisa tampil di publik. Karena itu Nadya menolong dia, Bu. Kalau dilihat dari sisi buruknya, Nadya emang salah karena Nadya menipu banyak orang. Tapi gimana sama Naomi? Dia pasti berharap seseorang bisa membantun dia. Dan cuma Nadya yang bisa bantu Naomi, Bu.”
"Tapi nggak begitu caranya, Nadya."
"Terus gimana, Bu? Kita juga nggak mudah dapatin uang sebanyak itu buat melunasi hutang Riko."
Ibu Nadya diam, air mata yang sedari tadi menggenang di pelupuk matanya akhirnya jatuh membasahi pipinya. Melihat itu Nadya merasa bersalah.
Tepat saat itu ponsel Nadya berdering. Ada satu panggilan masuk dari Haris. Nadya buru-buru mengangkatnya.
"Iya, Pak. Saya segera ke sana," kata Nadya di seberang telepon.
Melihat anaknya hendak beranjak dari hadapannya, Ibu Nadya tampak tidak rela. "Nadya," katanya sambil meraih tangan Nadya.