A Revenge Called Marry

Irma Setiani
Chapter #5

Detak Pertama

Pagi terasa sendu, makanan di piring yang sudah dibuatkan ayahnya tidak tersentuh oleh Indah. Ia Indah hanya duduk melamun di meja makan, memainkan sendok dan garpu di tangannya tanpa benar-benar berniat makan. Nasi di piringnya masih utuh. Sapri memperhatikannya dari seberang meja. Wajah anaknya tampak lesu, kosong. Mereka sama-sama diam, tenggelam dalam pikiran masing-masing. Banyak yang ingin dikatakan, tapi tak satu pun tahu harus mulai dari mana… atau bagaimana mengakhirinya.

Senyum yang sempat kembali setelah berminggu-minggu, lenyap begitu saja sejak kabar itu datang.

Tet… teet…

Ponsel Indah bergetar di atas lemari.

Lima detik… sepuluh detik…

Dering itu terus berbunyi, tapi Indah tak bergerak sedikit pun. Tatapannya kosong, seolah dunianya runtuh dalam satu waktu. Sapri akhirnya berdiri, berjalan pelan, lalu mengangkat telepon itu.

“Haloo…”

“Halo Pak Sapri, Indah di mana? Ini Ariel.”

Sapri menoleh ke arah Indah. Indah hanya menggeleng pelan, matanya bahkan tak terangkat.

“Maaf, Nak Ariel. Indah sedang tidak enak badan.”

“Loh, Indah sakit, Pak?”

“Sedikit demam… tapi tidak apa-apa.”

“Oh begitu… saya sebenarnya ingin menyampaikan hal penting, Pak.”

“Kalau tidak keberatan, bisa disampaikan ke Bapak. Nanti Bapak sampaikan ke Indah.”

“Hm… baik, Pak. Tolong bilang ke Indah… mungkin saya akan jarang menghubungi. Banyak hal yang harus saya jalani di sini.”

Sapri terdiam sejenak sebelum menjawab.

“Baik, Nak. Tidak apa-apa. Indah pasti senang kalau mendengar kabar baik dari kamu.”

“Terima kasih, Pak. Titip salam ya. Semoga Indah lekas sembuh.”

“Iya, Riel. Hati-hati di sana.”

Telepon ditutup.

Sapri menatap Indah beberapa detik, lalu berjalan mendekat. Indah masih belum menyentuh makanannya.

“Ndah… makan ya, Nak. Jangan siksa diri kamu.”

Tak ada jawaban. Hanya suara napas yang berat di antara mereka.

“Ndah… kemarin dari puskesmas minta kita ke sana. Kita USG, ya. Kita pastikan… apakah benar ada janin atau tidak.”

Indah mengangkat wajahnya. Matanya penuh luka dan penolakan.

“Ada atau tidak… Indah nggak mau punya anak, Yah. Indah mau sekolah. Indah nggak mau dinikahi sama orang itu.”

Sapri menahan napas, mencoba tetap tenang.

“Ayah tahu, Ndah… tapi kita pastikan dulu, ya.”

“Indah nggak mau!”

Indah berdiri tiba-tiba, menyentak meja makan. Sendok dan garpu beradu keras. Tanpa menoleh lagi, ia berjalan cepat menuju kamarnya.

Pintu kamar tertutup keras.

Di dalam kamar, Indah masih bersandar di pintu. Tangisnya perlahan mereda, menyisakan napas yang berat dan tidak teratur. Ia mencoba berdiri. Tangannya meraba dinding, mencari pegangan. Namun tubuhnya terasa lemah. Baru beberapa langkah, kepalanya terasa ringan. Pandangannya sedikit berkunang-kunang. Ia berhenti, memejamkan mata, mencoba menenangkan diri.

“Kenapa…” bisiknya lirih.

Bukan hanya hatinya yang lelah—tubuhnya pun terasa ikut menyerah. Ia berjalan pelan menuju tempat tidur, langkahnya goyah. Setiap gerakan terasa menguras tenaga, seolah ia baru saja berlari jauh… padahal tidak. Sesampainya di tepi tempat tidur, ia duduk perlahan. Lalu merebahkan diri tanpa tenaga. Matanya menatap langit-langit kamar. Kosong. Tangannya terangkat pelan, lalu jatuh di atas perutnya.

Ia merasakan napasnya sendiri yang masih berat… dan tubuhnya yang terasa asing, lemah, dan tak lagi sepenuhnya ia pahami. Kelopak matanya terasa berat. Sangat berat. Air mata kembali mengalir, tapi kali ini tanpa suara. Perlahan… ia memejamkan mata. Bukan karena ingin tidur. Tapi karena ia terlalu lelah untuk terus berpikir… dan terlalu lelah untuk terus merasa.

Sapri berdiri beberapa saat di depan pintu itu. Tangannya menggantung di udara, ragu untuk mengetuk lagi. Hening. Ia menarik napas panjang, lalu berbalik menuju meja makan. Sepiring nasi yang tadi masih utuh di depan Indah kini ia ambil pelan. Lauknya masih hangat, tapi tak lagi menggugah selera.

Sapri menatap piring itu sejenak. Lalu berjalan kembali ke depan kamar Indah.

Ia tidak mengetuk. Hanya meletakkan piring itu di lantai, tepat di depan pintu.

“Ndah… Ayah taruh makan di sini ya,” ucapnya pelan. “Kalau nanti kamu lapar… dimakan, ya Nak…”

Tak ada jawaban.

Sapri terdiam beberapa detik, seolah berharap ada suara dari dalam.

Namun tetap hening.

Akhirnya ia melangkah pergi dengan pelan, meninggalkan piring itu… dan harapan kecil agar Indah mau memakannya. Di dalam kamar, Indah tak tahu kalau makanan itu sudah ada di depan pintunya. Ia masih terbaring lemah, matanya terpejam, tubuhnya terasa berat. Tangannya terletak di atas perutnya. Napasnya yang terdengar pelan… dan lelah.

Malam telah berganti. Indah terbangun karena perutnya terasa sangat sakit. Seharian ia belum makan sedikit pun. Tubuhnya lemas, kepalanya terasa berat, dan pikirannya masih dipenuhi oleh rasa putus asa.

Di ruang makan, Sapri tertidur dengan kepala bersandar di atas meja. Ia tetap menunggu, berharap anaknya membuka pintu kamar dan mau memakan makanan yang tadi ia letakkan.

Indah bangun dari tempat tidurnya.

Lihat selengkapnya