A Revenge Called Marry

Irma Setiani
Chapter #2

Apakah masa depanku sudah berakhir?

Tubuh Indah kaku, tak mampu bergerak sedikit pun. Rasanya seperti disambar petir—lumpuh, dingin, dan dipenuhi ketakutan.

Ia diseret, dipaksa, dan dilukai tanpa ampun. Seragamnya terkoyak, tubuhnya diperlakukan tanpa belas kasihan. Ia meronta, berusaha melepaskan diri, namun tenaga mereka terlalu kuat.

“Tolong…..!” suaranya pecah, berubah menjadi tangisan yang tak terkendali.

Namun setiap teriakannya dibungkam. Tangannya ditahan. Mulutnya ditutup. Suara Indah tenggelam dalam sunyi yang kejam. Air matanya terus mengalir, bercampur rasa sakit dan ketakutan yang tak terlukiskan. Ia hanya bisa berharap— berharap ada seseorang yang datang.

Dan harapan itu… akhirnya terdengar.

Langkah kaki mendekat. Seorang ibu paruh baya melintas di gang itu, lalu berhenti saat mendengar suara dari balik semak.

“Hei! Apa yang kalian lakukan?!” teriaknya lantang. “Lepaskan gadis itu, atau saya panggil polisi!”

Suara itu memecah segalanya.

Empat dari lima pemuda itu langsung kabur. Satu lainnya tertinggal, tergeletak tak berdaya karena pengaruh alkohol.

Tanpa ragu, ibu itu berlari menghampiri Indah. Dengan cepat, ia melepas jaketnya dan menutupi tubuh Indah, lalu memeluknya erat.

“Kamu aman, Nak… kamu aman,” ucapnya gemetar. “Ya Tuhan… kamu tidak apa-apa?”

Indah tak mampu menjawab. Ia hanya menggeleng lemah. Wajahnya memerah, rambutnya berantakan, tubuhnya gemetar hebat. Tangisnya pecah begitu saja—keras, tanpa bisa ditahan. Seperti anak kecil yang kehilangan arah. Seperti seseorang yang dunianya baru saja runtuh.

“Saya takut… Bu… saya takut…” suaranya patah, tubuhnya menggigil di dalam pelukan itu.

“Iya, Nak… tidak apa-apa… saya di sini,” balas ibu itu lembut, mengusap punggungnya. “Kita pulang, ya. Kita laporkan semuanya. Kita hubungi orang tuamu…”

Ia terus memeluk Indah, seolah berusaha mengembalikan rasa aman yang telah direnggut darinya. Saat itu juga, ibu tersebut menghubungi pihak kepolisian dan melaporkan kejadian yang baru saja terjadi. Ia membawa Indah sebagai korban, serta satu orang pelaku yang tertinggal di lokasi.

Tak lama kemudian, pihak kepolisian menghubungi kedua orang tua mereka. Setelah memberikan keterangan sebagai saksi, ibu itu berpamitan pulang ketika orang tua Indah dan pelaku tiba di kantor polisi. Ayah Indah datang dengan langkah tergesa.

Begitu melihat putrinya, ia langsung memeluk Indah erat. Hatinya seakan diremas—tak sanggup melihat anak perempuan satu-satunya berada dalam kondisi seperti itu.

“Ndah…” suaranya bergetar.

Indah hanya diam dalam pelukan ayahnya, tubuhnya masih gemetar, matanya kosong.

Namun keterkejutan terbesar belum berhenti di sana.

Ayah Indah terpaku saat mengetahui siapa pelaku yang melakukan hal keji itu. Raka, anak dari majikannya sendiri. Seorang laki-laki berusia dua puluh tiga tahun. Pengangguran, namun hidup dalam kemewahan dari orang tuanya. Raka dikenal sebagai sosok yang tak pernah benar-benar dididik. Ia tumbuh tanpa batasan—kesalahan demi kesalahan selalu ditutupi, bahkan difasilitasi.

Rokok, alkohol, hingga kebiasaan berkata kasar menjadi bagian dari kesehariannya. Semua orang di lingkungan itu tahu bagaimana Raka sebenarnya. Namun tak satu pun berani menegurnya, karena keluarganya.

Tak lama kemudian, kedua orang tua Raka datang.

Ibunya langsung berlari memeluk Raka, seolah anaknya adalah korban. Sementara itu, ayahnya berdiri santai di depan kantor kepolisian, menghisap rokok tanpa beban sedikit pun.

Tatapan ibu Raka kemudian beralih pada Indah dan ayahnya. Sorot matanya tajam, penuh penilaian.

“Loh… ini anakmu, Sapri?” ucapnya sinis.

“Iya, Bu…” jawab ayah Indah pelan, suaranya tertahan. Ia merangkul Indah yang tampak lemas di sampingnya. “Saya mohon… saya hanya butuh pertanggungjawaban atas apa yang terjadi pada anak saya.”

“Ah, saya justru yakin anakmu yang menggoda duluan,” balas ibu Raka ketus. “Anak saya tidak mungkin seperti itu.”

“Tidak, Bu… Indah bukan anak seperti itu,” jawab ayah Indah, kali ini dengan suara sedikit bergetar.

Lihat selengkapnya