Abada

Yaraa
Chapter #26

26. Mimpi

Abada, dikenal dengan kota yang tenang dan menyenangkan. Jika berkunjung kesini tak diragukan lagi keindahannya walau perkotaan namun penataan yang apik membuat dicintai para warganya.

Pemimpin yang baik tentu akan dihormati namun ada saja kabar miring seakan mengacaukan situasi. Pada awalnya, warga ingin bergotong royong membersihkan sebuah perkebunan yang kosong tak terurus untuk dijadikan negri hijau. Mereka akan menanam beberapa sayuran organik atau pohon yang makin membuat kota ini cantik dengan izin pemerintahan tentu saja. Sayangnya, seorang warga yang tak menyukai pemimpinnya, ia melakukan sesuatu dengan kebun itu.

Pertama-tama, memagari seluruh kebun dengan bambu hingga semuanya tertutup rapat lalu menggali dalam sampai sesuatu muncul tak terduga. Bukan harta karun atau lembaran uang tetapi, tulang belulang yang sangat banyak entah hewan jenis apa yang telah terkubur lama disana. Ia hanya warga biasa, pengetahuannya pun terbatas lalu dengan tak sabaran mengambilnya untuk dijadikan barang yang mungkin bisa dijual. Kemudian salah satu tulang itu memiliki bentuk tak biasa mirip kalung dengan aksesoris bulat warna putih. Bahannya tentu dari tulang dan itu membuatnya makin senang bukan main.

“Ini pasti jimat hahaha, aku kaya!” ia tertawa senang. “Aku kaya!” serunya melupakan tujuan awal untuk membuat warga lain murka dengan pemimpinnya sekarang.

Ia mencoba naik setelah mendapatkan apa yang dimau. Ketika pijakannya tak seimbang ia pun terjatuh tepat diatas tulang yang menancap lalu meninggal tanpa ada yang tahu. Kalung itu dalam sekejap membentuk pola aneh membuat sekeliling bersinar dan pagar bambu tadi berubah menjadi pagar tulang yang kuat menancap menutupi seluruh kebun.

Di pagi hari, para warga yang akan melakukan gotong royong kaget dengan pagar tulang yang melingkar. Mereka bertanya-tanya dengan heran namun tak ada yang tahu. Salah satu warga memutuskan untuk melaporkan pada pemimpin mereka untuk meninjau pagar itu sebab tak akan bisa melakukan pembersihan seperti rencana awal. 

“Tulang apa ini kok bisa jadi pagar yang menghalangi kebun?” tanya seorang warga heran sesekali menyentuh permukaan tulang.

“Padahal kemarin tidak begini loh,” timpal warga satunya yang juga kebingungan.

Semua warga yang hadir keheranan dengan kemunculan pagar. Untungnya tak lama si pemimpin datang sama kagetnya ikut meneliti komposisi pagar dan tiba-tiba tulang itu terbuka menampakan isi di dalamnya yang tertutup silau cahaya.

Semua orang kaget dan mundur. Mereka bertanya-tanya dan penasaran dengan kemunculan jalan masuk.

“Apa boleh kita kesana?”

“Kalau rame-rame mungkin aman.”

Ragu menyelinap di hati si pemimpin antara harus mengecek atau membiarkan lagipula kalau sudah begini mana mungkin pembersihan kebun dilakukan.

"Mungkin sebaiknya kebun ini tidak jadi...,"

"Pak ayo lihat ke dalam saja lagipula sudah banyak yang datang buat membersihkan," sahut salah satu warga yang penasaran. 

Si pemimpin pun mengangguk setuju. Ia berjalan lebih dahulu diikuti warga dan ya seakan tersedot semuanya lenyap menyisakan peralatan untuk berkebun. Seorang anak laki-laki sedang asyik memakan ciki berhenti setelah melihat cangkul ayahnya. Si anak hapal betul karena di gagangnya ada tulisan miliknya. 

"Ayah ayo pulang!" anak itu berteriak. "Ayah!" panggilnya sekali lagi dan sayangnya tak ada jawaban membuat si anak panik dan berlari. Lalu kemunculan awan mendung makin membuatnya takut hingga ia menemukan pagar yang ayahnya buat. Ia mendekat namun karena tak bisa melihat dengan jelas jadilah terjatuh.

Ia meringis, matanya berkaca-kaca. Berulangkali memanggil sang ayah tak dijawab lalu sesuatu yang aneh mulai membuat tubuhnya sakit. Ia perlahan berubah menjadi laba-laba dan masuk ke dalam pagar tanpa disadarinya.

Lihat selengkapnya