(a)NN

Luckie
Chapter #11

Part 11

Saat duduk di depan meja rias untuk di make-up, Nadya memperhatikan Haris yang duduk di sofa ruang tunggu melalui cermin, tengah sibuk dengan laptop di hadapannya. Tatapan Nadya segera beralih ketika Haris menggerakkan badannya untuk melakukan peregangan, lalu memperhatikan lagi ketika laki-laki itu tenggelam dalam kesibukannya. Sementara itu, Marisa yang turut serta hadir dalam acara meet and greet, juga tampak sibuk dengan ponsel genggamnya. Nadya kemudian mengingat perkataan Batara padanya kemarin bahwa mereka tidak mungkin mengungkit masalah Naomi jika Nadya berada di sekitar mereka.

Nadya kemudian memalingkan pandangannya ketika ponselnya bergetar. Ada satu buah pesan masuk dari nomor tak dikenal. Nadya meraih ponselnya dan membuka pesan itu.

+628xxxx

"Bisa ketemu sebentar? Ada yang pengen aku kasih ke kamu. Batara."

Nadya terkesiap membaca pesan tersebut, hingga tanpa sadar membuat make-up artist yang sedang meriasnya tampak kebingungan.

"Ada yang salah?" make-up artis bertanya.

Nadya tersenyum tipis sambil menggelengkan kepala. Begitu Make-up artist melanjutkan pekerjaannya, Nadya pun lantas membalas pesan Batara.

"Di restroom samping bioskop, itu tempat paling dekat dari ruang tungguku," balas Nadya, lalu menekan tombol kirim. Tak lama kemudian Batara membalas dengan mengirim emotikan ibu jari.

Setelah riasannya selesai, Nadya lantas meminta izin untuk ke restroom sebentar. Begitu Haris menganggukkan kepalanya, perempuan itu lantas beranjak keluar dari ruang tunggu. Tepat saat itu satu buah pesan dari Batara kembali masuk ke notifikasinya.

"Aku sudah di lorong restroom," katanya.

Alih-alih membalas pesan tersebut, Nadya memilih mempercepat langkah kakinya menuju tempat pertemuan mereka. Perempuan itu segera mendekat begitu melihat sosok Batara berdiri di lorong restroom.

"Pulpen ini buat apa?" Nadya bertanya begitu Batara menyodorkan satu buah pulpen hitam ke padanya.

"Ini perekam suara. Caranya cukup tekan tombol ini," Batara menjelaskan sambil menunjukkan bagaimana cara menggunakannya.

"Walaupun aku sendiri nggak yakin mereka akan membahas masalah Naomi atau nggak, seenggaknya kamu punya alat ini untuk berjaga-jaga."

Nadya menganggukan kepala. Dia yang awalnya masih berpikir kalau Batara hanya basa-basi dengan bilang akan membantunya pun akhirnya dibuat percaya.

"Gunain diam-diam, jangan sampai ada yang tahu. Kalau sudah selesai, kamu simpan pulpen ini lagi. Mengerti?"

"Iya aku mengerti," Nadya menjawab yakin. Dia merasa tugas dari Batara itu mudah dipahami.

"Nadya!"

Nadya terpaku mendengar suara itu. Dia menoleh ke arah sumber suara, begitu juga Batara. Mereka melihat Haris berjalan mendekat. Nadya pun buru-buru menyembunyikan pulpen pemberian Batara supaya Haris tidak mencurigainya.

"Kamu lagi ngapain, Nadya? Sebentar lagi acaranya mau dimulai." Haris melirik Batara sekilas kemudian beralih pada Nadya sambil menyungging sudut bibirnya.

"Oh, aku ketemu Batara di sini, jadi aku nyapa dia sebentar." Nadya tersenyum kikuk, mencari alasan supaya Haris mempercayai perkataannya. Mendengar itu, Batara menganggukkan kepala. Setuju.

"Maaf kalau aku ganggu kalian berdua, tapi Nadya harus tampil sekarang."

Karena tidak ingin membuat situasi bertambah mencurigakan, Batara pun mempersilakan.

Mempraktikkan apa yang Batara katakan padanya, Nadya pun akhirnya mencari cara agar dia bisa menggunakan alat yang dia punya untuk menguping pembicaraan Haris dan Marisa tanpa ketahuan. Menurut Nadya saat dia naik ke atas panggung adalah momen paling tepat.

"Kamu sudah siap?" Haris bertanya.

