(a)NN

Luckie
Chapter #13

Part 13


Pagi-pagi ponsel Nadya sudah berisik dengan notifikasi pesan masuk. Karena suara itu tak kunjung berhenti, Nadya pun segera membuka matanya, mengecek pemberitahuan tersebut meski kantuk masih menyergap.

"Awasi tutor kamu sekarang! Kalau dia keluar apartemen, kamu harus segera ambil kunci itu. Aku akan menarik perhatiannya."

"Di mana unit apartemen Naomi tinggal? Kasih tahu aku, nanti aku ke sana."

"Nadya! Kamu masih tidur?"

"Bangun! Cepat!"

"Kali ini kita harus berhasil."

"Nadya!"

Membaca pesan-pesan itu, Nadya segera beranjak dari ranjangnya. Dia lantas dengan cepat membalas pesan Batara meski tidak tahu apa rencana laki-laki itu.

"Ok!" katanya, lalu mengetik pesan yang berisi alamat apartemen yang dia tinggali.

Nadya lantas berdiri di depan pintu, memantau dari lubang kunci dan berjaga-jaga kalau Aini keluar dari kamar. Penantian itu tak berlangsung lama, beberapa saat setelah pesan Nadya bercentang biru yang menandakan bahwa Batara telah membaca pesannya, Aini keluar kamar dengan tergesa-gesa. Nadya melihat dengan jelas ekspresi panik perempuan itu melalui lubang kunci kamarnya. Begitu melihat Aini keluar dari apartemen, Nadya pun dengan cepat masuk kamar tutornya guna mencari kunci ruang rahasia yang semalaman ini dia pikirkan.

Untuk menemukan barang itu sangat mudah, hanya dengan Nadya membuka tas Aini, maka kunci ruang rahasia itu telah dia dapatkan. Nadya pun segera kembali ke kamarnya. Tepat setelah itu pintu apartemen kembali terbuka. Melalui lubang pintu tempat Nadya mengintai, Aini terlihat buru-buru masuk ke kamar, lalu keluar lagi dengan pakaian rapi dan menentang tas. Entah apa yang dilakukan Batara pada perempuan itu, yang jelas Nadya melihat kalau Aini tidak tampak curiga kalau barangnya telah dicuri.

Begitu Aini keluar apartemen, Nadya segera menuju rak buku yang di belakangnya terdapat ruangan rahasia. Namun, sebelum gadis itu menggeser rak dengan sempurna, ponselnya tiba-tiba berbunyi. Nadya segera mengangkat telepon setelah melihat nama Batara tertera di layar telepon.

"Halo," Nadya menjawab setelah meletakkan benda pipih itu ke telinga.

"Buka pintunya, aku di depan."

Mendengar perkataan Batara, Nadya lantas buru-buru membuka pintu apartemen.

"Ini kuncinya, ruangannya ada di belakang rak buku itu," Nadya berkata sambil menunjuk rak di sudut apartemen. Tak lupa dia menepi untuk memberi ruang pada Batara agar bisa masuk ke dalam. Meski ada banyak pertanyaan tentang apa yang dilakukan Batara sampai membuat Aini keluar rumah, Nadya memilih untuk tetap diam dan menyimpan pertanyaannya. Menurutnya membuka ruang rahasia itu jauh lebih penting dari pada sekedar mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang akan membuat laki-laki tersulut amarah.

"Kuncinya banyak banget," Kata Batara saat laki-laki itu hendak membuka pintu ruang rahasia.

"Kuncinya yang mana?"

Kening Nadya mengerut samar-samar, "Ya aku nggak tahu, lah. Kita coba satu-satu."

Batara menghela napas kasar, "Kamu nggak tahu bentuk kunci kamar kamu?"

Nadya tersadar seketika, dia lantas memeriksa kunci yang dipegang Batara. Setelah melihat kunci-kunci itu, Nadya kemudian menunjuk tiga kunci, "Aku nggak tahu yang mana pastinya, tapi yang jelas tiga kunci ini mirip kunci kamarku."

Tak menunggu lama, Batara kemudian mencoba satu per satu kunci yang dimaksud Nadya. Percobaan pertama dan kedua gagal, dan saat Batara mencoba kunci yang ketiga, pintu itu belum juga berhasil dibuka.

"Kamu yakin pakai kunci ini? Kamu nggak salah ngambil?" Batara bertanya sebal. Dia lalu memeriksa kunci lain yang mirip dengan kunci yang ditunjukkan Nadya.

"Di tas itu cuma ada kunci ini," Kata Nadya yakin.

Tapi wajah Batara tampak tidak percaya, "Cari lagi! Buruan!"

Nadya hendak protes, tapi dia akhirnya menurut karena itu adalah langkah satu-satunya.

Perempuan itu lantas berlari menuju kamar Aini. Dicarinya kunci itu di laci, bawah bantal, di mana pun tapi tak kunjung dia temukan. Karena tidak ingin membawa tangan kosong yang bisa membuat Batara memarahinya, Nadya lantas mencabut kunci kamarnya, juga kunci kamar Aini meski dia tahu kalau itu tidak akan berhasil. Setidaknya Nadya tidak akan dimarahi.

Lihat selengkapnya