A Way To Find You

Febby Juniatara
Chapter #1

Surat Cinta

"Lo yakin ini lokernya?" Alfin memandang Ferdian yang mengacungkan dua jempolnya sambil mengangguk-angguk bersemangat.

Alfin tampak sangsi. Biasanya Ferdian tidak bisa dipercaya karena dia sering sekali terkena sial karena percaya begitu saja pada ucapan Ferdian.

"Tunggu apalagi? Buruan masukin sebelum ada yang lihat," Ferdian mengerutkan keningnya.

"Gue ragu kalo ini beneran lokernya dia," kata Alfin.

"Aduh, beneran deh. Udah dua hari ini gue buntutin dia dan gue lihat dia buka loker ini, kok," kata Ferdian. Tangannya bersedekap. "Hanny kan? Ini lokernya dia."

Alfin menghela napas. "Oke, kali ini gue coba percaya pada elo."

Mata Alfin menatap loker dihadapannya dengan wajah gugup. Sebuah surat dengan amplop berwarna pink tampak dia genggam erat-erat.

"Oke...," Alfin berkata pada dirinya sendiri. Ferdian nampak tidak sabar.

"Ya ampun, masukin surat aja lama banget, sih. Buruan kek, nanti keburu anak-anak ekskul pada bubaran. Lo mau kepergok orang lagi masukin surat cinta ke loker cewek?" cerocos Ferdian membuat Alfin kesal.

"Elo bawel amat, sih. Iya nih, gue masukin," kata Alfin dongkol. Dan dia-pun memasukan surat itu kedalam lubang kecil di pintu loker.

"Yuk, buruan kita balik," ajak Alfin yang diiyakan oleh Ferdian. Mereka berdua kemudian keluar dari gedung sekolah yang sudah mulai sepi. Hanya ada anak-anak yang terlibat ekskul yang masih betah berada di sekolah sampai sore hari. Umumnya mereka yang ikut ekskul olahraga-lah yang pulang lebih sore dibanding yang lainnya, karena mereka berlatih untuk menghadapi pertandingan, entah pertandingan persahabatan ataupun pertandingan resmi.

Alfin memandang ke arah loker itu lagi. Loker yang akan menjadi jembatan baginya untuk menyampaikan perasaan suka yang sudah dia pendam selama setahun belakangan ini.

"Mungkin sebaiknya nanti malam gue berdoa. Semoga perasaan gue terbalas," batin Alfin.

***

"Han, pulang bareng, yuk," ajak Martha yang sedang mengambil buku-buku pelajaran yang dia tinggalkan di lokernya selama dia ekskul.

Hanny mengangguk pelan sambil tangannya memasukkan kunci dengan gantungan berbentuk bebek kedalam lubang kunci lokernya.

"Latihan hari ini capek banget, yah," kata Martha.

"Hmmm…," balas Hanny mengiyakan.

Pluk…

Secarik surat jatuh dari dalam lokernya. Hanny menunduk dan menatap surat itu dengan keheranan. Seingatnya, dia tidak pernah menaruh surat apapun ke dalam lokernya dan belum menerima surat satu pun minggu ini, kalaupun ada, surat itu pasti di alamatkan ke rumahnya.

Penasaran, Hanny memungut surat itu dan membolak-balik suratnya.

"Surat apaan, nih?" dia bergumam sendiri.

Martha yang lokernya berada beberapa pintu dari Hanny menoleh dan menatap Hanny yang tampak bingung memandang surat di tangannya.

"Apaan itu, Han? Surat?" dengan terburu-buru, Martha menjejalkan semua buku-bukunya ke dalam tas dan mengunci lokernya lalu menghampiri Hanny.

"Dari siapa?" tanyanya lagi.

Hanny meliriknya lalu angkat bahu, "Gak tahu. Gak ada nama pengirimnya."

"Heee… mungkin surat cinta buat elo," goda Martha dengan bersemangat.

"Ngaco," sahut Hanny.

"Kalau gitu buka aja suratnya. Siapa tahu memang surat cinta, liat aja, amplopnya aja warna pink. Hihihi…," Martha terkikik.

Lihat selengkapnya