A Revenge Called Marry

Irma Setiani
Chapter #6

Dan, Lagi

Tujuh bulan sudah Indah mengandung. Perutnya masih terlihat kecil, seolah bayi itu memilih bersembunyi karena kehadirannya tak pernah diharapkan. Namun, perlahan Indah mulai menerima. Ia belajar mengikhlaskan semua yang telah terjadi.

Hari-harinya dihabiskan di rumah. Membaca buku, membersihkan rumah, minum vitamin kehamilan, lalu mendengarkan musik yang menenangkan. Hidupnya berjalan pelan, nyaris tanpa perubahan.

Lambat laun, kabar tentang kehamilan Indah mulai terdengar di sekitar rumahnya. Namun ayahnya berusaha menutupi semuanya agar tidak kembali menjadi bahan gosip. Untungnya, para tetangga memilih untuk menjaga kabar itu. Mereka memahami keadaan Indah dan menghargai privasinya.

Bahkan, kabar itu tidak pernah sampai ke telinga Ariel. Sejak melanjutkan pendidikan di luar kota, Ariel semakin sibuk dan hanya sesekali menghubungi Indah melalui telepon. Indah sengaja merahasiakan kehamilannya. Ia tidak ingin Ariel ikut terbebani oleh kenyataan yang harus ia hadapi.

“Indah sudah minum vitaminnya?” tanya Sapri.

“Sudah, Yah. Ayah mau ke mana lagi?”

“Mau bekerja. Di kota sebelah sedang membutuhkan banyak tenaga kurir.”

Indah cemberut.

“Kenapa, Nak?”

“Aku ngerepotin Ayah banget ya?”

“Ya enggak, dong. Ini sudah jadi kewajiban Ayah sebagai kepala keluarga.” Sapri tersenyum.

“Ayah, kalau aku sudah lahiran nanti, aku janji akan bantu Ayah bekerja.”

“Indah bisa bertahan sampai sejauh ini, Ayah sudah senang.”

Indah mengangguk pelan.

“Ayah pergi dulu, ya.”

“Ayah hati-hati, ya.”

Indah menatap ayahnya yang perlahan meninggalkan rumah. Ia sadar, ayahnya bekerja jauh lebih keras demi dirinya dan bayi yang sedang ia kandung. Sejak Indah hamil, Sapri hampir tidak pernah mengambil hari libur. Apa pun pekerjaannya, selalu ia jalani demi mencukupi kebutuhan mereka.

Indah merasa khawatir, tetapi ia tidak mampu melakukan apa pun. Bahkan untuk melangkahkan kaki keluar rumah saja, tubuhnya terasa begitu berat. Meski perlahan mulai menerima kenyataan, rasa malu dan takut masih terus menghantuinya.

Lihat selengkapnya