Pagi itu terasa berbeda dari biasanya. Sinar matahari menyelinap pelan melalui celah jendela kamar yang tertutup rapat. Lampu dimatikan, pintu terkunci dari dalam, dan tak ada satu pun yang berani mengetuk.
Indah mengurung diri.
Ia terbaring di balik selimut tipis berwarna putih, menutupi hampir seluruh tubuhnya. Napasnya pelan, tubuhnya lemah, seolah masih belum sepenuhnya kembali pada kenyataan. Kakinya terasa kaku. Dari betis hingga lutut, nyeri itu masih tertinggal. Lengannya dipenuhi memar kebiruan—bekas cengkeraman yang terlalu kuat untuk dilupakan begitu saja. Semuanya masih terasa nyata.
Hari itu adalah hari kelima setelah kejadian pahit yang menimpa Indah. Ia masih belum berani keluar dari kamarnya. Trauma itu menyelimutinya, hari demi hari. Setiap kali ingatan itu kembali, air matanya ikut jatuh. Tak jarang, ia melampiaskan rasa sakitnya dengan menyakiti dirinya sendiri—seolah itu satu-satunya cara untuk meredakan sesak di dadanya.
Namun rasa sakit di tubuhnya… tidak pernah sebanding dengan luka yang tertinggal dalam ingatannya. Ayahnya pun tak banyak bicara. Ia hanya sesekali mengetuk pintu, mengingatkan Indah untuk makan. Tak lebih. Ia bukan tidak peduli. Ia hanya tidak tahu harus berkata apa. Seorang lelaki yang terbiasa diam, kini dihadapkan pada luka yang tak mampu ia pahami sepenuhnya. Indah adalah anak piatu. Ibunya telah tiada sejak ia berusia sepuluh tahun. Dan hari-hari seperti ini,rasanya luka itu terasa lengkap, saat tidak ada lagi pelukan seorang ibu untuknya.
Seorang ibu paruh baya datang berkunjung ke rumah Indah dan ayahnya. Namanya Ratri—perempuan yang menjadi saksi atas kejadian keji yang menimpa Indah. Di tangannya, ia membawa satu plastik berisi buah-buahan. Namun bukan hanya itu yang ia bawa. Ia juga membawa amarah. Ia tahu apa yang terjadi di kantor polisi kemarin. Dan ia tidak bisa menerima cara semuanya diselesaikan.
Sejak kemarin, kabar itu sudah menyebar ke seluruh kampung. Cepat, liar, tanpa arah. Cerita tentang Indah beredar dari mulut ke mulut. Bukan sebagai luka, melainkan seperti bahan pembicaraan hangat yang kata mereka tidak boleh dilewatkan. Seolah itu hiburan. Ada yang menyalahkan pelaku. Namun tak sedikit pula yang menyalahkan Indah. Sebagian membicarakannya siang dan malam, menambahkan bumbu, membesar-besarkan cerita, seakan mereka tahu semuanya.
Bu Ratri mengetuk pintu rumah itu. Tak lama kemudian, Sapri membuka pintu.
“Pak Sapri, saya… yang kemarin bersaksi di kantor polisi,” ucap Bu Ratri.
“Bu Ratri…” Sapri terlihat terkejut, lalu sedikit menunduk. “Maaf, saya belum sempat berkunjung ke rumah Ibu. Saya ingin mengucapkan terima kasih… karena sudah menyelamatkan anak saya.”
“Pak Sapri, maaf kalau saya lancang. Saya sudah mendengar semuanya… tentang yang terjadi kemarin.”
Sapri mengangguk pelan.
“Iya, Bu. Tapi silakan masuk dulu. Tidak enak kalau terdengar tetangga… kabar ini sudah ke mana-mana.”
Bu Ratri masuk, lalu duduk di ruang tamu sederhana itu.
Ia menarik napas sejenak, mencoba menahan emosinya.
“Begini, Pak. Saya jujur kecewa. Maaf sebelumnya… tapi apakah kita harus menerima diperlakukan seperti itu hanya karena kita tidak punya apa-apa? Seharusnya Bapak menuntut. Bukan malah membiarkan anak Bapak disatukan dengan pelaku kejahatan.”
Sapri terdiam. Wajahnya menunduk, suaranya berat.
“Saya menyesal, Bu… sangat menyesal. Tapi saya tidak punya pilihan. Polisi saja tidak membela kami. Mereka lebih berpihak ke keluarga pelaku.”
Ia menghela napas panjang.
“Mulai hari ini, saya juga sudah berhenti bekerja di sana. Saya tidak sanggup lagi melihat mereka.”
Bu Ratri menatapnya, sedikit melunak.
“Lalu sekarang… Bapak mau bagaimana? Bagaimana keadaan Indah?”
“Indah masih di kamar, Bu. Sudah lima hari ini dia tidak mau keluar. Makan pun hanya sedikit… itu juga saya taruh di depan pintu.”
Bu Ratri menghela napas pelan, matanya terlihat berkaca-kaca.
“Dia pasti sangat trauma, Pak. Saya ikut sedih mendengarnya. Mungkin… untuk sekarang, beri dia waktu. Biarkan dia memproses semuanya dengan caranya sendiri.”
Sapri mengangguk.