Keadaan sekitar masih gelap tapi anehnya, Evan masih bisa melihat jelas jalan yang dilalui seolah dibekali cahaya di setiap langkahnya. Adel yang terluka di kaki berusaha tetap kuat menyelesaikan perjalanan dituntun Juli tanpa kakaknya.
Padahal Adel ingin sekali menarik kakaknya pergi namun ketakutan membuatnya tak bisa melakukan apa-apa. Otaknya kosong seakan tak dirancang untuk berpikir. Hanya rasa menyesal tersisa karena sang kakak tak bisa bersama.
“Del, kita istirahat sebentar disana ya!” ajak Juli memapah Adel hati-hati.
“Mom–”
“Del, kamu kuat kan?” potong Juli sepelan mungkin untuk menyesuaikan langkah lalu duduk selonjoran dekat sang anak
“Kak Gendis gimana?” tanya Adel sedih tapi tak ada jawaban. Ia pun menoleh pada Evan. “Ayah?” dan sama, Evan tak punya jawaban malah diam di sebelahnya.
Meski selamat bukan berarti bahaya sudah berakhir. Evan mencari tempat sembunyi untuk sementara kemudian menemukan Gendis secepatnya apapun caranya.
Satu persatu sudah jadi bagian dari raksasa tinggi namun Gendis yang terjebak justru tak merasakan apapun. Ia tidak tahu apa sebabnya malah menyaksikan segalanya berubah di depan matanya. Rumah awal ditemukan merupakan salah satu tempat aman di kota ini tetapi, letaknya dimana belum diketahui atau kemungkinan buruknya sudah rusak.
Setelah beristirahat beberapa menit, ketiganya lanjut berjalan. Sesekali, Evan memastikan Adel dan Juli tetap di jalur. Kemudian teringat Gendis, mungkin anaknya itu tengah berjuang juga sendirian. Mau menolong pun tak berdaya, ia malah semakin penasaran untuk apa manusia-manusia dikumpulkan di bawah langit gelap.
“Ayah,” ucap Adel terdiam sebentar membuat Juli berhenti.
“Ada apa, Del?”
“Rumah itu disebelah kanan ada pohon aneh memagarinya,” jelas Adel melihat samar-samar sebuah rumah yang familiar.
Evan mengernyit, barusan Adel bicara tentang rumah, rumah yang mana? Disekitar sini tidak ada apapun kecuali tanah lapang dikelilingi bangunan roboh tak berpenghuni lalu kolam mengering yang mungkin dulunya tempat wisata.
Tunggu… tentang tempat wisata. Evan mengingat sesuatu. Kota Abada mungkin sudah tidak layak dihuni tapi beberapa bagian masih bisa digunakan jika tahu cara melihatnya. Disini ada jenis kekuatan yang tidak dirancang untuk dipikir oleh nalar. Rumah awal yang didatangi memang tempat aman tetapi selanjutnya siapa yang tahu.
“Kita harus kemana Del?” Evan pun mempercayai ucapan sang anak.
“Ke kanan.”