Abdi Ndalem

Tinta Teje
Chapter #1

Satu

Malam mulai menghitam pekat. Terangnya bulan tertahan oleh awan bergumpal yang sedari tadi bersiap untuk memuntahkan air hujan. Tak satupun bintang nampak, memancarkan cahaya kerlap-kerlipnya. Suara petir menggelegar. Bertalu-talu. Kadang di ufuk timur dan sesekali di belahan barat, tempat sang surya beranjak sirna.

Tetes demi tetes, rintik demi rintik, air hujan perlahan membasahi bumi Krapyak. Iramanya semakin cepat tetapi tak menurut pola. Dalam sekejap, muncul genangan di sana-sini. Angin bertiup kencang melambai-lambaikan daun rerimbunan yang telah mengakar kuat dalam tanah. Beberapa terlihat nyaris tumbang. Pepohonan kecil dan tanaman perdu bahkan beterbangan tak tentu arah. Tanpa menunggu detik menjadi menit, hujan itu telah sah dinamai sebagai “hujan badai”. 

Seorang paruh baya berusaha bangkit dan berdiri. “Subhanallah!” ucapnya spontan. Sebuah petir memecah bentangan langit di hadapannya. Agak ragu ia mengangkat kedua tangan. Bibirnya bergerak komat-kamit tak jelas. Mungkin hendak merapal mantra penjinak petir. Kedua tangannya kini bersesuaian, menempeli dua daun telinganya. Sebuah azan merdu nan syahdu telah dikumandangkan.

Sofi semakin mendekati Laili. Tangannya meraba-raba lantai, berharap agar kepalanya tak terbentur dinding. Sesekali nampak cahaya lilin berseliweran dengan suara nyaring yang keluar dari bibir pemegangnya. Redaksinya kurang jelas, terbaur dengan gemericik air hujan yang terjatuh di atas seng.

“Ihh… apa-apaan sih, Mbak?” Laili geli merasa seniornya berbuat tak lazim. Digapainya apapun yang tersentuh, menghibur diri bahwa mereka tak benar-benar hanya berdua. “Ih Mbak, geli tahuu… Mau ngomong apa sih, pakai bisik-bisik segala? Gelap-gelap begini, gak bakalan pada dengar juga. Orang di luar lagi hujan petir juga.“

“Iya, sudah mau ngomong ni. Agak merapat sini dong! Aku malu kalo sampai ada yang dengar… hehe, “ kekeh Sofi. Untung bibir manyunnya tersamar gelap gulita. Kabar terbaru menyatakan bahwa SUTET dekat perempatan masuk desa Krapyak baru saja tersambar petir. Terjadi hubungan pendek dan listrik pun padam.

“Lail…, emmm…, besok ajarin mbak internetan ya?” pinta Sofi ragu.

Lega sudah batin Sofi menyatakan keinginan yang terpendam selama beberapa bulan belakangan ini. Bagai mengeluarkan ingus kental yang menyumbat hidung dan tenggorokan. Rasanya plong.

Ha? Internet? Apa aku nggak salah dengar? Batin Laili mengurai tanya. “Telingaku nggak salah kan dengan apa yang aku dengar barusan?” Tanyanya pada Sofi pelan-pelan. Laili masih menduga pinta tadi hanyalah lelucon dari seorang Sofi yang kharismatik. “Memang apa yang mau Mbak lakukan dengan internet?” sambungnya lagi setengah menggoda. Setengahnya lagi amat tak percaya.

“Ya pokoknya ada lah…, “ jawab Sofi singkat. Tak mau berlama-lama ia diinterogasi adik tingkatnya. Bukannya ja-im, tetapi hanya risi saja. Entahlah, dimana letak kerisiannya. Hanya saja, ada semacam perasaan aneh yang menggelayuti pikirannya. Ada keganjilan yang memaksanya untuk terus berpikir ulang. Ada ambiguitas. Namun, dia tak dapat menerjemahkannya dengan pasti. Baginya, internet memang bukanlah hal tabu. Setiap juniornya selalu memasukkan bab update status, nge-wall, nge-twit, confirm, dan segala peristilahan jejaring sosial lainnya dalam sesi ngerumpi sebelum salat berjama`ah. Paling tidak, ia sudah familiar dengan istilah facebook, twitter, yahoo, google, dan lain-lain. Ya, meski ia belum pernah sekalipun mencobanya.

