Abada

Yaraa
Chapter #25

25. Putus asa

Sudah dibawa ke tempat yang di pagari tulang belulang entah bagaimana caranya membuat Gendis bergidik takut. Ia tidak bisa kabur walau gulungan kertas ditangannya selalu memberi petunjuk.

Di tempat ini apa yang bisa Gendis percaya bahkan dirinya sendiri pun kesulitan. Bahkan tak ada siapapun disini. Apa semua orang membiarkannya hidup sendirian jauh dari orang tersayangnya?

Rasanya Gendis ingin menangis kencang lalu berteriak marah tapi hal itu tidak berguna, lagipula siapa yang akan peduli sebab ini akhirnya. Akhir dari seorang Gendis Pertiwi.

Si raksasa bahagia mendapatkan apa yang diinginkan sejak lama. Ia menunggu dan menunggu hingga terwujud juga pada waktunya. Rombongan orang-orang tersesat dikota Abada ataupun penduduk sebelumnya telah menyumbangkan begitu banyak kekuatan pada si raksasa untuk membuat dirinya tak terkalahkan. Ia hanya butuh orang-orang terpilih agar kekuatannya makin sempurna dan ia telah menemukan orang itu tapi sulit untuk mendapatkan energinya tak seperti kebanyakan manusia umumnya.

Rasa kesalnya makin bertambah ternyata masih tersisa orang selamat di kota ini makin membuatnya murka. Padahal yang datang kesini sudah dipastikan akan menjadi sumber kekuatan dirinya sejak memasuki kawasan namun keluarga yang terdiri dari empat orang anggota itu susah untuk dikendalikan apalagi dihasut. Si raksasa menggeram, bagaimana pun caranya kekuatannya harus sempurna dan semuanya ada dibawah kendalinya.

Salah satu manusia normal mendekat pada Gendis tapi Gendis waspada ketika melihatnya dan tak mau menatap. Ia takut akan terjadi sesuatu karena gulungan kertas itu makin banyak keluar tanpa bisa dikendalikan.

“Kamu mau bebas?” tanyanya dengan ekspresi datar.

Gendis mendongak tapi enggan menatap lama-lama. Ia takut orang itu hanya menjebak bukan menolong. Orang itu kembali bersuara tapi Gendis tak mengatakan apapun seolah bisu.

“Hey kamu mau bebas?” dia kembali bertanya.

Tentu saja Gendis mau, mana ada yang ingin berlama-lama disekelilingnya tulang macam tembok. Gendis ingin menjawab tapi lidahnya kelu atau mungkin tak memiliki suara lagi karena sudah pasrah dengan keadaan.

Orang itu akhirnya menghilang dan ya… Pilihan Gendis untuk tak bicara adalah hal yang tepat–mungkin. Entah apa yang akan terjadi jika ia berbicara ataupun sekadar menatap lama-lama. Intinya tak ada yang bisa dipercaya disini termasuk kekuatannya.

Lelah memikirkan jalan keluar, Gendis mengambil salah satu gulungan kertas yang terbuka. Isinya hanya bergambar tulang dan dibuka lagi dan lagi, gambarnya sama semua. Tentu Gendis ingat petunjuk awal untuk mengambil tulang setelah menemukan raksasa tapi masa iya Gendis harus membawa semua tanpa terkecuali.

Gendis bingung memperhatikan tembok tulang lalu gulungan kertas yang bercecer. Ia ingin kabur tapi tidak bisa.

“Adel andai kamu disini.” Gendis bergumam. Setidaknya adiknya itu membuat telinga Gendis muak mendengar ocehannya ketimbang pusing kebingungan sendirian.

“Apa ada orang?” teriak Gendis mencoba mencari jalan tapi sayangnya hanya kesunyian yang ditemui. “Halo, apa kalian terjebak juga?” lanjutnya tidak menyerah.

Meski tak juga mendapatkan jawaban, Gendis terus menelusuri ujung temboknya. Siapa tahu ada dan pintu keluar itu bisa ditemukan dengan mudah namun lama kelamaan berjalan tembok tulang itu tak ada habisnya. Susunannya yang rapat dan tinggi sehingga sulit untuk melihat keluar. Gendis bisa saja memanjat tapi tekstur pagar tulang itu licin dan itu mustahil untuk dipanjat.

“Dimana ujungnya sih?” Gendis mulai lelah berjalan. Ia pun mencoba mencabut salah satu tulang tapi entah menggunakan lem apa, yang jelas tulang itu tak mau terlepas dengan mudah walau dipukul sampai ditendang sekalipun.

Gendis terengah, ternyata mengambil satu tulang di sarang langsung sangat menguji kekuatan karena mungkin dirinya kurang makan dan tidur jadilah tidak punya tenaga. Hingga akhirnya Gendis menyerah. Ia tidak bisa mencabut satupun tulang meski berbagai cara dilakukan. Pagar ini sangat kuat dan tahan terhadap serangan.

Lihat selengkapnya