"Mom, itu beneran kak Gendis kan?" bisik Adel haru dan Juli mengangguk membenarkan.
"Dia selamat tapi kenapa dia seperti merasakan sakit?" tanya Juli mulai khawatir.
Adel menoleh pada Evan. "Daddy," panggilnya sedangkan Evan tak bisa melakukan apa-apa. Orang di samping Gendis sepertinya mirip manusia tapi kenapa melakukan hal aneh pada anak perempuannya?
Sosok itu terus membacakan mantra hingga mantra itu berakhir tidak ada perubahan yang signifikan pada Gendis. Evan ingin maju tak bisa karena banyak orang tiba-tiba berkumpul memenuhi tempat jadi Evan, Juli dan Adel ada di barisan paling belakang. Mereka terus menatap ke depan tanpa berkedip sedangkan Evan sudah tak sanggup melihat pemandangan anaknya di depan sana.
"Mas, kita tidak bisa sembarangan pergi kesana," kata Juli setelah memalingkan wajah pada pemandangan di depan.
"Daddy lakukan sesuatu kasihan kak Gendis," mohon Adel tak tega jika sesuatu terjadi pada kakaknya jika terlalu dibiarkan lebih baik segera menyelamatkan daripada menyesal.
"Aku akan maju," ucap Adel akhirnya karena ibu maupun ayahnya malah diam saja melihat situasi yang mungkin akan semakin buruk.
"Adel jangan!" Evan menahan Adel agar tak gegabah. Juli juga mengangguk untuk menghentikannya maju.
"Tapi kak Gendis."
"Kita akan kesana Del tapi harus lihat situasi dulu," jelas Evan yang melihat celah untuk menyelinap. Bingung untuk maju tak sengaja Juli menyentuh pundak salah satu orang lalu kejadian tak terduga mengejutkan ketiganya. Orang itu berubah dalam bentuk cair berwarna hitam pekat lalu meresap masuk ke dalam tulang. Juli tercengang dengan perubahan itu dan Adel berusaha menjauh dari cairan hitam pekat yang tersisa. Karena masih mematung Evan menggenggam tangan Juli agar segera bergerak dan Adel juga memegang satunya untuk melanjutkan langkah. Adel makin waspada jika sampai berdekatan dengan orang-orang sekitarnya nanti bukan selamat malah menyerahkan diri.
Ini tidak mudah, Adel ingin cepat pulang.
Makin maju jalan semakin susah karena orang-orang itu makin merapatkan barisan sampai Evan berkeringat dingin saat hampir menyentuh bahu orang disamping yang tak sengaja bergerak kearahnya. Untung tarikan dari Juli membuatnya bisa menghindar. Ketiganya terus maju namun harus terantuk sesuatu sehingga harus menghentikan langkah.
"Jul, ini apalagi?" Evan heran dengan dinding tak kasat mata menghalangi lagi.
"Ayah kenapa berhenti?" tanya Adel merasa tak lagi bergerak.