Abada

Yaraa
Chapter #5

5. Menunggu

Pagi-pagi sekali, kesibukan sudah terpampang nyata kembali di kediaman keluarga Evan. Dari Adel yang masih mengemas pakaian tiada akhir, Juli sibuk memasak perbekalan di dapur lalu Evan terus menelpon memastikan keberadaan bus. Kalau Gendis malah duduk santai makan cemilan sambil menonton keanehan keluarganya yang tak kunjung usai.

"Kak, masih ada tas lain nggak dikamar?" tanya Adel yang pusing sendiri membawa baju di kedua tangannya.

"Buat apa?"

"Baju-baju aku nggak muat di dua koper butuh satu lagi, ada nggak tas di kamar kakak?"

"Emang kamu mau pindahan sampai bawa banyak baju segala?"

"Kakak dimana tasnya?" rengek Adel.

Gendis hanya mengangkat bahu, membiarkan Adel yang panik karena sebagian barangnya tidak terbawa semua.

Barang-barang yang hendak dibawa telah dijejerkan dan diabsen kembali, takut salah bawa dan berakhir membeli lagi di tempat tujuan. Kan sayang uangnya—lebih baik ditabung atau diinvestasikan.

"Tempat itu pasti ada perubahan suhu, cuaca, iklim. Pokoknya tidak bisa diprediksi jadi aku harus berjaga-jaga supaya kita siap dalam situasi kondisi apapun," ungkap Adel masih sibuk berkemas. Gayanya benar-benar seperti mau pindah rumah dan tak kembali.

"Satu koper cukup, Del. Bawa seperlunya!" tegas Gendis melihat Adel yang tak mau berhenti memasukkan barang bawaan yang tidak penting.

“Liburannya kan mau lama… ya kan, Ayah?” Adel mencari pembelaan pada Evan yang sedang menatap ponselnya. Evan hanya menjawab dengan dehaman.

“Tuh, deng—” Adel belum sempat melanjutkan ketika Evan menambah, “Tapi satu koper saja yang dibawa.”

Adel langsung cemberut. Yang tadinya senang karena merasa dibela, langsung terjun bebas ke kekecewaan. Kalau tahu begitu, mending dari awal jangan dibela sekalian.

Setelah rumah dikunci oleh Juli, mereka berjalan menuju terminal yang jaraknya tidak terlalu jauh. Pagi itu terminal masih sepi, tidak banyak bus yang mangkal. Sebuah bus kosong tiba-tiba berhenti di depan mereka, tapi setelah diperhatikan lebih jelas, ternyata ada yang mengemudikannya. Embun pagi sempat membuat penglihatan Evan buram hingga hampir jantungan.

"Mau naik, Mas?" tanya si sopir bus ramah.

"Ini tujuannya sesuai aplikasi kan, Pak?" Evan bertanya sesekali memastikan gambar bus di hapenya.

"Memang mau berangkat ke daerah mana?"

"Sindanglaya."

Sopir itu terdiam sejenak, entah sedang mengingat atau memang tidak tahu. Evan sampai menunggu beberapa menit hingga sopir itu berkata, “Oalah, kurang tahu kalau daerah itu, Mas. Saya nggak pernah ke sana.”

Lihat selengkapnya