Abada

Yaraa
Chapter #4

4. Jadi

Mencari tempat wisata lewat ponsel memang agak membingungkan karena Evan sendiri tak terlalu mengerti jadi ia serahkan pada Gendis. Setelah dicari, ternyata banyak informasi yang muncul tapi kebenarannya tidak bisa dipercaya. Masih fokus dengan ponsel untuk mencari kendaraan murah untuk disewa kemudian menemukan beberapa referensi.

Evan ikut mengecek isi ponsel. "Ini kalau naik mobil sampainya berapa lama dan sudah termasuk ongkos pulang pergi kan?” tanyanya beruntun.

Gendis menggeleng dan Evan hanya bisa menghela napas. Dia tidak bisa memutuskan dimana tempat yang cocok untuk pergi liburan khusus untuk keluarganya meski banyak rekomendasi namun tempatnya kurang diketahui sehingga ragu untuk dikunjungi ditambah kendaraan yang akan dipakai juga tak jelas tarifnya.

Evan menatap Juli yang sedari tadi diam entah memikirkan apa.

Juli yang sadar diperhatikan menatap Evan. "Kenapa lihat aku kayak gitu?" 

"Kamu dengar tetangga sebelah liburannya kemana?" tanya Evan mengorek informasi. “Atau mungkin naik kendaraan apa?”

Juli menggeleng. "Aku nggak sempat nanya, soalnya mereka sibuk sama persiapan.”

"Gimana kalau naik bus pariwisata aja?" usul Adel. "Jadi gak usah bingung-bingung kemana tujuannya soalnya bus itu udah tau tempat yang bagus." 

Dan usulan itu membuat semuanya kompak menyetujui daripada tidak jadi, lebih baik opsi ini diambil.

Perlengkapan sudah di bawa mulai dari peralatan mandi, pakaian dan lainnya. Adel yang paling semangat dan mungkin kalau Korea menjadi negara tujuan, sosok Adel akan menjerit-jerit histeris sepanjang perjalanan bahkan bisa pingsan ditempat setelah melihat opa-opa Korea kesayangannya.

Di halaman samping, ada Gendis memandangi tanaman kaktus yang selalu disiramnya setiap hari. Kaktus itu salah satu sahabatnya dikala sepi, berduri dan kokoh walau tanahnya kering. Gendis menyukainya.

"Sudah siap kah ini?" Evan mengecek satu persatu barang bawaan. "Beneran gak ada yang ketinggalan kan?"

"Siap aman!" sahut ketiganya serempak.

Keempatnya keluar rumah dengan menenteng koper masing-masing. Senyuman serta perasaan bahagia menyelimuti, jangan lupakan Juli yang sibuk menenteng tas besar berisi makanan agar keluarganya tidak kelaparan saat di perjalanan nanti.

"Ayah busnya dimana?" tanya Adel begitu sampai di pemberhentian. Ia memperhatikan sekeliling yang sepi.

"Ya…di jalan," balas Evan seadanya.

Lelah menunggu, Evan, Juli, Adel dan Gendis kepanasan karena dua jam lamanya bus belum juga muncul. Apa busnya bodong?

"Kok lama banget sih Adel kan pengen cepet-cepet sampe," keluh Adel menengok kiri-kanan.

"Sabar del, mending kamu makan dulu tuh ayah kamu sudah habis satu timbel nasi," timpal Juli.

Adel mengerucutkan bibirnya tak senang sedangkan Gendis sudah tidak tahan ingin buang air dan sialnya bus belum juga muncul. Apa ayahnya sedang tertipu bus travel? Sebab di berita tv marak pesawat travel penipuan dan sekarang ayahnya sedang tertipu travel, yang membedakan hanya di kendaraannya. Masa bodo dengan teori aneh di kepalanya, Gendis ingin ke toilet secepatnya sehingga tanpa ada yang menyadari kepergian Gendis.

"Ini kemana Gendis, Del?" Juli celingak-celinguk mencari keberadaan anak pertamanya.

Adel duduk begitu saja. "Beli minum kali. Kakak kan nggak suka panas."

"Kamu tenang Jul pasti Gendis baik-baik saja lagipula kalau putar balik pasti pulangnya ke rumah." Evan menambahkan agar Juli tidak cemas terus-terusan.

"Kalau gitu, ayo pulang!" Juli malah bersiap-siap pergi.

Adel bangkit menepuk celananya. "Nggak setuju, gimana kalau busnya datang kan jadi ketinggalan, nggak mau pokoknya."

Evan jadi dilema. Menuruti keinginan Juli untuk pulang Adel akan cemberut kepadanya sedangkan menuruti sebaliknya ya ... berakhir sama.

Lihat selengkapnya