Gerak awan semakin cepat. Dinginnya semilir angin yang berhembus berhasil menstimulasi reseptor suhu di sekujur tubuh. Bulu kuduk pun berdiri. Sebagian santri kini terlihat sibuk mengenakan jaket. Sebagian yang lain telah terlelap sejak hujan agak reda.

Suhu ruangan malam itu semakin menggila. Dingin sekali. Tak ada yang tadarus al Qur`an. Tak ada pula yang belajar malam. Yang ada hanya krik jangkrik dan nyanyian katak yang bersahut-sahutan. Yang memecah kesunyian. Yang menyajikannya seolah dunia ini hanyalah panggung pentas fabel semata.

***

Pagi menjelang siang. Warnet Lia tak begitu ramai pengunjung. Kacanya yang transparan menampakkan dua wajah operator muda yang tengah sibuk bermain games. Sesekali mereka berhenti memencet tombol keyboard dan berpaling pada paras ayu Laili. Tak lama merespon, salah seorang dari keduanya memersilakan Laili dan satu teman wanitanya untuk duduk.

“Maaf Mbak, tunggu sebentar ya! Silakan nikmati dulu tayangannya. Majalah dan surat kabar ada di laci meja di depan Anda,” ujar seorang operator bercelana jins biru skinny. Ketat sekali. Dari name tag yang tersemat di kemejanya, semua orang bisa tahu kalau ia bernama Desi. Desi Herawati.

“Nunggu bentar nggak papa ya, Mbak?” tanya Laili. Sebenarnya nadanya lebih terasa meminta.

“Iya. Nggak masalah... Kamu sering ke sini ya?” Sofi asal menebak.

“Iya Mbak. Warnet ini favoritku. Biliknya banyak. Jadi gak perlu lama menunggu….”

           Belum usai Laili merampungkan kalimatnya, dua orang muda mudi keluar dari bilik nomor 24. Mereka terlihat sangat akrab dan mesra. Bergandengan tangan. Erat.

           “Ayo, Mbak. Sekarang!” Laili mengejutkan Sofi. Mereka berdua bangkit dan Laili lekas mencangklongkan tas berisi binder dan pulpen tinta biru. Laili menunjukkan kartu bertuliskan “Lia access card” nomor 24 kepada Sofi. Keduanya kemudian berjalan melewati bilik nomor 21, 22, dan 23, yang kesemuanya tertutup rapat.

           Laili lekas mengajari Sofi cara log in reguler. Ia mengenalkan Google Chrome. Berbagai kosakata baru keluar berkali-kali dari bibirnya yang memang jauh lebih paham di bidang teknologi informasi ketimbang Sofi. Dan kini, Sofi mulai bosan mendengar kuliah Laili yang terlalu teoretis. Sial!

           Laili menarik tangan Sofi dan menaruhnya di atas keyboard. “Mbak, kalau pingin cepat bisa dan nggak lama-lama di sini, mbak mulai akrab deh sama keyboard ini!” Laili menatap barisan tombol QWERTY itu dengan tajam. Kepalanya mengangguk pelan. Ia berusaha membangun rasa percaya diri Sofi. Bagaimana tidak? Sofi benar-benar belum akrab dengan benda satu ini. Bisa-bisa butuh waktu satu jam untuk mengetik teks proklamasi secara utuh.

           Dan benar saja dugaan Laili. Sofi hanya mampu mendayagunakan jari telunjuknya untuk memencet tombol. Teknik sebelas jari. Tiap huruf yang mesti diketiknya harus melalui pencarian yang ketat. Seolah huruf-huruf itu akan berpindah tempat jika tak lekas ditemukan. Diketiknya kata g-u-g-l-e pada address bar. Klik! Surprise… yang keluar adalah sebuah blog berbahasa Inggris milik John Gugle. Kerlap-kerlip glitter text berpadu dengan iklan bergambar bule setengah telanjang membuat Sofi agak salah tingkah atas kebodohannya. Ia benar-benar bingung harus bagaimana.  

           Sontak Laili mengembalikan tampilan ke laman sebelumnya. Wajahnya terkekeh ringan melihat Sofi untuk pertama kalinya terlihat bodoh dan tak berdaya.

Lihat selengkapnya