Baru akan duduk, yang ditunggu akhirnya datang. Mobil pengiriman telah parkir di depan dan Evan pun bergegas mengecek sambil membantu menurunkan. Ia sangka akan datang beberapa jam lagi ternyata sangkaan itu salah besar tapi lebih cepat lebih baik karena stok minyak goreng sangat dibutuhkan sekarang.
"Terimakasih, Pak!" Evan berucap begitu pesanan selesai di turunkan semua dan sesuai dengan catatan.
"Sip, bayarannya sudah tadi dilunasi sama pak haji," ucap si petugas duduk sebentar untuk minum. "Minggu depan barangnya bakal banyak dikirim ke sini gak?" tanyanya.
"Kalau itu lihat pembeli yang datang dulu kan rezeki sudah ada yang ngatur." Evan ikut duduk disebelahnya dan setelah berbincang santai si pengirim barang masuk ke dalam mobilnya.
Kemudian mobil pun melaju pergi untuk mengantar pesanan ke toko-toko berikutnya. Di dalam, Evan mulai menata dan meletakkannya ditempat yang seharusnya. Kalau siang ini belum juga ada pembeli berarti sore nanti harus siap dalam menghadapi banyaknya pembeli.
Sementara di ruangan kelas 7C sangat gaduh bahkan beberapa kali guru datang untuk menegur namun bukannya berhenti malah terus berlanjut. Baru, setelah Pak Gandi datang untuk mengajar pelajaran matematika semua mendadak diam tak berkutik.
Adel yang dari tadi terus saja mendengar desisan tapi bukan bersumber dari seekor ular melainkan murid-murid yang menanyakan bagaimana cara mengerjakan tes sekitar lima soal.
Adel akui, mau lima atau satu sekalipun, kalau namanya pelajaran matematika pasti mengerjakannya membutuhkan banyak waktu apalagi pak Gandi menyuruh langsung mengumpulkan entah itu selesai atau tidak. Bonusnya akan dapat di akhir semester nanti, bukan bonus berupa uang. Kalau uang semuanya pasti mau. Lah ini, disuruh mengerjakan soal matematika yang banyaknya sudah bikin pusing kepala. Adel pun dari tadi malah corat-coret sana-sini tak kunjung menemukan jawaban yang diinginkan.
Berbeda dengan kelas 11-IPS 3 muridnya sedang mendengarkan penjelasan dari Pak Mukti tentang sejarah Indonesia dari mulai perang dunia sampai detik-detik proklamasi dijelaskan sejelas-jelasnya oleh pak Mukti sampai semua anak muridnya hapal dan paham.
"Sampai sini paham!" ujar Pak Mukti pada semua muridnya.
"Paham pak!" jawab semua serempak.
"Kalau begitu saya kasih tes dadakan sekarang, apa kalian bisa dapat nilai 100?" tanyanya.
"Wah berat itu pak!" lagi-lagi semua menjawab serempak atas pertanyaan pak Mukti.
"Itu tandanya kalian belum paham dan menyimak penjelasan saya dengan baik."
Pak Mukti geleng-geleng kepala atas jawaban para muridnya di awal kemudian beliau menjelaskan kembali materi yang baru saja dibahas dan yang paling anteng menyimak adalah Gendis. Dia sama sekali tak keberatan mau pak Mukti menjelaskan sampai subuh sekalian soalnya diam saja tak seperti murid yang lain sudah tak sanggup mendengarkan karena pembahasannya terus berulang.
Bel istirahat akhirnya berbunyi menyelamatkan para murid 11-IPS 3 dari penjelasan Pak Mukti. Setelah Pak Mukti keluar dari kelas semua berhamburan ke kantin kecuali Gendis.
Dia masih anteng diam di bangku, tak ada yang bicara apalagi dekat-dekat dengannya. Entah apa salah Gendis sehingga bisa masuk kelas 11-IPS 3? kelas yang didominasi siswa-siswi otaknya di atas rata-rata.
Menemui Adel di kelas tujuh takutnya malu punya kakak seperti Gendis yang jarang bicara dan kurang paham bersosialisasi. Akhirnya Gendis memutuskan diam saja di kelas dengan ditemani keheningan
"Capek disini," gumamnya mulai bosan.