Abada

Yaraa
Chapter #27

27. Pagar

Setelah dirasa penjelasan cukup, Evan kembali menyalakan mobil untuk melanjutkan perjalanan entah kemana. Rute yang ditempuh cuma mengandalkan keyakinan, kekuatan dan harapan. Mungkin agak mustahil namun dibarengi doa siapa yang tahu, sebab Sang Maha Pencipta adalah sumber utama dari kekuatan setiap insan manusia. Kemudian di seberang, mata Juli menangkap keganjilan susunan pagar yang cukup membingungkan. Pagar yang tak terlihat normal untuk ukuran pagar. Ia menepuk pundak Evan agar menghentikan laju mobilnya.

"Ada apa? Ini belum–"

"Lihat itu disana!" potong Juli menunjuk ke arah yang mana membuat Evan mengernyit.

"Tidak ada apa-apa." Lalu melihat lebih leluasa setelah pintu dibuka tapi tetap saja tak menemukan apapun.

"Del, apa kamu melihatnya?" Evan melirik Adel untuk memastikan tapi Adel hanya menggeleng.

"Memang mommy lihat apa?"

Juli bingung juga padahal sangat jelas kalau disampingnya ada susunan pagar yang melindungi sesuatu. Masa Juli sendirian melihatnya lalu Evan dan Adel mana mungkin tak melihat hal yang sama persis di depan.

"Disana ada pagar, kalian yakin tidak melihat?" Juli sampai menunjuk pagar menjulang itu dengan gamblang.

Evan sama sekali tak mengerti."Pagar? Pagar apa?"tanyanya.

"Mom, aku gak liat apapun cuma ada tanah yang kosong," tambah Adel ikut memperhatikan.

Apa cuma perasaan Juli saja? Terkadang, kekhawatiran berlebihan sering memunculkan hal tak masuk akal.

"Mom, mau kita mengecek pagarnya supaya lebih yakin?"

"Ayo, kalau kamu penasaran karena aku sama Adel gak liat apapun," ajak Evan membuka pintu.

Juli menggeleng. "Lanjut jalan aja."

"Nggak mom kita harus lihat, ya kan dad?"

"Iya ayo!"

Ketiganya turun dengan Juli memimpin jalan. Adel yang kebingungan sama halnya dengan Evan tapi jika itu bagian dari petunjuk lalu membawa pada jalan keluar harus dipastikan kebenarannya.

Pagar itu tinggi sehingga tak bisa melihat ke dalam lebih jauh namun tetap di mata Evan dan Adel tak menampilkan apapun.

Lihat selengkapnya