Abada

Yaraa
Chapter #30

30. Abada

Ternyata setelah diperhatikan lebih jelas, sebuah hiasan pita kecil bening mengunci gulungan. Awalnya, Gendis tak terlalu melihatnya dan semakin besar keraguan untuk membuka isinya.

Setelah terdiam, Gendis pun memberanikan untuk membukanya lalu tulisan langsung muncul dengan bait tercetak besar 'Abada' disusul gambar seorang anak laki-laki dan mungkin bersama ayahnya ditampilkan beberapa detik kemudian, menghilang seluruhnya. Gendis hanya berkedip menyaksikan kertasnya hilang dalam sekejap padahal belum menangkap jelas apa maksudnya.

"Tulisannya Abada," lalu ia memejamkan mata untuk mengingat. "Anak laki-laki dan ayahnya atau apa sih tadi?" gerutunya kesal dengan tulisan beberapa detik.

Namun ketika tatapannya beralih, muncul sosok Adel tengah diapit kedua orang tuanya yang seperti ada kejanggalan dari ekspresi sang adik walau dari kejauhan. Gendis yakin, Adel tak mungkin ketakutan karena kedua orang tuanya disampingnya kan?

Tiga orang itu berjalan menuju arah berlawanan membuat Gendis khawatir tanpa alasan. Ia akhirnya bangkit setelah mengumpulkan tenaga untuk segera menyusul. 

Sedangkan ditempat lain, Raksasa itu benar-benar berubah lebih seram. Kini tingginya bahkan menyerupai tiang listrik dan mungkin lebih tinggi lagi lalu dengan enteng menyingkirkan bocah laba-laba seolah meniup daun kering yang jatuh dari pohon. Namun sang bocah terus melawan hingga batasnya habis. Ternyata aksinya itu tak luput dari pandangan Evan, ia ikut membantu dengan menurunkan hujan yang cukup deras untuk mengaburkan pandangan raksasa. Tentu hal itu bukan pertanda baik, sebab raksasa itu harus kembali ke bentuk awal dan bocah laba-laba itu tersenyum akan kekalahan si raksasa.

"Perbuatan siapa ini?" geramnya dan Evan langsung maju tanpa ragu meski orang-orang sekitar makin panik.

"Kekuatanmu menghilang?"

"K-kau!" raksasa itu menatap Evan penuh permusuhan dan dimanfaatkan Evan untuk mengkode Juli untuk menolong si bocah yang sudah kembali normal. Juli yang paham langsung membawanya ke pinggir. Anak laki-laki itu terus bergumam ayah lalu Juli tak bisa berbuat banyak tapi setelah ia perhatikan lebih dekat anak itu agak mirip... Evan.

Apa jangan-jangan? Juli menggelengkan kepalanya. Kadang pikirannya agak kacau di kondisi tidak tepat.

"Apa kamu merasa sakit?" tanya Juli tapi si anak tak menjawab apapun. Juli menempelkan telapak tangannya pada dahi si anak.

"Aku tidak sakit," jawabnya lalu bangkit dan akan pergi tetapi cekalan Juli menghentikan langkahnya.

Juli masih memegang tangan si anak. "Kamu tunggu disini, suami..." Juli tak jadi melanjutkan kata sebab si anak malah terlihat marah. Sebagai gantinya, ia memberikan satu kerikil ajaib pada anak itu.

"Apa ini?"

"Untuk senjata kalau kamu terancam bisa lemparkan ke musuh yang mendekat," jelas Juli tersenyum.

"Lalu?"

"Lalu... ya musuhnya mati," tambahnya enteng.

"Aku tidak mau!" Anak itu memilih mengembalikan. Yang mana Juli heran dengan sikap yang seharusnya anak itu tunjukkan. Oh, hampir lupa, Juli sama sekali tidak tahu nama anak laki-laki ini dan baru akan menanyakan, dia sudah melesat pergi. Tapi perhatiannya tertuju pada Adel yang berjalan–bersamanya. Juli mengucek mata untuk memastikan tak sedang berimajinasi padahal Evan sedang berjuang disana dengan anak laki-laki.. ah sudahlah anak laki-laki itu sulit diberitahu. Tanpa ba-bi-bu Juli segera menyusul meski kekacauan tak bisa dihentikan.

"Adel!"

Dua suara memanggil bersamaan membuat Adel reflek menengok. Kakak dan tunggu–ibu aslinya. Ternyata benar, sekarang Adel bukan bersama kedua orang tuanya dan kalau bukan, mereka siapa? Perlahan pertanyaan itu terungkap membuat Juli mematung begitu juga Gendis. Juli mengenalnya orang itu adalah tetangganya waktu itu yang terburu-buru ingin liburan dan mengapa dia bisa berubah menjadi keluarga Evan.

"Mommy!" panggil Adel lega tapi kakinya memaku seakan disetting untuk diam ditempat. Ia ingin berlari ke Gendis tapi sama saja hasilnya.

Lihat selengkapnya