Absen Maghrib

A.A.Pusung
Chapter #2

BAB 1 SEKOLAH YANG MENGHITUNG ANAK PULANG

BAB 1

SEKOLAH YANG MENGHITUNG ANAK PULANG

Hari pertama di SMA Puspa Bangsa, aku datang dua puluh menit lebih awal dan tetap merasa terlambat.

Mungkin karena hampir semua siswa sudah berada di halaman. Mungkin juga karena bangunan sekolah itu membuatku merasa seperti masuk ke tempat yang sudah lama mengenalku, sementara aku sama sekali tidak mengenalnya.

Aku berdiri sebentar di depan gerbang utama sambil memeluk map pendaftaran di dada. Udara Wanasari masih dingin. Bau tanah basah bercampur asap gorengan dari warung seberang jalan. Di kejauhan, hamparan sawah berkilau terkena matahari pagi.

Seorang anak laki-laki menyenggol bahuku dari belakang.

“Kalau mau masuk, masuk saja. Jangan berdiri di situ.”

Aku buru-buru bergeser. “Maaf.”

Ia sudah berjalan pergi sebelum aku sempat melihat namanya.

Beberapa siswa lain melirik seragamku yang masih terlalu rapi, lalu kembali mengobrol. Anak pindahan memang mudah dikenali. Sepatunya belum berdebu, lambang sekolahnya baru dijahit, dan wajahnya seperti sedang mencari petunjuk di setiap papan pengumuman.

Seorang guru piket di dekat gerbang memeriksa mapku.

“Adinda Larasati?”

“Iya, Pak.”

“Kelas sebelas?”

Aku mengangguk.

“Masuk lewat kantor tata usaha. Lurus, lalu belok kanan setelah aula. Jangan lewat gerbang samping.”

Aku menoleh ke arah yang ia maksud. Di sisi kiri halaman, setelah deretan pohon ketapang, tampak gerbang besi sempit dengan cat hijau mengelupas. Di baliknya berdiri bangunan tua dua lantai. Semua jendelanya tertutup.

“Kenapa?”

“Gerbang itu tidak dipakai.”

Jawaban itu membuat percakapan berhenti, tapi tidak menjelaskan apa-apa.

Aku mengucapkan terima kasih dan berjalan menuju kantor tata usaha.

Kompleks SMA Puspa Bangsa lebih besar daripada yang terlihat dari jalan. Gedung baru bercat krem menghadap lapangan upacara. Di belakangnya, terpisah oleh selasar beratap seng, berdiri gedung lama yang kelihatan seperti bagian sekolah yang belum disentuh renovasi.

Dindingnya kusam. Beberapa bagian ditumbuhi lumut. Jendela kayunya tinggi dan sempit, dengan pantulan di kacanya yang tampak terlalu gelap untuk pagi secerah itu.

Tanpa sadar, langkahku menjadi lebih cepat.

Di kantor tata usaha, seorang ibu berkacamata menyerahkan jadwal, kartu pelajar sementara, dan selembar denah sekolah. Hasil fotokopinya sangat pucat. Gedung lama di sana hanya tampak seperti noda samar.

“Kelasmu XI-B,” katanya. “Lantai dua gedung baru. Wali kelasmu sudah diberi tahu.”

Aku menerima berkas itu. “Hari ini langsung masuk?”

“Langsung. Jam pertama hampir mulai.”

Kulirik jam di ponsel. Masih ada dua belas menit.

“Jam sekolah di sini beda?”

Ibu itu menatap jam dinding di atas lemari, lalu ponselku.

“Jam aula suka telat. Jangan dipakai patokan.”

“Berapa telatnya?”

“Tujuh menit.”

Ia menjawab terlalu cepat, seolah sudah sering ditanya.

Aku tertawa kecil. “Aneh juga. Kenapa tidak dibetulkan?”

Tawaku berhenti sendiri. Tak seorang pun ikut tersenyum.

Ibu itu merapikan tumpukan formulir.

“Sudah pernah.”

Sebelum aku sempat bertanya lagi, seorang staf memanggilnya dari ruang belakang. Ibu itu menunjuk pintu, tanda percakapan selesai.

Aku keluar sambil membawa denah.

Aula berada di ujung koridor. Aku sengaja melewatinya untuk melihat jam yang dimaksud. Ruangan itu kosong, hanya berisi kursi plastik bertumpuk dan panggung kecil dengan tirai merah kusam. Di atas pintu, jam bundar menunjukkan pukul 06.43.

Ponselku menunjukkan 06.50.

Tepat tujuh menit.

Tidak ada yang istimewa dari jam rusak. Yang membuatku berhenti justru jarum detiknya. Jarum itu bergerak normal—tidak tersendat, tidak mati, dan detaknya tetap terdengar jelas.

“Kalau kamu menatapnya terus, waktunya tidak akan berubah.”

Suara serak dari belakang membuatku menoleh.

Seorang lelaki tua berdiri sambil membawa sapu lidi dan gulungan selang. Seragam cokelatnya sudah pudar. Di saku dadanya ada bordir nama: WIRYO.

“Saya cuma memastikan jamnya rusak,” kataku.

“Rusak itu kalau mati. Itu masih jalan. Cuma telat.”

Aku menunggu penjelasan, tetapi Pak Wiryo tidak mengatakan apa-apa lagi.

“Pak Wiryo, ya?”

Ia mengangguk.

“Saya Adinda. Murid baru.”

“Tahu.”

Lihat selengkapnya