A Revenge Called Marry

Irma Setiani
Chapter #8

Pagar yang Tinggi

Indah memasuki rumah keluarga Raka dengan langkah ragu. Dadanya sesak, seolah setiap tarikan napas mengingatkannya bahwa mulai hari ini hidupnya bukan lagi miliknya. Rumah itu berdiri paling megah di antara rumah-rumah lain di kampung. Berlantai dua, berpagar besi tinggi, dengan halaman yang luas dan terawat. Bagi orang-orang, rumah itu adalah lambang kemewahan. Namun bagi Indah, rumah itu tak ubahnya gerbang menuju neraka. Baru beberapa langkah masuk, seorang perempuan paruh baya keluar dari arah dapur. Rambutnya dipenuhi uban yang disanggul rapi, tubuhnya sedikit membungkuk karena usia.

"Kamarnya sudah siap, Bi?" tanya ibu Raka.

"Sudah, Bu."

"Yowes, antarkan anak ini."

Indah mengikuti langkah perempuan yang dipanggil Bibi itu. Mereka melewati ruang tamu yang luas, lalu menyusuri lorong panjang hingga tiba di sebuah kamar di sudut belakang rumah, tepat di samping kamar pembantu. Ruangan itu sempit. Hanya ada kasur kecil, lemari kayu yang catnya mulai mengelupas, serta sebuah jendela mungil yang menghadap halaman belakang. Entah mengapa, melihat kamar itu justru membuat Indah sedikit lega. Setidaknya, ia tidak harus tidur sekamar dengan Raka. Kalau pun nanti dirinya hanya dijadikan pembantu tanpa dibayar, rasanya itu masih lebih baik daripada harus berada di dekat laki-laki yang telah menghancurkan hidupnya.

"Ini kamarmu, Nak," ucap Bibi sambil tersenyum lembut. "Tadi sudah Bibi bersihkan. Semoga betah, ya."

Indah membalas dengan senyum tipis.

"Iya... terima kasih, Bi."

"Sekarang istirahat dulu. Nanti sore kita bersihkan halaman. Ibu menyuruh Bibi ngajarin kamu pekerjaan rumah selama tinggal di sini."

Kalimat berikutnya membuat tubuh Indah kembali menegang.

"Besok pagi katanya mau akad. Nanti sore kita coba kebaya. Bibi sudah pinjam dari penjahit."

Indah hanya mampu mengangguk pelan.

Bibi melangkah keluar, tetapi baru beberapa langkah ia berhenti. Ia menoleh ke arah Indah yang masih berdiri mematung di samping kasur. Tanpa berkata apa-apa, perempuan tua itu kembali menghampiri lalu memeluk Indah dengan hangat. Pelukan itu sederhana. Namun sejak ayahnya meninggal, belum ada lagi yang memeluknya setulus itu.

"Bibi jadi ingat cucu Bibi di kampung," ucapnya lirih. "Mungkin sekarang usianya juga sudah sebesar kamu."

Lihat selengkapnya