"Naomi, mulai sekarang kamu punya asisten baru, namanya Dewi," Haris berkata begitu masuk ruang tunggu lokasi syuting. Dia datang bersama seorang perempuan berambut pendek.
Naomi yang saat itu sedang membaca naskah film lantas menghentikan aktivitasnya, "Halo, Mbak Dewi. Saya Naomi," sapanya sambil menyungging kedua sudut bibirnya. Naomi yang saat itu mengenakan mini dress berwarna kuning dan blazer berwarna putih itu terlihat sangat cantik. Senyumannya merekah seperti matahari pagi hari.
Sepanjang kariernya menjadi seorang selebriti, ini adalah kali pertamanya Naomi mengganti asisten pribadinya. Sejak dia terjun ke industri hiburan, Haris yang selalu membantu Naomi melakukan pekerjaannya. Dulu saat Naomi masih di bawah umur, ibunya selalu menemani, tapi sejak Naomi beranjak dewasa dan memilih untuk tinggal sendiri, Haris lah yang selalu membantunya. Dalam urusan pekerjaan, Haris sangat profesional. Makanya, saat Marisa ditunjuk sebagai General Manajer di manajemen, Haris ikut diangkat menjadi manajer pribadi Naomi.
Karena tidak terlalu banyak berbaur dengan orang luar, termasuk saat berada di lokasi syuting, Naomi pun jadi sulit bersosialisasi. Dia membutuhkan waktu lebih untuk menerima orang baru di hidupnya. Bahkan saat awal-awal Dewi menjadi asistennya, Naomi sering kali segan untuk meminta bantuan. Misalnya saat Naomi sedang haus karena membaca naskah dalam waktu lama di lokasi syuting, perempuan itu memilih untuk mengambil minumannya sendiri, rela berputar-putar mencari air karena dia tidak tahu di mana mengambilnya. Naomi juga rela mengambil barangnya yang ketinggalan di apartemen, padahal dia sudah berada di parkiran. Akibatnya kerap kali Dewi ditegur Haris karena dianggap tidak bisa melakukan pekerjaannya dengan baik.
"Kak Naomi, kalau perlu apa-apa bilang ke saya, biar saya bantu apa yang Kak Naomi butuhin. Kalau Kak Naomi mengambil semuanya sendiri, nanti saya bisa ditegur sama Pak Haris," Dewi akhirnya mengungkapkan keluh kesahnya ketika Naomi sedang membaca naskah film di ruang tamu. Dari raut wajahnya, Dewi tampak canggung saat mengutarakan isi hatinya. Saat itu hubungan mereka belum terlalu dekat.
"Maaf, ya, kalau itu malah buat kamu jadi dimarahi, tapi aku nggak ada niatan kayak begitu."
Dewi mengangguk paham,"Iya, membantu Kak Naomi, kan, tugas saya. Kalau Kak Naomi ngelakuin semuanya sendiri, nanti saya bisa dipecat. Kalau saya dipecat, keluarga saya mau makan apa? Bahkan buat kencing di toilet umum saja, saya harus bayar," Dewi menjelaskan dengan nada sedikit bergurau, berharap supaya perkataannya tidak menyinggung perasaan Naomi.
"Baiklah kalau begitu. Sekarang aku minta tolong sama Mbak Dewi buat ambilin minum."
Tak perlu menunggu waktu lama Dewi pun cepat-cepat meluncur ke dapur, mengambil segelas air mineral lalu memberikannya pada Naomi.
Melihat itu Naomi hanya tertawa renyah. Seolah tawa yang sudah lama hilang itu muncul kembali.
"Nah gitu dong, Kak. Kalau begini kan saya nggak makan gaji buta.” Keduanya kembali tertawa.
"Kalau begitu saya beresin peralatan buat syuting besok, ya. Nanti kalau ada apa-apa jangan ragu buat panggil saya." Dewi hendak pergi, tapi Naomi lebih dulu menahannya.
"Sebentar, kamu buru-buru beresinnya?"
Dewi menggelengkan kepala, "Nggak, sih, Kak."
"Kalau gitu kita ngobrol-ngobrol sebentar, gimana? Biar aku nggak terlalu canggung kalau minta tolong."
Dewi tersenyum tipis, "Kak Naomi nggak sibuk? Bukannya lagi baca naskah?"
"Nggak, kok. Bacanya sudah selesai."
Dewi lantas duduk di sofa seberang Naomi, "Ngomong-ngomong, kenapa sih Kak Naomi suka nggak enak kalau mau nyuruh aku buat ngambilin sesuatu? Kenapa selalu canggung?" Dewi bertanya.
Naomi tersenyum lalu berkata, "Aku cuma belum terbiasa sama orang baru saja. Memang sih aku selalu ketemu sama orang di setiap projek film yang aku bintangi, atau ketemu penggemar saat meet and greet, tapi aku nggak bisa intens bersosialisasi."