Menjadi kaku bak boneka bahkan sedikitpun tak leluasa bergerak membuat Gendis menggerutu tanpa suara. Jangankan berteriak, ingin berkata meski satu patah pun tidak mungkin dilakukan. Entah sihir macam apa yang membentengi lalu masalah baru muncul ketika langit berubah gelap tanpa ada tanda-tanda membuat Gendis makin takut sesuatu yang besar akan segera datang.
Benar saja, sesuatu itu datang tapi setelah diperhatikan dengan jelas ternyata sosok anak kecil yang ditemuinya saat pertama kali jalan-jalan dengan Adel. Anak itu memiringkan kepalanya lalu menyentuh lengan Gendis dengan jari laba-laba ajaibnya. Kemudian, Gendis bisa bergerak dan bebas seketika.
“T-terimakasih,” kata Gendis gugup agak menjauh dari jangkauan si anak. Ia kaget dengan sikap anak itu yang mau membebaskan tanpa basa-basi.
Anak itu menggeleng kecil menunjuk langit tapi Gendis tak mengerti maksudnya.
“Cepat pergi sebelum langit kembali berwarna normal,” ujarnya tapi dengan wajah yang datar.
“Kenapa–”
“Pergilah dan temukan keluargamu.”
Sebelum benar-benar melangkah pergi, Gendis kembali menatap ayahnya yang masih terkurung dalam wujud patung. Anak itu seharusnya turut menolong Evan, agar Gendis tidak diliputi kebingungan tentang bagaimana menyelamatkan sang ayah sebelum dirinya disuruh pergi.
“Ayah bisa dengar aku kan?” Gendis mendekat untuk melihat respon Evan tapi ternyata tidak ada reaksi.
Evan hanya bisa berkedip pelan namun Gendis tak menyadari karena fokus untuk memunculkan kertas petunjuk di tangannya yang ternyata nihil.
“Ayah tunggu ya nanti Gendis bakal balik lagi.”
Evan mencoba menggeleng untuk menghentikan namun ia akhirnya hanya melihat kepergian Gendis entah akan kemana. Evan tidak ingin sesuatu terjadi pada anaknya meski ia sendiri tak bisa melindungi dengan keadaan menyebalkan seperti sekarang.
Disampingnya, sosok anak laki-laki kadang berubah jadi laba-laba itu belum juga pergi malah anteng memperhatikan raut wajah Evan. Sebenarnya Evan kesal diperhatikan, tanpa ditolong pula. Anak itu seperti mempermainkannya, dia bisa membebaskan Gendis sedangkan keberadaan Evan sudah persis patung sungguhan. Minimal bantu sesuatu, syukur-syukur dibebaskan.
“Kamu tunggu saja dia akan kembali.” Anak itu malah tersenyum lebar.
Kalau bukan anak makhluk jadi-jadian sudah Evan tegur jadi mode pasrah memang harus dipilih ketimbang membuat kegaduhan di waktu tidak tepat.
Di tempat berbeda, jalan yang Gendis lalui dengan modal nekad sangat tidak disarankan dilakukan oleh siapapun. Sebab pada akhirnya akan tahu apa yang akan terjadi, ya… tersesat. Mencari ibu dan adiknya tak tentu arah bukan hal yang mudah apalagi tempatnya yang asing mana bisa menemukan dengan sekali jalan yang masalahnya hanya tebakan.