A Revenge Called Marry

Irma Setiani
Chapter #1

JALAN PINTAS

Siapa yang tidak mengenal Indah? Ia adalah murid paling pintar di SMA Pratama. Sejak awal, ia selalu digadang-gadang memiliki masa depan cerah berkat segudang prestasi yang diraihnya. Meski berasal dari keluarga yang sederhana, semangat juangnya tak pernah padam sedikit pun. Indah dikenal sebagai perempuan manis dengan rambut panjang terurai. Bibirnya merah muda alami tanpa polesan, dan matanya selalu berbinar setiap kali menatap buku yang hampir tak pernah lepas dari genggamannya. Ke mana pun ia pergi, buku selalu menjadi temannya.

Sepulang sekolah, Indah berjalan kaki ditemani sahabatnya, Ariel. Mereka sudah bersama sejak sekolah dasar. Ariel adalah sosok yang berbeda dari Indah—ia lebih menonjol di bidang olahraga. Tubuhnya tinggi, kulitnya sawo matang, dengan senyum yang hangat dan sederhana. Diam-diam, Ariel telah lama menyimpan perasaan untuk Indah. Itu sebabnya ia selalu berada di dekat gadis itu, seolah tak ingin melewatkan satu pun langkahnya. Bahkan, ia pernah berkata ingin menjadi seorang polisi, agar bisa melindungi Indah dari segala bahaya.

Bagi Indah, ucapan itu terdengar lucu saja. Namun, ia hanya menanggapinya dengan santai. Saat ini, yang ada di pikirannya hanyalah satu—melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi setelah lulus SMA, tanpa ingin terlibat dalam urusan cinta terlebih dahulu.

“Ndah, hari ini kamu sudah daftar beasiswa?” tanya Ariel sambil berjalan di samping Indah.

“Aku sudah siapkan berkasnya. Kayaknya besok baru aku daftarkan,” jawab Indah santai. Lalu ia melirik Ariel dengan senyum kecil. “Kalau kamu, Ril… jadi daftar polisi? Itu serius atau cuma omongan doang?”

Ariel tertawa pelan. “Serius dong. Kan demi kamu,” ujarnya menggoda.

Indah meringis, lalu mempercepat langkahnya, sedikit salah tingkah.

“Eh, buru-buru amat sih, Ndah!” Ariel segera mengejarnya. “Oh iya, kamu mau ambil jurusan apa nanti?”

“Aku masih bingung… antara public relations atau bahasa Inggris murni.”

“Wah, kalau kamu sih pasti lolos dua-duanya,” kata Ariel yakin. “Apalagi bahasa Inggris kamu bagus banget.”

Indah tersenyum kecil, tapi sorot matanya berubah sedikit lebih serius.

“Ah, kamu bisa saja. Aku cuma berharap dari beasiswa ini, Ril. Bapakku kan cuma tukang… kayaknya nggak mungkin kalau lewat jalur mandiri.”

Ariel menoleh ke arah Indah, ekspresinya lebih tulus dari sebelumnya.

“Kamu pasti bisa, Ndah. Dengan semua piagam yang kamu punya di rumah, itu sudah lebih dari cukup. Aku doakan kamu lolos. Aamiin.”

Indah menatapnya sejenak, lalu tersenyum hangat.

“Makasih ya, Ril. Semoga kamu juga lolos jadi polisi,” katanya pelan, disusul tawa kecil.

Langkah mereka melambat saat sampai di sebuah pertigaan. Indah tiba-tiba berhenti, menatap ke arah jalan kecil di samping mereka.

Lihat selengkapnya