Abada

Yaraa
Chapter #23

23. Tertangkap

Langit yang gelap adalah pertanda hujan. Entah mengapa pikiran itu melintas begitu saja dibenak Evan. Ia pun mencoba untuk membayangkan hujan, hingga percobaan yang ke sekian, hujan pun turun dengan derasnya. Gendis yang dari tadi diam pun terkejut dengan cuacanya dan lebih mengejutkan melihat Evan yang sudah tak jadi patung.

“Ayah!” Gendis menghambur memeluk Evan tak peduli hujan deras yang tengah terjadi. “Ayah bagaimana bisa bebas?” tanyanya.

Tapi Evan hanya tersenyum karena ini memang dari kekuatan yang hanya didapatkannya dikota ini. Gendis melepas pelukannya dan menampung air hujan di kedua tangannya. Ia meminum air itu merasakan lega setelahnya.

“Ayo pergi kita harus mencari adikmu dan ibumu,” ajak Evan mulai bertekad. Ia tak mau menyia-nyiakan kesempatan.

“Ayo!” balas Gendis semangat seolah mendapat harapan baru.

Keduanya berjalan sesuai insting karena bermodalkan keyakinan pasti ada jalan terbaik. Evan merasa kalau hujan ini menuntunnya tapi entahlah. Gendis yang berjalan disampingnya tak sadar kalau kekuatan pada tangannya mulai bekerja. Kertas itu muncul begitu saja dan Gendis menggenggamnya tanpa ia sadari.

Gulungan kertas itu menampakkan cahaya keemasan yang cantik membuat penerangan sepanjang jalan dan ya akhirnya menemukan Adel dan Juli sedang terjebak.

“Adel, ibu!” Gendis berlari mendekat tapi ditahan Evan yang sigap memegang tangannya agar berhenti.

“Dis, jangan gegabah dulu!” Evan memperingatkan dan menatap keberadaan Adel dan Juli yang jauh diseberang. “Kalau kita mau kesana harus ada rencana.”

“Tapi–”

“Lihat tanganmu, dis.”

“Tanganku?” Gendis menyadari kertas yang muncul segera membaca isinya yang tergambar raksasa dan laba-laba.

Gendis mengernyit, tak paham artinya lalu diberikan pada Evan yang makin runyam ceritanya. Mengingat kertas itu hanya bisa Gendis baca seorang.

Lihat selengkapnya