Abangku Yang Perfeksionis

Wini Fiani Siregar
Chapter #2

Chapter 2. Perdebatan

Makan malam itu terasa seperti simulasi neraka bagi Aluna, meskipun wagyu steak di depannya punya tekstur selembut awan. Sepanjang acara, Dewa Andara bersikap sangat sempurna. Terlalu sempurna.

Dia tidak cuma ahli cari topik pembicaraan tentang ekonomi makro sama Bang Aldi, tapi juga sesekali melempar perhatian kecil ke Aluna, seperti menggeser botol air mineral atau menanyakan apakah suhu ruangan terlalu dingin untuknya.

Bagi cewek lain, diperlakukan begitu oleh pria sekelas Dewa mungkin bakal bikin baper tujuh turunan. Tapi bagi Aluna? Itu semua terasa seperti red flag raksasa.

Begitu sampai di parkiran rumah setelah diantar Aldi, Aluna langsung meledak. Dia membanting pintu mobil setelah turun, membuat Aldi yang baru keluar dari mobil terlonjak kaget.

"Lo apa-apaan sih, Bang?!" Aluna berbalik, menatap Aldi dengan mata menyala di bawah lampu pilar mansion mereka.

Aldi mengunci mobilnya, ekspresinya tenang seolah sudah menduga ini bakal terjadi. "Apa-apaan apanya? Kita cuma makan malam, Lun. Chill kali."

"Jangan anggap gue bego ya! Gue tahu itu bukan sekadar makan malam bisnis," semprot Aluna, suaranya melengking di keheningan malam Menteng. "Klien bisnis mana yang natap adik rekannya kayak mau nerkam gitu? Dan lo, lo sengaja kan nyuruh gue dandan buat dipamerin ke dia? Apa? Lo mau dapet investasi gede dari Andara Group terus tumbalnya gue?"

Aldi menghela napas, dia berjalan mendekati adiknya dan mencoba memegang bahu Aluna, tapi Aluna menepisnya kasar.

"Lun, dengerin gue. Dewa itu orangnya baik. Dia bukan tipe cowok kayak Vano yang cuma modal tampang sama kata-kata manis tapi kantongnya bolong. Dewa itu mandiri, dia punya integritas, dan yang paling penting, dia bisa jaga lo."

"Gue nggak butuh dijaga!" tukas Aluna, berteriak frustrasi. "Gue butuh waktu buat napas, Bang! Gue baru putus tiga hari yang lalu dari cowok yang udah ngerampok mental dan duit gue. Terus sekarang lo dengan entengnya mau 'jual' gue ke temen tajir lo itu? Lo mikir nggak sih perasaan gue?"

"Gue justru mikirin perasaan lo, makanya gue gercep!" balas Aldi tak mau kalah, suaranya mulai meninggi. "Gue nggak tahan lihat lo nangis tiap malam cuma gara-gara cowok sampah kayak Vano. Gue mau lo lihat kalau di luar sana masih ada laki-laki berkualitas. Laki-laki yang nggak bakal minta duit lo buat bayar cicilan HP! Laki-laki yang levelnya sama kayak kita!"

"Level? Oh, jadi ini soal level?" Aluna tertawa sinis, air mata mulai menggenang lagi. "Mas Dewa emang kaya, dia emang 'level' kita. Tapi siapa yang menjamin dia nggak bakal nyakitin gue dengan cara lain? Orang kaya itu biasanya lebih licik, Bang. Mungkin dia nggak butuh duit gue, tapi dia mungkin butuh 'pajangan' buat status sosialnya. Gue nggak mau jadi pajangan kayak piala, Bang. Gue mau jadi manusia!"

"Siapa yang bilang lo bakal jadi pajangan? Dewa nggak kayak gitu, Lun. Dia beneran nanya soal lo sejak dia lihat foto lo di meja kerja gue setahun lalu," ujar Aldi mencoba melembutkan suaranya. "Dia nunggu lo putus sama si parasit itu. Dia punya intensitas yang serius."

Lihat selengkapnya