Hujan rintik-rintik mulai turun ke permukaan. Tetesannya membasahi jendela perlahan, menciptakan suasana hangat di dalam rumah kecil itu.
Ariel datang sambil membawa beberapa buku yang ia pinjam dari perpustakaan balai kota.
Indah yang tadi duduk di sofa kecil di ruang tengah langsung bangkit. Ia berlari kecil menghampiri Ariel. Matanya berbinar, sedikit berkaca-kaca—namun kali ini bukan karena kesedihan.
Ada rasa tenang. Ada rasa aman.
Seolah akhirnya, ada seseorang yang bisa ia andalkan… selain ayahnya. Ia menyambut Ariel dengan senyum kecil. Perlahan, Indah mulai bangkit. Ia mencoba menjalani hari-harinya kembali, meski belum sepenuhnya berani keluar dari rumah.
Tiga minggu telah berlalu.
Rasanya baru kemarin dunia Indah runtuh. Namun kini, ia mulai belajar melanjutkan hidup. Ariel menjadi sosok yang selalu ada. Membawa rasa aman yang tak pernah ia rasakan sebelumnya.
Sementara itu, Sapri mulai bekerja kembali. Kali ini, ia membantu di rumah makan milik tetangga. Ia telah berjanji pada dirinya sendiri—dan pada Indah—untuk tidak pernah lagi kembali ke rumah orang-orang yang telah menghancurkan hidup anaknya.
Hari-hari Indah perlahan terisi kembali. Ia dan Ariel sering duduk bersama di ruang tamu, membaca buku. Kadang menonton kartun lama yang dulu mereka sukai. Kadang bermain kartu di halaman rumah, ditemani suara hujan atau angin sore.
Dan untuk pertama kalinya sejak kejadian itu, senyum Indah mulai kembali. Meski tidak pernah benar-benar sama seperti dulu.
“Besok… aku mau ambil ijazah kelulusanku.”
Indah menutup buku yang sedang ia baca.
“Hah? Kamu serius, Ndah?” Ariel terlihat terkejut.
“Iya. Kamu mau temani aku?”
Ariel menatapnya sejenak.
“Aku mau, kok. Tapi… kamu nggak apa-apa? Kamu sudah siap keluar?”
Indah mengangguk pelan.
Ariel tersenyum lega. “Oke. Besok aku jemput pakai sepeda, ya?”
“Loh… kamu punya sepeda?”
“Iya. Ibuku beliin buat hadiah ulang tahunku minggu lalu.”
Indah terdiam sebentar, lalu menepuk keningnya pelan.
“Aku lupa… maaf ya, Riel. Kamu sibuk ngurusin aku sampai aku malah lupa ulang tahun kamu. Selamat ulang tahun ya.”
Ada nada bersalah di suaranya.
Ariel hanya tersenyum kecil.
“Buat aku, kamu bisa senyum dan mulai bangkit lagi… itu sudah hadiah terbaik.”
Indah tertawa pelan, pipinya sedikit merona. “Ih, gombal…”
Ia menunduk sebentar, lalu kembali menatap Ariel. “Makasih ya, Riel. Kamu sudah nemenin aku tiap hari.”
Ariel mengangguk ringan.
“Dengan senang hati. Besok aku jemput jam tujuh, ya.”
Indah tersenyum. “Oke… sampai besok.”
***
Senin pagi yang dinantikan akhirnya tiba. Indah berdiri di depan cermin panjang, mengenakan seragam sekolahnya. Ia menatap bayangannya sendiri cukup lama. Seragam itu… seharusnya terasa biasa. Namun hari ini terasa berbeda. Asing. Dan… menyakitkan.
Seragam yang ia kenakan sama seperti yang ia pakai saat kejadian itu. Bedanya, yang dulu telah hilang—dibakar oleh ayahnya, bersama kenangan yang terlalu sulit untuk disimpan. Untungnya, ia masih memiliki satu seragam lain.
Indah menarik napas pelan, mencoba menenangkan diri. Hari ini, ia harus keluar.
Di luar, Ariel sudah datang lebih awal dari yang dijanjikan. Ia berdiri di halaman, membawa sepeda barunya.
“Pak Sapri, Indah sudah bangun?” tanyanya.
Sapri yang sedang menyapu halaman menoleh dan tersenyum.
“Wah, pagi sekali kamu datang, Nak Ariel. Kebetulan Indah juga sudah siap.”
Ariel mengangguk ringan.
“Iya, Pak. Pagi lebih enak buat jalan ke sekolah.”
Sapri menghentikan sapunya sejenak, lalu menatap Ariel dengan serius.
“Saya agak khawatir… nanti ada omongan yang tidak baik ke Indah di sekolah. Kalau ada, tolong jaga dia, ya.”
Ariel mengangguk mantap.
“Saya juga kepikiran itu, Pak. Tapi tenang, ada saya.”
Sapri tersenyum tipis.
“Saya lega… Indah punya sahabat seperti kamu.”
Tak lama, Indah keluar dari rumah.
Sepatu dan tasnya terasa asing setelah lama tak digunakan. Namun penampilannya terlihat rapi—seperti gadis yang mencoba memulai lagi dari awal.
“Ayo, Riel. Ayah , Indah berangkat dulu.”
Ia menyalami ayahnya.
“Iya, Nak. Hati-hati di jalan,” jawab Sapri lembut. “Ariel, jaga Indah, ya.”
“Siap, Pak.”