"Gue kurang apa lagi sih, Van? Sampe lo nggak peduliin gue? Fokus lo ke hp mulu dari tadi!"
Suara Aluna bergetar, bukan karena dinginnya AC di coffee shop kawasan Senopati itu, tapi karena rasa sesak yang hampir meledakkan dadanya.
Di depannya, Vano, cowok dengan jaket denim belel yang dulu dianggap Aluna sebagai simbol 'cowok indie yang tulus', malah asyik memainkan ponselnya.
Ponsel yang, omong-omong, cicilannya baru saja dilunasi oleh Aluna bulan lalu.
"Lo nggak kurang apa-apa, Lun. Lo-nya aja yang terlalu sensitif," jawab Vano santai, matanya bahkan tak beralih dari layar. "Gue minta tolong pinjem kartu debit lo dong, buat bayar biaya servis motor. Ntar gue ganti kalau proyekan gue tembus."
Aluna tertawa getir. "Proyekan? Proyekan yang mana, Van? Yang lo bahas dari tahun lalu tapi nggak pernah ada wujudnya? Karena dasarnya emang nggak ada karena lo sebenarnya pengangguran?" sengit Aluna membuat Vano akhirnya menatap padanya. "Gue capek, Van. Semalam gue lihat mutasi rekening gue. Hampir lima puluh juta keluar buat kebutuhan lo dalam tiga bulan ini. Dari bayar kosan lo, cicilan HP, sampai makan lo tiap hari. Lo nganggep gue pacar atau mesin ATM?"
Vano menghela napas panjang, memasang wajah tersinggung andalannya. "Ooh, jadi sekarang lo itung-itungan? Oke. Gue tahu gue miskin, Lun. Nggak kayak keluarga lo yang punya gedung di mana-mana. Gue kira lo tulus, ternyata lo sama aja kayak cewek lain. Lo mau pamer kekayaan di depan gue makanya gini?"
Ini dia. Senjata andalan Vano: Gaslighting. Setiap kali Aluna menuntut kejujuran atau tanggung jawab, Vano selalu memutarbalikkan fakta seolah-olah Aluna-lah si antagonis kaya raya yang menindas rakyat kecil.
"Jangan bawa-bawa status sosial, Van. Ini soal respect!" Aluna menggebrak meja, nggak peduli lagi dengan tatapan pengunjung lain. "Gue tulus sama lo! Gue rela nggak beli tas baru demi bantuin lo. Tapi apa balesannya? Semalem gue lihat lo check-in di hotel sama cewek lain pakai kartu kredit gue yang lo pinjem katanya buat 'beli perlengkapan kuliah'. Lo bener-bener nggak punya malu ya?"
Skakmat. Wajah Vano langsung berubah pucat, lalu mengeras. Dia nggak menyangka Aluna yang biasanya 'manut' dan bucin bakal mengecek riwayat transaksi sedetail itu.
"Gue bisa jelasin, Lun. Itu... itu temen lama gue, dia butuh tempat istirahat karena-"
"Cukup, Van. Gue bego, tapi gue nggak sebego itu buat percaya alasan sampah lo lagi." Aluna menarik napas dalam, berusaha menahan air mata yang sudah di ujung pelupuk. "Kita putus. Dan jangan pernah berani hubungin gue lagi. Semua barang yang lo pakai, anggep aja itu sedekah dari gue buat kaum mokondo kayak lo."
Aluna menyambar tas Chanel-nya, meninggalkan Vano yang mulai meracau memanggil namanya. Begitu sampai di parkiran dan masuk ke dalam mobil Porsche-nya, barulah pertahanan Aluna runtuh.
Dia menangis sesenggukan di balik kemudi. Bukan karena kehilangan Vano, tapi karena dia merasa sangat bodoh. Bagaimana bisa dia, Aluna Putri Adiguna, yang IPK-nya hampir sempurna dan calon pewaris bisnis properti, bisa diperdaya oleh cowok parasit seperti Vano selama dua tahun?
"Vano sialan!"
***