A Revenge Called Marry

Irma Setiani
Chapter #7

Rumah Baru

"Aku ingin ikut Ayah..."

Suara lirih itu keluar nyaris tanpa sadar.

Rumah yang sejak pagi dipenuhi pelayat kini mulai lengang. Hanya terdengar suara beberapa ibu yang sibuk menyiapkan pengajian malam, sementara aroma bunga masih memenuhi ruangan.

Indah duduk diam di sudut ruang tamu, menatap foto ayahnya di dinding. Pandangannya kosong. Rasanya sebagian dari dirinya ikut pergi bersama ayah yang baru saja dimakamkan.

"Aku ingin ikut Ayah..."

Air mata kembali jatuh tanpa suara.

"Ndah..."

Suara Bu Yanti membuyarkan lamunannya.

"Kamu melamun?"

Indah mengangguk pelan.

"Ayahmu sudah dimakamkan. Kamu istirahat saja dulu. Biar pengajian malam ini kami yang urus."

"Iya, Bu."

Bu Yanti duduk di samping Indah. Wajahnya tampak gelisah, beberapa kali ia melirik ke arah pintu seolah menunggu seseorang.

"Ndah... sebenarnya ada hal yang harus kami sampaikan."

Indah menoleh pelan.

"Apa, Bu?"

"Pak..."

Bu Yanti memanggil suaminya yang sedari tadi berbincang dengan beberapa warga di teras.

Pak RT masuk lalu duduk di hadapan Indah. Ia mengembuskan napas panjang sebelum membuka suara.

"Maaf, ya, Nak. Sebenarnya kami tidak tega menyampaikan ini di saat kamu masih berduka."

Indah mulai merasa tidak enak.

"Memangnya ada apa, Pak?"

Pak RT menunduk sesaat.

"Ayahmu... punya utang."

Indah mengernyit.

"Utang?"

"Iya Ndah."

"Berapa, Pak?"

Pak RT menelan ludah.

"Sekitar tiga ratus juta rupiah."

Wajah Indah seketika memucat.

"Tiga ratus juta?"

Suaranya nyaris tak terdengar.

"Ayah pinjam uang sebanyak itu buat apa?"

Bu Yanti menggenggam tangan Indah.

"Ayahmu meminjam uang itu dari kami."

Indah menatap Bu Yanti tak percaya.

"Beliau bilang uang itu dipakai untuk mengurus kasusmu."

"Maksudnya?"

"Waktu kejadian itu, ayahmu ingin semua pelaku dihukum. Beliau mengeluarkan banyak biaya ke sana-sini. Beliau tidak pernah mau kamu tahu karena takut kamu kembali mengingat kejadian itu."

Air mata Indah mulai menggenang.

"Tapi... Raka masih bebas."

"Iya," jawab Pak RT pelan. "Raka memang lolos karena keluarganya punya banyak uang dan pengaruh. Tapi empat orang yang ikut melakukan kejahatan itu akhirnya dipenjara. Ayahmu merasa perjuangannya tidak sia-sia."

Indah menunduk.

Dadanya semakin sesak.

Selama ini ia mengira ayahnya sudah bisa menerima kenyataan. Ternyata diam-diam, Ayahnya berjuang sendirian demi mencari keadilan untuk putrinya.

"Kalau begitu..." suara Indah bergetar. "Aku akan bayar utang Ayah."

Pak RT dan Bu Yanti saling berpandangan.

Lihat selengkapnya