Abada

Yaraa
Chapter #21

21. Takut

"Kak Gendis kalau kita gak bisa pulang gimana?" tanya Adel kehilangan semangat setelah beberapa kali mencoba fokus untuk menemukan petunjuk.

"Kata siapa gak bisa?" Gendis bertanya balik. Ia juga berpikir hal yang sama tapi keajaiban itu pasti datang diwaktu tak terduga. "Kata siapa Del?" tanyanya mendesak.

"Kalau kak."

"Del, kita harus yakin dulu, kesulitan apapun pasti dimudahkan," kata Gendis mencoba menyemangati lebih ke dirinya sebab ia juga sudah ingin menyerah.

Adel menghela napas dan duduk di tanah dengan pasrah. Tadinya ia memang yakin namun terkikis juga pada akhirnya setelah mencoba memahami. Gendis juga bingung harus bagaimana antara harus menyelesaikan teka-teki yang sepertinya mudah saja untuk dikerjakan tapi kenyataannya mematahkan. Ia duduk dengan Adel yang terdiam walaupun keduanya tak bicara apapun tapi mengerti satu sama lain.

Di tempat lain, terjebak dalam lubang hitam seorang diri adalah sosok Juli hanya bisa terdiam memandangi beberapa orang yang mulai berprilaku aneh. Mereka tidak nampak seperti manusia pada umumnya yang langsung sekejap berubah kepribadian tanpa bisa diprediksi sehingga menyulitkannya untuk menggali secuil informasi. Ia juga tak bisa sembarangan dalam bertindak jika masih ingin keluar hidup-hidup.

Namun setelahnya, sesuatu mendorongnya untuk berbuat hal tak terpikirkan dalam benaknya sekalipun. Dia bahkan keheranan jika ini memang betul dirinya atau sedang dikendalikan oleh orang lain?

Perlahan, Juli mendekat pada setitik cahaya di paling ujung tanpa ada orang yang bergerombol, perlahan ia menyentuhnya mengakibatkan terbukalah sebuah ruangan yang mirip isi ruang angkasa yang gelap dan hampa tetapi setelahnya, dia seolah ditarik lagi pada kenyataan.

Juli menggeleng pelan saat dirinya masih di tempat yang luas dikelilingi orang-orang sedang memandang langit yang menghitam. Langit itu seolah tertutup kabut yang terus berdatangan sehingga kegelapan menelan seluruh pandangan kemudian dua sosok yang familiar datang mendekat membuatnya Juli tersentak melihatnya.

"Mommy!" teriak Adel antusias bahkan melompat saking senangnya bertemu sang ibu setelah dicarinya sekian lama.

"Adel, kamu ada disini? Bagaimana bisa?"

"Akhirnya aku bisa ketemu mommy. Ayo kita pulang kita kan mau liburan, mom!" jawab Adel melupakan pertanyaan Juli.

"Dis, kamu kenapa diam saja?"

"Kak Gendis lagi sariawan jadi gak suka diajak ngobrol."

Lihat selengkapnya