Setelah Nadya menganggukkan kepala, seorang staf yang bertugas pun membimbing Nadya menuju panggung acara. Semakin dekat Nadya berjalan menuju lokasi acara, semakin keras pula Nadya berpikir bagaimana caranya dia meletakkan pulpen yang dia punya untuk merekam pembicaraan Haris dan Marisa.

Begitu sampai di belakang panggung persis, Nadya tiba-tiba menoleh ke arah Haris, “Pak Haris."

Nadya menghampiri laki-laki itu sambil tersenyum tipis, membuat Haris dan Marisa mengerutkan dahi, menatapnya tidak mengerti.

"Selamat ulang tahun," kata Nadya sambil tersenyum kaku, "saya dengar di ruang tunggu, hari ini Pak Haris ulang tahun."

"Iya," Haris menjawab singkat.

"Selamat ulang tahun, Pak. Semoga apa yang Bapak harapkan di tahun ini segera terealisasikan."

Haris menyungging sudut bibirnya sebelah, tampak kikuk, "terima kasih."

Karena Nadya belum juga berhasil mengalihkan pandangan orang-orang dari Haris dan Marisa, perempuan itu pun mengusahakannya sekali lagi, “Eh, orang itu mirip banget sama Pak Haris.” Nadya menunjuk sembarang orang yang ada di kerumunan. Namun, karena hanya Haris dan beberapa staf saja yang menoleh, sementara Marisa justru menatapnya tajam dirinya, Nadya pun urung melancarkan aksinya.

“Nadya, kamu sebenarnya lagi ngapain? Kamu tahu kan kalau sebentar lagi kamu naik ke atas panggung?” Marisa mengomel, semua tatapan kini beralih ke arah perempuan itu.

Karena apa yang dia lakukan memang mencurigakan, Nadya pun meminta maaf. Tepat saat itu seseorang mendatangi Marisa, membuat semua orang menoleh ke arah orang tersebut. Kesempatan ini pun segera digunakan baik oleh Nadya. Tangannya bergerak cepat mengambil pulpen yang sedari tadi dia sembunyikan di saku celana, kemudian memindahkan benda itu ke tas selempang Haris.

Untungnya setelah itu penonton meet and greet meneriakkan nama Naomi, jadi apa yang dilakukan Nadya tidak mengundang kecurigaan. Setelah Nadya melancarkan aksinya, dia dengan gesit naik ke atas panggung.

Di depan para penggemar yang mengelu-elukan nama Naomi, Nadya hanya bisa memasang senyum di wajahnya sambil berlagak seperti apa yang dia pelajari dari diri Naomi. Meski dalam hatinya dia merasa was-was memikirkan alat perekam yang kemungkinan bisa ketahuan oleh Haris, Nadya tetap bersikap profesional menyelesaikan pekerjaannya, melakukan tanya jawab bersama penggemar, berjabat tangan, juga berfoto bersama. Hingga acara itu selesai, Nadya tidak menangkap kecurigaan bahwa penyadapannya gagal dilakukan.

Di belakang panggung, perempuan itu melihat Haris dan Marisa bercakap-cakap seperti biasa tanpa menaruh prasangka bahwa pembicaraan mereka sedang direkam.

"Good job. Naomi. Kamu menyelesaikan pekerjaan dengan baik," kata Haris begitu Nadya turun dari panggung.

Kalau dipikir-pikir ini adalah kali pertamanya Haris memanggil Nadya dengan sebutan Naomi, mungkin karena di sekeliling mereka ada begitu banyak orang, makanya dia memanggilnya seperti itu. Meski terdengar aneh, Nadya harus membiasakan.

Namun, panggilan itu tentu bukan sesuatu yang harus Nadya pikirkan sepanjang waktu, pasalnya ada hal yang lebih penting dari pada panggilan tersebut, yaitu pulpen perekam yang Nadya gunakan untuk menyadap pembicaraan Haris dan Marisa. Pikiran Nadya sekarang berfokus tentang bagaimana cara mengambil pulpen tersebut dari dalam tas Haris.

Meski Nadya tidak meletakkan pulpen itu terlalu dalam, bahkan ujung pulpen pun masih terlihat dari luar, dia tetap harus berhati-hati mengambil benda itu supaya Haris dan Marisa tidak mencurigai gerak-geriknya.

Nadya terus berpikir keras bahkan ketika mereka berjalan kembali ke ruang tunggu.

Lihat selengkapnya