Di antara kerumunan yang menakutkan dan penuh desakan panik, seseorang yang dikenal tiba-tiba mendekat. Wajahnya samar di antara bayangan orang-orang yang bergerak tanpa arah. Namun perlahan, sosok itu semakin jelas di mata Gendis yang kesadarannya sempat menipis. Pandangannya sempat berputar seperti kabut menutupi mata, tapi kini mulai bisa menyesuaikan kembali.
Sosok yang mendekat itu adalah bocah laki-laki yang pernah ia lihat sebelumnya—bocah yang mampu berubah wujud. Anak itu berjalan dengan langkah hati-hati, matanya terus mengawasi sekeliling seolah tahu betul bahwa satu kesalahan kecil saja bisa berakibat fatal.
Ia tetap mendekat meskipun jelas berbahaya jika raksasa itu sampai melihatnya.
Gendis menggeleng cepat. Gerakannya kecil, tapi penuh makna.
Pergi.
Itulah yang ingin ia sampaikan tanpa suara. Namun bukannya menurut, bocah laki-laki itu justru semakin mendekat.
Langkahnya bahkan semakin cepat.
Entah apa yang ada dalam pikirannya, tetapi satu hal yang jelas bagi Gendis—itu keputusan yang sangat buruk. Mendekati bahaya di depan mata bukanlah tindakan yang masuk akal.
Belum sempat Gendis memperingatkan lagi, suara kecil itu terdengar.
“Ayah.”
Satu kata sederhana.
Namun dampaknya seperti petir yang menyambar kesadaran Gendis.
“Hah?”
Gendis membeku. Dadanya seolah berhenti berdetak sejenak.
Ia menatap bocah itu, lalu perlahan pandangannya bergeser ke arah raksasa yang berdiri tak jauh dari sana.
Syok.
Jadi… bocah laki-laki itu menyebut raksasa itu ayahnya?
Pikiran Gendis berputar cepat mencoba memahami potongan-potongan kejadian yang selama ini terasa aneh.
Kalau begitu…
Apakah semua ini memang rencana mereka?
Apakah kejadian ini adalah jebakan yang sudah dirancang untuk keluarga Evan?
Tapi kalau benar begitu, satu pertanyaan lain muncul dan membuat kepalanya semakin pusing.
Mengapa keluarga Evan?
Apa yang sebenarnya mereka inginkan?
“Tolong… seseorang jelaskan sesuatu,” gumamnya dalam hati dengan napas terengah.
Ia memaksa tubuhnya bergerak. Meski pusing masih mengganggu, Gendis berdiri dengan susah payah.
“Aku tidak bisa membiarkan ini terlalu lama.” Suaranya serak tapi tegas.
“Cepat, kamu harus pergi!” Bocah laba-laba itu kembali bersuara.
Dengan sisa tenaga yang ia miliki, Gendis menggerakkan tangannya. Sesuatu seperti jaring tiba-tiba muncul, membentang di udara seperti benang-benang energi yang menyatu. Jaring itu membentuk penghalang yang cukup kuat, melingkari tubuh Gendis seolah menjadi benteng sementara.
Namun bocah laki-laki itu tidak terlihat takut.
“Kamu yang harus pergi,” katanya pelan.
“Di sini lebih berbahaya.”
Gendis mengerutkan kening.
“Dia ayahku.”
Lagi. Kata ayah itu kembali terdengar.
Kesabaran Gendis mulai menipis. Emosi yang sejak tadi tertahan perlahan menumpuk seperti air di bendungan yang hampir jebol.