Abada

Yaraa
Chapter #8

8. Abada

Setelah beristirahat beberapa menit, semuanya kembali melanjutkan perjalanan. Energi Adel kini seperti meledak-ledak; gadis itu melompat ke sana kemari, menjejak akar pohon seolah hutan adalah taman bermainnya sendiri. Setiap helai daun yang bergoyang, setiap cahaya matahari yang menyelinap di antara ranting, membuatnya semakin bersemangat.

Berbeda dengan Gendis. Ia berjalan cepat dengan langkah penuh ambisi, tatapannya fokus menembus rapatnya pepohonan. Dalam kepalanya hanya ada satu tujuan: menemukan plang yang disebutkan Feri. Ia tidak ingin perjalanan ini berlarut-larut lagi. Ia sudah cukup lelah dengan jalan yang seakan tidak ada ujungnya.

Angin yang lewat membawa aroma tanah basah dan dedaunan tua, namun tidak sedikit pun mengurangi tekad Gendis. Sementara Adel terus tertawa kecil di belakangnya, menikmati setiap detik petualangan.

“Nama tempatnya apa, Dis?” tanya Evan sambil memperlambat langkah, napasnya sedikit teratur kembali.

 “Abada. Kota Abada,” jawab sebuah suara—bukan dari Gendis, melainkan Adel yang entah sejak kapan sudah muncul di sisi Evan. 

“Adel, jangan ngaco! Ayah nggak suka,” Evan langsung memperingatkan, menatap Adel tajam.

“Iya, Del, jangan ngarang. Nanti nilai mengarang bebas kamu terjun lho,” sambung Juli, nada suaranya antara menggoda dan menasihati.

Adel mendengus, mempercepat langkah. “Ya udah kalau nggak percaya. Adel cuma kasih tahu.”

“Sekalian tempe sama sambelnya Ibu, masih lapar nih, Del,” celetuk Juli lagi, sengaja memancing.

“Mommy!” seru Adel kesal, wajahnya langsung merengut.

"Bener kok yah kita bakal ke kota Abada," ujar Gendis membenarkan ucapan Adel membuat Adel tersenyum senang lalu berjalan ke arah Gendis.

Evan berhenti sejenak menoleh ke Gendis juga Adel bergantian sementara Juli tidak mempermasalahkan yang penting liburan bersama keluarga tercinta terlaksana sesuai dengan rencana awal.

"Maksud kalian apa kota Abada? Bukannya kita mau ke Sindanglaya?" tanya Evan kebingungan.

"Kota Abada ayah." Gendis mengkoreksi.

"Kita pulang lagi kalau begitu," ajak Evan berubah pikiran. Ia berjalan putar balik.

Adel menghadang jalan Evan. "Nggak boleh. Dad, kita udah jalan jauh masa balik lagi kan jadi dobel capeknya," keluhnya tak setuju.

"Daripada kita salah tempat mending pulang lagi Adel, ya kan Jul, Gendis?" Evan meminta persetujuan.

Namun respon Juli dan Gendis kompak menggeleng.

Evan memijat pelipisnya, bagaimana bisa haluan tempat liburan berubah dalam sekejap dan kenapa anak-anaknya tidak memberitahukan padanya dari awal? kalau begini Evan akan mencari bus lain yang sesuai dengan tujuan liburan keluarganya.

Juli mengusap bahu Evan dan tersenyum manis membuat Evan makin bersalah. "Nggak papa mas, anak-anak juga seneng kok, iya kan?"

"Iya Adel sama kak Gendis seneng kok," seru Adel paling semangat.

"Kamu jangan sedih mas, meskipun beda nama tempatnya kan tujuannya sama yaitu liburan," hibur Juli pada Evan.

Evan tersenyum tipis merasa terharu dengan ungkapan keluarganya. Mereka tidak mempermasalahkan malah memperbaiki keadaan. Evan bersyukur memiliki keluarga kecilnya.

Lihat selengkapnya